GREAT Institute Pertahankan Proyeksi Ekonomi 2026 di 5,3-5,6%, Investasi Jadi Kunci Semester II

GREAT Institute Pertahankan Proyeksi Ekonomi 2026 di 5,3-5,6%, Investasi Jadi Kunci Semester II

FINANSIALTODAY.COM — Proyeksi tersebut dirilis dalam GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme, yang memotret kinerja ekonomi global dan domestik sepanjang paruh pertama tahun ini. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh kumulatif 5,45 persen pada Semester I 2026.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menegaskan bahwa target pertumbuhan tersebut bukan sesuatu yang otomatis tercapai. Menurutnya, komposisi mesin pertumbuhan sedang bergeser.

"Semester I banyak terbantu oleh konsumsi dan dorongan fiskal. Memasuki Semester II, konsumsi tentu tetap menjadi fondasi pertumbuhan, tetapi tambahan akselerasi semakin perlu datang dari investasi dan aktivitas produktif sektor swasta," ujar Adrian.

Konsumsi Mulai Selektif, Sektor Usaha Justru Berekspansi

Pada paruh pertama tahun ini, konsumsi pemerintah menjadi bantalan utama dengan pertumbuhan 18,62 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga juga masih tumbuh 5,06 persen pada Triwulan II-2026.

Kendati demikian, GREAT Institute mengingatkan agar ketahanan konsumsi tidak ditafsirkan berlebihan. Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 123,0 pada April menjadi 116,8 pada Juli, sementara penjualan ritel sempat terkontraksi pada periode April-Juni sebelum diprakirakan tumbuh tipis 0,9 persen pada Juli.

"Ada sinyal kehati-hatian yang meningkat. Karena itu, menjaga pendapatan riil dan pekerjaan menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong konsumsi sesaat," jelas Adrian.

Di sisi lain, indikator sektor riil justru menunjukkan ekspansi. Konsumsi listrik sektor bisnis dan industri masing-masing tumbuh 10,04 persen dan 6,54 persen secara tahunan. Penjualan mobil niaga pun melonjak 30,12 persen hingga Juni, menandakan aktivitas operasional usaha yang terus berjalan.

Realisasi Investasi Capai Rp 1.010,6 Triliun, Kredit Modal Kerja Tumbuh Dua Digit

Sinyal penguatan investasi terlihat dari realisasi investasi Semester I 2026 yang mencapai Rp 1.010,6 triliun, naik 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli, kredit investasi tumbuh 23,1 persen secara tahunan dan kredit modal kerja tumbuh 11,6 persen.

Adrian menekankan bahwa pemerintah perlu memastikan pembiayaan yang tersedia benar-benar bertransformasi menjadi belanja modal riil. "Jangan lagi hanya fokus apakah uang tersedia, tetapi apakah pembiayaan benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta, ekspansi kapasitas produksi, dan lapangan kerja," ujarnya.

GREAT Institute menilai peran pemerintah mulai perlu bergeser dari sekadar memberikan impuls langsung menjadi pengungkit aktivitas ekonomi yang lebih besar. Belanja negara tetap dibutuhkan untuk menjaga daya beli dan pelayanan dasar, tetapi kualitas pengeluaran menjadi semakin penting.

Ketidakpastian Global Masih Menekan, Stabilitas Makro Jadi Penentu

Proyeksi tersebut tetap menghadapi lingkungan global yang tidak ringan. Rata-rata Global Economic Policy Uncertainty sepanjang Semester I tercatat sekitar 68 persen di atas rata-rata 2024, sementara Geopolitical Risk Index sekitar 55 persen lebih tinggi.

Risiko geopolitik, fluktuasi harga energi, kebijakan moneter global yang ketat, serta perubahan arsitektur perdagangan dunia menjadi sumber tekanan eksternal. Proyeksi GREAT yang berada di atas perkiraan IMF dan Bank Dunia yang sekitar 5 persen bukan berarti risiko telah berlalu.

"Pertumbuhan Semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik. Tetapi resiliensi bukan berarti tanpa celah," pungkas Adrian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index