FINANSIALTODAY.COM — Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengajak generasi muda mulai mengambil peran bagi bangsa dengan meneladani pendiri bangsa yang berjuang sejak usia muda. Dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Padang, ia menyoroti Bung Hatta yang memimpin Perhimpunan Indonesia pada 1926 saat baru berusia 24 tahun. Ajakan ini menyasar Generasi Z yang akan menentukan arah Indonesia Emas 2045.
Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang untuk memberi kontribusi bermakna bagi negara. Menurutnya, sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia dipenuhi tokoh yang membangun gagasan dan mengambil peran penting ketika masih berusia dua puluhan tahun.
Pernyataan itu disampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Wilayah Gema Keadilan Sumatra Barat di Kota Padang, Minggu (13/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota Fraksi PKS MPR RI sekaligus Presiden Gema Keadilan, Rahmat Saleh.
Bung Hatta Memimpin Perhimpunan Indonesia di Usia 24 Tahun
Hidayat menyoroti jejak Mohammad Hatta sebagai contoh konkret. Pada 1926, ketika baru berusia 24 tahun, Hatta dipercaya memimpin Perhimpunan Indonesia dan aktif memperjuangkan gagasan kemerdekaan.
"Bung Hatta lahir pada 1902. Artinya, pada 1926 beliau baru berusia 24 tahun. Tetapi pada usia itu Bung Hatta sudah memimpin Perhimpunan Indonesia, semakin aktif menyuarakan Indonesia merdeka dan membangun perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia," ungkap Hidayat dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Selain Hatta, ia menyebut Sutan Sjahrir, Mohammad Yamin, dan Mohammad Natsir sebagai tokoh asal Ranah Minang yang terlibat dalam gerakan kebangsaan sejak muda. Haji Oemar Said Tjokroaminoto juga disebut aktif dalam pergerakan sejak usia muda dan menjadi guru bagi sejumlah tokoh yang kelak memimpin perjuangan.
Rahmah El Yunusiyyah dan Semangat Sejarah sebagai Cermin
Dari sisi tokoh perempuan, Hidayat mencontohkan Rahmah El Yunusiyyah. Sebelum genap berusia 23 tahun, ia telah mendirikan Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang.
"Inilah pentingnya kita mempelajari sejarah, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk mengukur dan menjadikannya sebagai spirit penyemangat. Sejarah adalah cermin dan pelajaran yang sangat berguna bagi perjalanan hidup kita sekarang dan ke depan," ujar Hidayat.
Ia menekankan bahwa menjadi muda bukan alasan untuk tidak berbuat sesuatu bagi bangsa. Justru pada usia itulah seseorang dapat mulai membangun gagasan, meningkatkan kapasitas, berorganisasi, dan memberi kontribusi.
Empat Pilar sebagai Bekal Menuju Indonesia Emas 2045
Hidayat menilai pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI menjadi bagian penting dari bekal generasi muda. Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus dipahami serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dalam konteks kami di MPR, Sosialisasi Empat Pilar itu sangat penting karena merupakan bagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang harus dijalankan untuk kemaslahatan bangsa, termasuk generasi mudanya," kata Hidayat.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya lewat pembangunan fisik dan kemajuan teknologi. Dibutuhkan generasi dengan kompetensi sekaligus karakter, integritas, semangat kebangsaan, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Generasi muda diminta menjadikan masa muda sebagai momentum membangun kualitas diri. Menurut Hidayat, mereka yang akan mengisi dan menentukan arah Indonesia pada 2045 perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
"Diusia-usia kalian inilah dahulu para pahlawan bangsa dari Ranah Minang dan berbagai daerah lain memberikan kontribusi yang sangat bermakna bagi persiapan Indonesia merdeka. Mereka belajar di luar negeri, di dalam negeri, bahkan belajar secara otodidak, kemudian memberikan kemampuan terbaiknya bagi kemerdekaan Indonesia," tutur Hidayat.
Ia menambahkan, keberhasilan menyongsong Indonesia Emas hanya dapat diraih oleh generasi berkualitas yang tangguh dan tidak mudah cemas. Pemahaman sejarah dinilainya menjadi modal untuk mengukur dan menyemangati perjalanan bangsa ke depan.