SWF INA Raih Peringkat BBB dari Fitch, Keterikatan Pemerintah Jadi Acuan

SWF INA Raih Peringkat BBB dari Fitch, Keterikatan Pemerintah Jadi Acuan
Indonesia Investment Authority (INA) [FOTO: NET].

JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings resmi mempertahankan predikat utang jangka panjang milik Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB, disertai outlook negatif yang mengekor arah proyeksi peringkat kredit negara Indonesia.

Fitch menjelaskan bahwa afirmasi peringkat dan prospek negatif tersebut mencerminkan keterikatan INA dengan pemerintah Indonesia di bawah kriteria entitas terkait pemerintah (Government-Related Entities/GRE).

Keterikatan operasional INA dalam mengemban misi mandat kebijakan strategis nasional menyebabkan proyeksi peringkatnya disetarakan secara penuh dengan sovereign rating Republik Indonesia.

“Fitch tidak memberikan standalone credit profile [profil kredit mandiri] untuk INA karena penerbit tidak dapat dipisahkan secara efektif dari pemerintah,” tulis keterangan resmi Fitch Ratings, Rabu (16/9/2026).

Di samping itu, Fitch memandang sokongan pemerintah terhadap lembaga pengelola investasi ini berada dalam kategori virtually certain alias tingkat kepastian yang sangat tinggi, dengan perolehan skor dukungan menyentuh angka 45 dari batas maksimum 60. Indikasi ini terlihat jelas dari pengawasan ketat secara langsung yang melibatkan Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan, serta Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN selaku jajaran dewan pengawas INA.

Rekam jejak dukungan fiskal dari negara juga terbukti solid sejak awal pendirian INA. Pemerintah sebelumnya telah menyetor modal awal senilai Rp30 triliun serta melakukan pengalihan kepemilikan saham dengan valuasi mencapai Rp45 triliun dari dua bank pelat merah, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).

Kedua perbankan besar tersebut sekaligus bertindak sebagai pilar utama penyokong pundi-pundi pendapatan berulang (recurring income) INA. Sepanjang tahun 2025 saja, guyuran dividen yang dikantongi INA dari BMRI dan BBRI menembus angka Rp4,6 triliun, atau berkontribusi hingga 55% dari keseluruhan total pendapatan lembaga investasi tersebut.

Di sisi lain, Fitch mencatat status prospek negatif pada INA bukan dipicu oleh pemburukan kinerja. Catatan kondisi keuangan INA sepanjang periode 2025 justru memperlihatkan performa yang tangguh. Total pemasukan INA terdongkrak naik ke posisi Rp8,5 triliun dari torehan sebelumnya di angka Rp5,9 triliun pada 2024. Seiring dengan tren positif tersebut, perolehan laba bersih perusahaan turut menanjak hingga menyentuh Rp7,4 triliun, melompati capaian tahun sebelumnya yang berada di level Rp5,4 triliun.

Kenaikan performa finansial itu didukung oleh peningkatan imbal hasil investasi sebesar Rp866,3 miliar serta derasnya aliran dividen dari bank milik negara. Fitch turut menggarisbawahi rendahnya tingkat leverage keuangan INA karena ekspansi portofolio sebagian besar dibiayai lewat instrumen ekuitas serta suntikan dana dari mitra investor strategis.

Kondisi likuiditas INA juga dikategorikan sehat yang ditopang oleh instrumen kas, deposito berjangka, hingga kepemilikan obligasi. Meskipun demikian, posisi saldo kas tercatat mengalami penurunan ke kisaran Rp9,8 triliun pada 2025 dari angka Rp12,8 triliun di tahun sebelumnya akibat percepatan realisasi penanaman modal.

Sepanjang tahun lalu pula, kolaborasi antara INA dan para mitra strategisnya berhasil menyalurkan komitmen investasi sekitar Rp15,7 triliun yang menyasar berbagai sektor krusial, mulai dari infrastruktur, transisi energi, digitalisasi, hingga sektor layanan kesehatan.

Kendati demikian, Fitch menegaskan bahwa penurunan apa pun pada sovereign rating Indonesia secara otomatis bakal langsung memicu aksi penurunan peringkat yang serupa bagi INA. Sebaliknya, prospek pemeringkatan INA berpeluang direvisi menjadi stabil manakala outlook kredit negara pulih kembali.

“Prospek akan direvisi menjadi stabil jika prospek sovereign direvisi menjadi stabil, dengan catatan tidak ada perubahan signifikan pada faktor pemeringkatan utama lainnya,” tulis laporan Fitch Ratings.

Sebagai tambahan, Fitch juga mengafirmasi peringkat surat utang jangka pendek berdenominasi valuta asing milik INA pada level F2. Sementara itu, unit domestik Fitch Ratings Indonesia menetapkan Peringkat Nasional Jangka Panjang INA pada posisi tertinggi AAA(idn) berprospek stabil, serta Peringkat Nasional Jangka Pendek di level F1+(idn).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index