FINANSIALTODAY.COM — PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) mencatat rasio kredit macet atau non performing financing (NPF) gross turun 63 basis poin secara tahunan menjadi 1,69% pada Agustus 2026. Perbaikan ini ditopang penyaluran pembiayaan yang selektif dan penguatan analisis kredit di tengah bisnis multifinance yang masih menuntut kehati-hatian.
Penurunan NPF gross ke level 1,69% itu disampaikan Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani. Menurut dia, perbaikan kualitas pembiayaan berjalan seiring penerapan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran kredit.
Tingkat persetujuan pembiayaan (approval rate) perusahaan pada Agustus 2026 disebut tetap berada dalam rentang terkendali. Angka itu tidak dilepas bebas demi mengejar pertumbuhan volume pembiayaan.
Selektif Sejak Proses Akuisisi Nasabah
Aditia menjelaskan, pengetatan proses persetujuan menjadi salah satu cara BRI Finance menjaga kualitas pembiayaan. Perusahaan berupaya menyeimbangkan peningkatan approval rate dengan kualitas aset yang disalurkan.
Seleksi dan analisis calon nasabah dilakukan sesuai profil risiko masing-masing. Pendekatan ini membuat perusahaan tidak sekadar mengandalkan prinsip kehati-hatian, tetapi juga analisis kredit terstruktur.
"Pergerakannya masih dalam rentang yang terkendali, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam proses akuisisi dan analisis pembiayaan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Monitoring kualitas pembiayaan akan terus diperkuat ke depan. Tujuannya menjaga NPF tetap terkendali saat bisnis perusahaan tumbuh.
Trade-off antara Pertumbuhan dan Kualitas Aset
Pengetatan persetujuan pembiayaan memang berpotensi memperlambat laju penyaluran kredit. BRI Finance menyadari hal itu dan memilih menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset.
Perusahaan tetap membuka ruang penyaluran bagi nasabah yang memenuhi kriteria dan profil risiko yang sesuai. Artinya, selektivitas tidak berarti menutup keran pembiayaan sepenuhnya.
Bagi nasabah, kebijakan ini berarti pengajuan pembiayaan bisa lebih ketat dari sisi dokumen dan analisis. Namun kualitas kredit yang terjaga turut mengurangi risiko kenaikan beban cadangan kerugian di kemudian hari.
Fokus Semester II 2026
Pada semester II 2026, BRI Finance akan mengarahkan perhatian pada akselerasi penyaluran secara selektif. Penguatan proses akuisisi dan analisis kredit serta peningkatan monitoring portofolio masuk dalam agenda.
Perusahaan juga akan mengoptimalkan sinergi dan referral dari ekosistem BRI. Strategi itu diharapkan mendukung pertumbuhan pembiayaan tanpa mengorbankan kualitas aset dan prinsip kehati-hatian.
"Ke depannya, penguatan monitoring kualitas pembiayaan akan terus dilakukan untuk menjaga NPF tetap terkendali seiring dengan pertumbuhan bisnis," kata Aditia.
Turunnya NPF gross ke 1,69% memberi ruang lebih longgar bagi BRI Finance menyalurkan pembiayaan pada sisa tahun ini. Namun arah kebijakan perusahaan menunjukkan pertumbuhan tetap dikawal seleksi ketat, bukan ekspansi agresif.