Rupiah Ditutup Rp17.758 per USD, Melemah 0,83 Persen Sepanjang Pekan

Rupiah Ditutup Rp17.758 per USD, Melemah 0,83 Persen Sepanjang Pekan
Rupiah Ditutup Rp17.758 per USD, Melemah 0,83 Persen Sepanjang Pekan

FINANSIALTODAY.COM — Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.758 per USD pada Jumat (18/9/2026), melemah 0,83 persen dibandingkan posisi sepekan sebelumnya di Rp17.611 per USD. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah hingga tujuh sesi perdagangan berturut-turut, terbebani sentimen geopolitik global dan kekhawatiran El Nino. Bagi masyarakat, pelemahan ini berpotensi menaikkan harga barang impor dan biaya perjalanan ke luar negeri.

Rupiah mencatat pekan kelima yang berat. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Indonesia ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen ke Rp17.758 per USD pada Jumat (18/9/2026), dari posisi hari sebelumnya Rp17.753 per USD.

Secara mingguan, pelemahan mencapai 0,83 persen. Sebelumnya, pada Jumat (11/9/2026), rupiah masih berada di level Rp17.611 per USD.

Tekanan Datang dari Luar dan Dalam Negeri

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi Rp17.745 per USD pada Jumat (18/9/2026). Angka itu naik 8 poin dari posisi sebelumnya Rp17.753 per USD.

Namun dibandingkan posisi Jumat pekan lalu di Rp17.611 per USD, JISDOR masih menunjukkan pelemahan sekitar 0,76 persen secara mingguan. Dua sumber data ini sama-sama mengonfirmasi tekanan yang belum surut.

Sentimen eksternal jadi pemicu utama. Ketegangan geopolitik global membuat investor menempatkan dana di aset aman seperti dolar AS. Isu El Nino menambah beban karena berpotensi mengganggu produksi pangan dan memicu inflasi domestik.

Apa Artinya bagi Nasabah dan Masyarakat

Pelemahan rupiah tujuh sesi berturut-turut berdampak langsung ke kantong masyarakat. Barang impor seperti elektronik, bahan baku industri, dan produk makanan olahan berpotensi naik harga karena biaya pembelian dalam dolar meningkat.

Nasabah yang punya cicilan utang dalam dolar AS juga menghadapi beban lebih besar. Begitu pula pelaku UMKM yang mengimpor bahan baku, margin keuntungan mereka tergerus.

Bagi investor ritel, pelemahan ini bisa memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi. Dana asing cenderung keluar mencari imbal hasil lebih menarik di negara lain.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Bank Indonesia memiliki ruang untuk intervensi guna menstabilkan rupiah. Cadangan devisa dan instrumen suku bunga acuan menjadi senjata utama menghadapi tekanan lanjutan.

Pasar akan memantau perkembangan geopolitik dan data inflasi dalam negeri. Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpeluang menemukan titik stabilnya.

Bagi masyarakat, pelemahan tujuh hari beruntun ini adalah sinyal untuk lebih cermat mengelola pengeluaran valas. Menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak bisa jadi langkah bijak sambil menunggu pergerakan kurs lebih jelas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index