FINANSIALTODAY.COM — Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan laju 0,57 persen dan andil 0,17 persen terhadap inflasi umum.
"Kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi bulanan terbesar terutama adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan inflasi sebesar 0,57 persen. Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen," kata Ateng di Jakarta, Selasa (1/9/2026).Daging Ayam Ras Dominasi Inflasi Bahan Pangan
Dari sisi komoditas, daging ayam ras menjadi pemicu utama dengan andil inflasi 0,17 persen. Komoditas lain yang turut menekan daya beli masyarakat adalah cabai rawit, ikan segar, dan beras yang masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, serta rokok sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM). Seluruh komoditas tersebut menyumbang andil inflasi masing-masing 0,01 persen.
Emas Perhiasan dan Tarif Angkutan Jadi Penyeimbang
Di luar bahan pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 0,37 persen dengan andil 0,03 persen. Lonjakan harga emas perhiasan hingga 0,75 persen menjadi biang utama pada kelompok ini, memberikan andil inflasi 0,02 persen.
Sebaliknya, kelompok transportasi justru mengalami deflasi 0,50 persen dan menahan laju inflasi dengan andil deflasi 0,06 persen. Penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor dominan dengan andil deflasi 0,06 persen, disusul penurunan harga bensin yang berkontribusi deflasi 0,03 persen.
Inflasi Inti Terkendali, Harga Diatur Pemerintah Deflasi
Dari komponen pembentuknya, inflasi Agustus 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga bergejolak (volatile food) yang mencapai 0,88 persen dengan kontribusi 0,15 persen terhadap inflasi umum. Komoditas dominan pada kelompok ini adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Komponen inti (core inflation) tercatat mengalami inflasi 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Adapun komoditas yang mendominasi kelompok ini adalah emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.
Sementara itu, harga yang diatur pemerintah (administered price) mencatat deflasi 0,33 persen dengan andil deflasi 0,07 persen, seiring penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin.
Sebaran Inflasi di 38 Provinsi
Secara regional, BPS mencatat 27 provinsi mengalami inflasi dan 11 provinsi mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku, masing-masing sebesar 0,81 persen. Adapun deflasi terdalam tercatat di Papua Pegunungan sebesar 1,27 persen.
Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga pangan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, meskipun inflasi inti tetap terjaga. Normalisasi harga pangan ke depan akan menjadi kunci stabilitas daya beli masyarakat dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.