FINANSIALTODAY.COM — Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja Vietnam melesat ke 10,34% pada 2024, meninggalkan Indonesia dan Malaysia yang stagnan di kisaran 2,5%–4% per tahun. Lonjakan itu bukan hasil lompatan teknologi radikal, melainkan buah pergeseran struktur ekonomi dari pertanian ke manufaktur dan jasa yang berjalan konsisten. Vietnam menargetkan level 8,5% untuk 2025–2026.
Hingga 2023, laju produktivitas tenaga kerja Vietnam masih sejajar dengan Indonesia, sama-sama berkisar 3%–4% per tahun. Setahun kemudian, garis keduanya berpisah jauh. Vietnam mencatat kenaikan 10,34% pada 2024, sementara Indonesia bertahan di kisaran 2,5%–3,5%.
Angka itu menempatkan Vietnam di posisi teratas kawasan Asia Tenggara untuk pertumbuhan produktivitas. Pemerintah Vietnam pun memasang target 8,5% untuk periode 2025–2026.
Pergeseran Struktur, Bukan Lompatan Teknologi
Faktor pendorong utama bukan adopsi teknologi canggih atau inovasi radikal. Pertumbuhan industri Vietnam bertumpu pada kebijakan bertahap yang fundamental, terutama transformasi dari pertanian ke manufaktur dan jasa.
Distribusi tenaga kerja mencerminkan pergeseran itu: 25,4% di pertanian, 33,8% di industri dan konstruksi, serta 40,8% di sektor jasa. Perpindahan dari cangkul ke mesin pabrik mendongkrak output pekerja hingga tiga kali lipat.
Pergeseran struktural ini menyumbang 1,7% dari total pertumbuhan produktivitas nasional Vietnam.
Samsung hingga Intel Jadi Penopang Arus Modal
Derainya investasi asing langsung memperkuat momentum tersebut. Samsung, LG, dan Intel menanamkan modal besar di Vietnam, menjadikan negara itu eksportir utama produk elektronik dan tekstil. Ekspor kedua sektor itu tumbuh 17% pada tahun lalu.
Struktur demografi juga menguntungkan. Penduduk usia 25–54 tahun mendominasi angkatan kerja Vietnam, berada tepat di spektrum paling produktif.
Pemerintah Vietnam membenahi institusi, membangun infrastruktur strategis, dan mendorong transformasi digital secara berkelanjutan. Secara teori, setiap satu poin peningkatan akses infrastruktur menambah produktivitas 3,9%. Sektor formal Vietnam tercatat 27,6% lebih produktif dibandingkan sektor informal.
Titik Lemah: Hanya 29,5% Pekerja Bersertifikat
Di balik laju cepat itu, Vietnam menyimpan persoalan mendasar. Hanya 29,5% dari total pekerja yang benar-benar terlatih dan bersertifikat. Pemerintah Vietnam menyadari hal ini dan mulai menggeser fokus kebijakan menuju model pertumbuhan baru.
Tiga Negara, Tiga Gaya Berlari
Vietnam, Malaysia, dan Indonesia bersaing di medan yang serupa dengan titik mula berbeda. Vietnam ibarat pelari cepat: pertumbuhan produktivitasnya rata-rata 4% per tahun dalam 15 tahun terakhir, tetapi ia berlari dari garis start paling rendah. GDP per kapitanya baru menembus US$5.000.
Indonesia lebih menyerupai pelari maraton. Angkatan kerjanya terbesar di antara ketiganya, lebih dari 147 juta orang, dengan struktur ekonomi bergeser ke sektor jasa sekitar 49%–50%. Modal volumenya besar, tetapi pertumbuhan produktivitasnya tertahan oleh besarnya proporsi pekerja di pertanian informal dan UMKM berproduktivitas rendah, ditambah digitalisasi yang belum merata.
Malaysia bergaya seperti pelari jarak menengah yang telanjur mapan. GDP per kapitanya menembus US$13.000, dengan ekonomi didominasi jasa 61%–62% serta industri bernilai tambah tinggi seperti elektronik dan kimia.
Ketimpangan Antar Sektor
Di sektor pertanian, Malaysia unggul jauh lewat mekanisasi penuh. Traktor, drone, dan IoT diterapkan di perkebunan sawit dan karet, menghasilkan output besar dengan pekerja sedikit.
Vietnam mulai bergerak ke komoditas bernilai tambah tinggi seperti kopi dan udang, tetapi seperempat tenaga kerjanya masih terserap di sektor ini sehingga menahan laju rata-rata nasional. Indonesia masih didominasi petani kecil dengan lahan sempit.
Di sektor manufaktur, Malaysia unggul melalui produk bernilai tambah tinggi seperti cip dan alat medis yang ditopang otomatisasi, meski biaya buruhnya mahal. Vietnam tumbuh tinggi berkat arus investasi asing dan tingkat upah yang jauh lebih murah, dengan rata-rata UMR sekitar Rp2,4 juta–Rp3,4 juta.