FINANSIALTODAY.COM — Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam mengejar target bauran energi terbarukan. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026. Acara ini digagas oleh Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI), dengan dukungan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
Tema yang diusung tahun ini adalah "Indonesia Renewable Energy Acceleration: Executing Strategic Projects, Unlocking Investment, Building Resilience". Tema tersebut mencerminkan arah kebijakan yang lebih pragmatis: mempercepat pembangunan proyek yang sudah masuk pipeline, bukan sekadar wacana.
Momentum Percepatan Proyek yang Sudah Berjalan
Ketua Umum METI, Norman Ginting, menyebut banyak proyek energi terbarukan anggota asosiasinya yang kini bergerak ke tahap konstruksi dan operasi. hal ini menjadi dasar pentingnya forum ini digelar.
“Banyak proyek energi terbarukan anggota METI kini bergerak menuju konstruksi dan operasi. IndoEBTKE ConEx 2026 kami jadikan ruang temu antara pengembang, penyedia teknologi, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut,” kata Norman dalam keterangan resminya, Senin (31/8).
Artinya, forum ini tidak lagi berfokus pada diskusi kebijakan semata, melainkan menjadi ruang eksekusi. Pertemuan antara pengembang dengan penyedia teknologi dan regulator diharapkan mampu menghilangkan hambatan birokrasi yang kerap memperlambat proyek di lapangan.
Efisiensi Energi Jadi Pilar Ketahanan Sistem
Selain sisi pasokan, pengelolaan permintaan energi juga masuk dalam agenda utama. Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa, menekankan bahwa konservasi dan efisiensi adalah komponen penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kami mendorong penguatan implementasi konservasi dan efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan skema Energy Efficiency as a Service,” ujarnya.
Skema ini relevan di tengah kebutuhan industri dan komersial untuk menekan biaya operasional. Alih-alih mengeluarkan belanja modal besar di awal, perusahaan bisa mengadopsi teknologi hemat energi dengan model pembayaran berbasis layanan.
Menjembatani Pengembang dengan Lembaga Pembiayaan
Masalah klasik pengembangan EBT di Indonesia adalah akses pendanaan. Sekretaris Jenderal METI sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Elvi Nasution, menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini dirancang untuk menjawab persoalan tersebut secara langsung.
“Melalui The 12th IndoEBTKE ConEx 2026, kami mempertemukan pengembang proyek dengan lembaga keuangan nasional dan internasional, agar aliran investasi hijau ke Indonesia semakin deras dan tepat sasaran,” jelas Elvi.
Pendekatan ini penting karena banyak proyek energi terbarukan yang layak secara teknis, namun mandek di tahap financial close. Koneksi langsung dengan calon investor diharapkan memperpendek proses negosiasi dan uji tuntas.
Apa yang Disiapkan di Tahun Ini?
Penyelenggara memperluas ruang diskusi dengan menghadirkan 6 sesi pleno dan 12 sesi breakout. Materi yang dibahas mencakup ragam teknologi, mulai dari energi surya, angin, bioenergi, panas bumi, hingga sistem penyimpanan energi.
Pameran teknologi juga akan diisi peserta dalam dan luar negeri. Area khusus networking hub disiapkan untuk mempertemukan pengembang proyek secara langsung dengan calon investor dan mitra pembiayaan.
Dukungan pemerintah yang tertuang dalam berbagai regulasi, minat investasi yang meningkat, serta penguatan kerjasama kawasan ASEAN menjadi modal utama. Pertanyaannya kini adalah seberapa cepat eksekusi di lapangan bisa dikejar.