AS Ancam Tarif 100% untuk Pembeli Minyak Rusia, India Paling Terdampak

Kamis, 17 September 2026 | 20:29:00 WIB

FINANSIALTODAY.COM — Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meloloskan undang-undang yang memberi Presiden Donald Trump kewenangan menjatuhkan sanksi dan tarif hingga 100% kepada negara mana pun yang membeli minyak dan gas Rusia. India dan China menjadi dua negara paling terekspos karena keduanya pembeli utama minyak mentah Rusia. Bagi India, ancaman itu menyerang dua sisi sekaligus: pasokan energi murah dan akses ke pasar ekspor Amerika.

Langkah DPR AS itu menempatkan strategi minyak Rusia India dalam posisi sulit. Selama empat tahun terakhir, India memanfaatkan gangguan pasar minyak akibat perang Ukraina untuk membeli minyak mentah Rusia dengan harga diskon.

Minyak Rusia yang tersingkir dari pasar Barat mengalir ke kilang-kilang India. Skema itu menekan biaya impor terbesar India sekaligus memberi pasokan melimpah bagi para penyulingnya.

Skala Ketergantungan India pada Minyak Rusia

Data lembaga riset Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat, antara Desember 2022 dan Agustus 2026, China menyerap separuh ekspor minyak mentah Rusia. India menyusul dengan 37%, Turki 5%, dan Uni Eropa 5%.

Bagi India, angka itu berarti Rusia memasok 30,3% dari total impor minyak mentahnya pada tahun fiskal 2026. Nilainya mencapai USD 40,8 miliar dari total tagihan impor minyak mentah USD 134,7 miliar, menurut Global Trade Research Initiative (GTRI), lembaga riset yang berbasis di Delhi.

Pada Juli, minyak Rusia bahkan menembus lebih dari separuh impor India. Pemasok lain jauh tertinggal: Uni Emirat Arab 10,8%, Arab Saudi 9,6%, Venezuela 6,3%, Brasil 5,5%, Oman 5,3%, dan Amerika Serikat 2,9%.

Rusia sendiri memasok lebih banyak minyak daripada enam negara itu jika digabungkan.

Posisi India: Energi untuk 1,4 Miliar Penduduk

Ajay Srivastava, mantan pejabat perdagangan India yang kini memimpin GTRI, menyebut undang-undang itu sebagai tekanan sepihak. "India membeli minyak Rusia untuk mengamankan energi terjangkau bagi 1,4 miliar orang, bukan untuk membiayai perang, dan pembelian ini telah membantu menstabilkan pasokan serta harga global," ujarnya.

Pemerintah India menyatakan tengah memantau perkembangan. Dalam pernyataannya, New Delhi menegaskan tetap "berkomitmen penuh menjamin ketahanan energi" bagi rakyatnya.

India juga mengklaim isu ini sudah dibahas di tingkat tinggi dengan berbagai pihak AS dalam beberapa bulan terakhir. Dampaknya bagi hubungan bilateral maupun pasar energi internasional, kata mereka, sudah disampaikan dengan jelas.

Ekonomi Minyak Rusia yang Mulai Berubah

Diskon tajam yang dulu membuat minyak Rusia begitu menarik bagi kilang India kini menyusut. Persaingan memperebutkan barel Rusia menguat, sementara risiko pengapalan, asuransi, dan sanksi ikut naik.

Senator Demokrat Richard Blumenthal menyampaikan pesan terbuka seusai pengesahan rancangan undang-undang. "China dan India, sebaiknya kalian beli minyak dan gas dari tempat lain," katanya kepada wartawan.

Negara-negara terdampak biasanya punya waktu 180 hari untuk memangkas impor energi Rusia atau bernegosiasi dengan Washington. Namun presiden berwenang mempersingkat tenggat itu.

Bukan Pajak atas Minyak, tapi Pukulan ke Eksportir India

Yang diancam tarif adalah ekspor India ke Amerika, bukan pungutan atas minyak mentah Rusia yang masuk ke India. Efeknya merambat lewat eksportir, nilai rupee, margin kilang, dan neraca perdagangan.

Michael Kugelman, senior fellow di Atlantic Council, menilai undang-undang ini datang di waktu terburuk. Menurut dia, India sudah membangun bantalan lewat kesepakatan dagang baru dengan Uni Eropa dan penguatan kemitraan dagang dengan China.

"Tetapi tarif hingga 100% dari tujuan ekspor yang krusial adalah kabar buruk, apa pun cara melihatnya, bahkan dengan taktik lindung yang berhasil," kata Kugelman kepada BBC.

Nilai Ekspor India ke AS yang Dipertaruhkan

Besarnya eksposur itu terukur. Kantor Perwakilan Dagang AS mencatat, Amerika mengimpor sekitar USD 104 miliar barang dari India pada 2025. Perdagangan dua arah barang dan jasa kedua negara mencapai sekitar USD 240 miliar.

Ekspor India ke AS mencakup elektronik, farmasi, mesin, perhiasan, bahan kimia, tekstil, dan produk minyak. Pada 2025, peralatan listrik dan elektronik saja menyumbang sekitar USD 25,8 miliar, farmasi USD 9,7 miliar, dan mesin USD 7,2 miliar.

Ancaman baru ini muncul setelah putaran tarif Trump sebelumnya atas barang India, yang sempat memuncak di 50% pada 2025 sebelum diturunkan.

Mencari Pengganti di Tengah Pasar yang Ketat

India bisa mencari pemasok alternatif, tetapi mengganti pasokan Rusia dalam skala besar berbiaya mahal. S&P Global menyebut pasokan pengganti berpotensi menaikkan biaya minyak mentah, pengapalan, dan asuransi, sementara rute pelayaran yang lebih panjang menambah beban.

Sumit Ritolia, analis di firma intelijen maritim Kpler, menyoroti persoalan yang lebih dalam. "Persoalannya bukan sekadar apakah barel Rusia bisa dialihkan ke pembeli lain, tetapi apakah cukup minyak mentah alternatif tersedia untuk menggantinya tanpa makin mengetatkan pasar global," ujarnya.

Bagi New Delhi, kalkulasi politik dan ekonominya kini berjalan di dua jalur sekaligus: mempertahankan pasokan energi murah dan menjaga pintu masuk ke pasar Amerika yang bernilai ratusan miliar dolar.

Terkini