The Fed Naikkan Bunga ke 3,75-4%, Dolar AS Tekan Rupiah dan Mata Uang Asia

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75-4%, Dolar AS Tekan Rupiah dan Mata Uang Asia

FINANSIALTODAY.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4% pada Rabu (16/9), kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan itu langsung menguatkan dolar AS terhadap mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah yang tertekan ke level Rp 17.753. Pasar kripto bergerak berlawanan arah, dengan Bitcoin bertahan di kisaran US$ 76.400.

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan kenaikan suku bunga dengan suara bulat 12-0. Federal Reserve juga memberi sinyal masih membuka peluang kenaikan lanjutan hingga akhir tahun demi meredam inflasi.

"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata FOMC dalam pernyataannya.

Rupiah dan Ringgit Paling Terdampak

Dolar AS menguat 0,32% terhadap rupiah ke level Rp 17.753 pada Kamis (17/9) pukul 13.18 WIB. Tekanan serupa dialami Ringgit Malaysia yang melemah 0,50% ke MYR 4,0967 per dolar AS.

Mata uang Asia lain juga tertekan. Won Korea melemah 0,49% ke KRW 1.383,1, dolar Taiwan turun 0,27% ke TWD 31,86, dan peso Filipina melemah tipis 0,02% ke PHP 62,7450.

Sebaliknya, sejumlah mata uang justru menguat. Yen Jepang naik 0,44% ke JPY 155,58 per dolar AS, dolar Singapura menguat 0,18% ke SGD 1,275, dan Bath Thailand menanjak 0,13% ke THB 33,33.

Bitcoin Bertahan di US$ 76.400

Harga Bitcoin berada di kisaran US$ 76.442 pada Kamis (17/9) pukul 12.06 WIB, naik 1,05% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$ 1,53 triliun atau naik 0,8%.

Volume perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 30,34 miliar, turun 21,79% dibandingkan periode sebelumnya. Jumlah Bitcoin yang beredar kini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.

Pasar Menanti Sinyal Berikutnya

Kenaikan suku bunga The Fed menjadi yang pertama sejak Juli 2023. Pasar keuangan Asia masih mencermati apakah bank sentral AS akan melanjutkan pengetatan moneter pada pertemuan berikutnya.

Bagi Indonesia, penguatan dolar AS berpotensi menambah tekanan pada nilai tukar rupiah dan biaya impor. Investor asing diperkirakan menahan posisi sambil menunggu arah kebijakan Bank Indonesia merespons pergerakan ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index