Surplus Neraca Perdagangan Juli 2026 Susut ke US$ 120 Juta, Impor Melonjak 27%

Surplus Neraca Perdagangan Juli 2026 Susut ke US$ 120 Juta, Impor Melonjak 27%

FINANSIALTODAY.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Juli 2026 mencapai US$ 26,09 miliar, sementara ekspor tercatat US$ 26,22 miliar. Lonjakan impor yang hampir dua kali lipat lebih cepat dari ekspor ini memangkas surplus dari bulan sebelumnya, mengindikasikan permintaan domestik yang kuat namun berpotensi membebani kurs rupiah.

Ekspor Nonmigas Tumbuh, Migas Masih Tertekan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026), merinci bahwa ekspor nonmigas menjadi penopang utama pertumbuhan. Nilainya mencapai US$ 25,43 miliar, naik 6,84% dibandingkan Juli 2025.

Sementara itu, ekspor migas justru merosot 14,58% menjadi US$ 0,79 miliar. Pelemahan ini menambah beban defisit neraca migas yang sudah menganga lebar akibat tingginya impor bahan bakar.

Impor Migas Tumbuh Hampir 50%, Defisit Migas Melebar

Defisit neraca migas pada Juli 2026 tercatat US$ 2,98 miliar. Impor migas melonjak 49,91% secara tahunan menjadi US$ 3,77 miliar. Komoditas penyumbang utama defisit ini adalah hasil minyak dan minyak mentah.

Lonjakan impor migas ini sejalan dengan harga minyak global yang masih tinggi serta pemulihan aktivitas industri dalam negeri. Ini menjadi catatan penting: pemerintah harus mewaspadai pembengkakan nilai impor energi yang bisa menggerus cadangan devisa.

Lemak Hewani-Nabati dan Baja Jadi Penopang Surplus

Ateng menjelaskan, surplus Juli 2026 seluruhnya ditopang oleh komoditas nonmigas yang mencatat surplus US$ 3,10 miliar. Tiga komoditas unggulan yang menjadi motor utama adalah lemak dan minyak hewani-nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).

"Pada Juli tahun 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$ 0,12 miliar. Surplus neraca perdagangan pada Juli 2026 disebabkan oleh surplus pada komoditas nonmigas tercatat surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 3,10 miliar," ujar Ateng dalam kesempatan yang sama.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha?

Penyempitan surplus perdagangan ini akan menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Secara historis, defisit transaksi berjalan yang melebar kerap menjadi tekanan bagi nilai tukar rupiah, especially di tengah ketidakpastian kebijakan suku bunga global.

Bagi pelaku bisnis, data ini juga mengindikasikan dua hal: permintaan domestik yang masih solid—terlihat dari lonjakan impor bahan baku dan barang modal—namun daya saing produk migas yang kian tertinggal. Perusahaan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor perlu mengantisipasi potensi pelemahan rupiah yang bisa menaikkan biaya produksi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index