FINANSIALTODAY.COM — Tekanan jual masih membayangi pasar saham domestik. Tim Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG hari ini akan berkisar di rentang 6.550 hingga 6.650, dengan kecenderungan melemah jika gagal bertahan di level support.
"Secara teknikal, IHSG tertekan oleh volume jual. Sehingga hari ini, pergerakan IHSG diprakirakan sideways di kisaran 6.550-6.650," ujar analis Tim Phintraco Sekuritas.
Jika level 6.550 berhasil ditembus, indeks berpotensi menguji support berikutnya di area 6.500.
Mode Risk-Off Investor Global Meningkat
Kekhawatiran utama pasar saat ini berasal dari kenaikan yield obligasi pemerintah negara-negara besar, yang dipicu oleh antisipasi suku bunga tinggi di tengah potensi inflasi yang kembali meningkat. Kondisi ini mendorong investor global masuk ke mode menghindari risiko atau risk-off.
"Investor global cenderung memasuki mode risk-off," kata Tim Phintraco.
Akibatnya, aliran dana berpotensi keluar dari pasar negara berkembang. Investor disebut lebih memilih menempatkan dananya di US-Treasury yang dinilai menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko lebih rendah dibandingkan aset di negara berkembang.
Tiga Dampak Berantai bagi Ekonomi Domestik
Perpindahan preferensi investor global ini membawa konsekuensi langsung bagi Indonesia. Tim Phintraco mengidentifikasi setidaknya tiga tekanan yang perlu dicermati pelaku pasar:
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
- Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN)
- Peningkatan biaya modal perusahaan
Ketiga faktor tersebut berpotensi menekan valuasi saham dan memperlambat ekspansi korporasi, terutama emiten dengan utang dalam denominasi dolar.
Sentimen Domestik Bisa Menjadi Penyeimbang
Di tengah tekanan global, pasar masih memiliki sejumlah katalis positif dari dalam negeri. Pemerintah dan Komisi XI DPR telah menyepakati asumsi dasar ekonomi makro dalam RAPBN 2027, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dengan inflasi terkendali di level 2,5 persen.
Dalam dokumen tersebut, nilai tukar rupiah dipatok di Rp17.500 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun diasumsikan sebesar 6,9 persen. Belanja pemerintah akan difokuskan pada sektor investasi produktif, dengan alokasi utama untuk infrastruktur, hilirisasi, pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan.
"Namun investor perlu mencermati kredibilitas fiskalnya. Khususnya dalam mengelola defisit anggaran," tegas Tim Phintraco.
Pasar Menanti Katalis Baru
Selain kebijakan fiskal, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan pergerakan harga komoditas global. Aksi korporasi emiten yang dijadwalkan akhir tahun juga diharapkan mampu mengimbangi tekanan eksternal yang sedang berlangsung.
Dengan sentimen global yang masih belum bersahabat, pergerakan IHSG hari ini kemungkinan besar akan ditentukan oleh kemampuan pasar menyerap tekanan jual dan respons investor terhadap perkembangan kebijakan domestik. Level psikologis 6.550 menjadi titik krusial yang menentukan arah indeks selanjutnya.
Investasi mengandung risiko.