BI Banten dan Pemda Genjot Panen 500 Hektar demi Jaga Inflasi 2,95%

BI Banten dan Pemda Genjot Panen 500 Hektar demi Jaga Inflasi 2,95%

FINANSIALTODAY.COM — Bank Indonesia Banten bersama pemerintah daerah dan Kementerian Pertanian menggelar Gerakan Tanam Serempak Pertanian Modern di lahan 500 hektar di Kelurahan Kilasah, Kota Serang, Selasa (15/9). Metode PM-AAS dengan drum seeder disebut mampu melipatgandakan produktivitas padi dari 5 ton menjadi 10-12,88 ton per hektar. Langkah ini ditempuh untuk menjaga pasokan beras sekaligus menahan inflasi Banten yang tercatat 2,95% (yoy) pada Agustus 2026.

Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Provinsi Banten 2026 dikolaborasikan dengan Gerakan Tanam Serempak Pertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS). Dari lahan 500 hektar yang ditanami, panen diperkirakan mencapai 5.000 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 2.500 ton beras kualitas unggul.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Banten Sofwan Kurnia menyatakan penambahan pasokan hasil panen akan memastikan ketersediaan komoditas utama tetap terjaga. Perhitungan neraca pangan jadi dasar langkah ini, sehingga lonjakan harga bisa diantisipasi lebih awal.

Inflasi Banten 2,95%, Volatile Food Jadi Perhatian

Pada Agustus 2026, inflasi Provinsi Banten tercatat 2,95% (yoy), masih di dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%. Komponen volatile food tetap dipantau ketat karena risiko perubahan iklim bisa mengganggu produksi, pasokan, dan stabilitas harga pangan.

Hingga minggu kedua September 2026, BI Banten menjalankan sejumlah intervensi pasar:

  • 462 kali Gelar Pangan Murah
  • 61 kali subsidi ongkos angkut
  • Penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD)
  • Fasilitasi mobil Kang Japal (Jawara Pangan Keliling)
  • Penguatan koordinasi dan kapasitas TPID

"Pengendalian inflasi membutuhkan sinergi yang kuat dari sisi hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan melalui strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif," kata Sofwan.

Produktivitas Naik Dua Kali Lipat, Biaya Produksi Ikut Naik

Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten Andry Polos menyebut metode PM-AAS lewat pemanfaatan drum seeder terbukti menaikkan hasil panen signifikan. Jika produktivitas rata-rata Banten sebelumnya 5 ton per hektar, metode ini mampu mendorongnya hingga dua kali lipat, mencapai 10 sampai 12,88 ton per hektar.

Kenaikan hasil panen itu datang dengan konsekuensi biaya produksi yang lebih tinggi, dari Rp13 juta menjadi Rp15 juta per hektar. Meski begitu, lonjakan hasil panen membuat keuntungan bersih petani berpotensi melipatganda hingga Rp20 juta per bulan.

"Penerapan teknologi pertanian modern diharapkan turut mendorong transformasi pertanian Banten yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan," ujar Sofwan.

Beras Banten Diserap Food Station untuk Jabodetabek

Kepala Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan Banten Ismail menyatakan inflasi daerah saat ini 2,95%, tergolong di bawah rata-rata nasional. Peningkatan hasil panen diharapkan menstabilkan harga beras di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sekaligus mengangkat Nilai Tukar Petani (NTP).

"Melalui kemitraan strategis dan penerapan teknologi pertanian modern ini, Pemprov Banten optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai delapan besar produsen beras nasional sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah dari ancaman inflasi," ujarnya.

Dari sisi penyerapan, BUMD milik Pemprov DKI Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya, hadir sebagai offtaker resmi. Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Dodot Tri Widodo menyebut pasokan beras dari Banten krusial untuk memenuhi kebutuhan Jabodetabek yang mencapai 10.000 ton per hari.

Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia menambahkan Pemkot Serang menyiapkan aset lahan sekitar 400 hektar berupa sawah dan tambak untuk dioptimalkan. "Kolaborasi antar lembaga dinilai sebagai kunci utama dalam menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan," katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index