The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4,00%, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.705

The Fed Naikkan Bunga ke 3,75%-4,00%, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.705

FINANSIALTODAY.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,17% ke Rp17.705 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026), membalikkan penguatan tipis sehari sebelumnya. Tekanan datang setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Penguatan indeks dolar AS (DXY) ke 100,315 memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Berdasarkan data Refinitiv, posisi pembukaan rupiah hari ini membalikkan penguatan 0,03% pada Rabu (16/9/2026) yang mengakhiri perdagangan di level Rp17.675 per dolar AS. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,05% ke 100,315 pada pukul 09.00 WIB.

Penguatan DXY melanjutkan kenaikan 0,64% pada perdagangan sebelumnya. Kombinasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar menjadi pemicu utama pelemahan rupiah pagi ini.

Keputusan FOMC dan Alasan The Fed

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari. Keputusan diambil bulat dengan perolehan suara 12-0 dari anggota FOMC, diumumkan Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Bank sentral AS juga mengisyaratkan masih terbuka peluang satu kali kenaikan bunga lagi hingga akhir tahun. Inflasi AS tercatat 3,4% secara tahunan pada Agustus 2026, masih di atas target The Fed sebesar 2%.

"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam keterangan resminya.

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga tetap menjadi fokus utama bank sentral. Menurutnya, inflasi masih terlalu tinggi dan bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.

"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.

Jejak Suku Bunga The Fed Sejak 2025

The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di level 4,25%-4,50% hingga Agustus 2025. Suku bunga kemudian dipangkas pada September, Oktober, dan Desember 2025 hingga berada di kisaran 3,50%-3,75%.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, The Fed kembali menahan suku bunga sebelum akhirnya menaikkannya pada pertemuan September. Kenaikan kali ini menjadi yang pertama dalam lebih dari tiga tahun.

Dampak ke Pasar dan Prospek Rupiah

Kenaikan suku bunga dan terbukanya peluang pengetatan lanjutan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Kondisi tersebut mendorong penguatan greenback sekaligus mempersempit ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bagi investor di pasar domestik, tekanan eksternal ini berpotensi menahan aliran modal asing masuk ke aset berdenominasi rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan mencermati data ekonomi domestik dan sinyal lanjutan dari The Fed untuk menentukan arah posisi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index