Kepuasan Publik AS ke Trump Anjlok ke 19% Jelang Pemilu Sela

Jumat, 18 September 2026 | 14:26:00 WIB

FINANSIALTODAY.COM — Tingkat kepuasan publik Amerika Serikat terhadap kinerja Presiden Donald Trump dalam menangani inflasi merosot ke 19%, level terendah yang pernah tercatat dalam jajak pendapat Marquette Law School. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan kebijakan tarif dan kenaikan suku bunga The Fed yang kembali menghantam daya beli warga.

Kepala Analis Data CNN Harry Enten menyebut net rating Trump terkait penanganan inflasi berada di angka minus 61. Angka itu, katanya, merupakan yang terburuk untuk seorang presiden dalam isu inflasi.

"Ini benar-benar net approval rating terburuk terkait inflasi untuk presiden mana pun," ujar Enten pada Kamis.

Penilaian Negatif Menembus Basis Republik

Net rating Trump terkait inflasi tercatat minus 95 di kalangan pemilih Demokrat dan minus 74 di kalangan independen. Bahkan di kalangan pemilih Partai Republik, angkanya sudah masuk wilayah negatif, yakni minus 4.

Jajak pendapat Marquette terbaru juga menunjukkan 54% likely voters berencana memilih kandidat Demokrat, sementara 41% memilih kandidat Republik. Pada Juli, perbandingannya masih 51% berbanding 45%.

Partai Demokrat kini unggul 11 poin atas Republik dalam penilaian publik soal penanganan inflasi dan biaya hidup. Situasi ini berbalik dari menjelang pemilu 2024, ketika jajak pendapat ABC News/Ipsos pada Oktober 2024 menempatkan Trump unggul tujuh poin atas Kamala Harris dalam isu yang sama.

Tarif Jadi Faktor Penentu di Bilik Suara

Survei Cato Institute dan Morning Consult menunjukkan 75% pemilih terdaftar menyatakan kebijakan tarif akan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan pada pemilu sela. Sebanyak 74% responden menilai tarif era Trump telah memicu kenaikan harga barang.

Pandangan serupa muncul dari pemilih Republik, dengan 66% di antaranya mengakui tarif membuat harga barang naik. Dari kelompok yang menjadikan tarif sebagai faktor penentu, 55% berencana memilih kandidat Demokrat dan 36% memilih kandidat Republik.

The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga

Hasil jajak pendapat Marquette dirilis bersamaan dengan keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Kenaikan itu menjadi yang pertama sejak 2023.

Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan masih akan ada setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini. Di pasar prediksi Polymarket, peluang kenaikan tambahan tersebut mencapai 81%.

Pasar Saham AS Berbalik Menguat

Pasar saham AS sempat merespons negatif keputusan The Fed. Indeks S&P 500 turun 0,44% pada Rabu, tetapi kemudian naik sekitar 1,1% pada perdagangan Kamis setelah imbal hasil obligasi AS dan harga minyak melemah.

SPDR S&P 500 ETF Trust (NYSE:SPY) ikut menguat mengikuti pergerakan indeks acuannya. Nasdaq Composite nyaris tidak berubah pada Rabu sebelum melonjak sekitar 1,6% pada Kamis, turut mendorong Invesco QQQ Trust (NASDAQ:QQQ) yang mengikuti indeks Nasdaq-100.

Peluang Demokrat Kuasai Kongres Meningkat

Di Polymarket, peluang Partai Demokrat menguasai DPR dan Senat dalam pemilu sela mencapai 60%. Angka itu naik dari 51% pada 1 September.

Lebih dari 12 juta dolar AS telah diperdagangkan dalam kontrak prediksi mengenai keseimbangan kekuasaan di Kongres. Peluang Demokrat menguasai Senat juga tercatat di angka 60%, sementara skenario Demokrat menang di Senat tetapi Republik tetap menguasai DPR peluangnya kurang dari 1%.

Kombinasi inflasi yang belum mereda, tarif yang menekan harga, dan suku bunga tinggi menempatkan ekonomi sebagai medan pertempuran utama menjelang pemilu sela. Bagi pasar global, termasuk Indonesia, arah kebijakan The Fed dan hasil pemilu AS akan menjadi faktor yang menentukan arus modal dan pergerakan nilai tukar dalam beberapa bulan ke depan.

Terkini