FINANSIALTODAY.COM — China Geological Survey (CGS) memperkenalkan dua sistem AI yang mampu memangkas waktu analisis data geologi untuk eksplorasi mineral dari sekitar enam bulan menjadi hanya satu minggu. Kedua sistem, AI-GeoMapping dan AI-OreSeeking, diperkenalkan dalam China Mining Conference and Exhibition ke-28 di Tianjin. Teknologi ini berpotensi mengubah cara geolog menentukan target pengeboran di sektor pertambangan global.
Kedua sistem dirancang mengolah data geologi berskala besar dan membantu geolog memetakan wilayah yang berpotensi menyimpan mineral. AI-GeoMapping difokuskan untuk pemetaan geologi regional, sementara AI-OreSeeking menyasar pencarian deposit mineral secara spesifik.
AI-GeoMapping: Pemetaan Geologi Akurasi di Atas 90 Persen
AI-GeoMapping menggabungkan big data, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi untuk menganalisis data dari berbagai sumber. Cakupannya mulai dari data luar angkasa, udara, hingga permukaan Bumi.
Sistem ini menangani seluruh proses pemetaan, dari penelitian awal dan pengumpulan data sampai penyusunan peta geologi final. Menurut CGS, AI-GeoMapping mampu mengidentifikasi tubuh geologi dengan akurasi keseluruhan lebih dari 90 persen.
Efisiensi pengolahan data, analisis terpadu, dan penyusunan peta diklaim meningkat lebih dari 50 persen. Peningkatan ini signifikan untuk proyek pemetaan yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.
AI-OreSeeking: 200 Algoritma untuk Berburu Deposit Mineral
AI-OreSeeking lebih spesifik menyasar pencarian mineral. Sistem ini mengombinasikan data geosains, pengetahuan geologi, model eksplorasi, dan lebih dari 200 algoritma untuk menganalisis data eksplorasi.
Data yang diproses mencakup informasi geologi, gravitasi, magnetik, kelistrikan, geokimia, hingga penginderaan jauh. Kombinasi tersebut memungkinkan sistem mengidentifikasi area menjanjikan dan menentukan target eksplorasi.
AI-OreSeeking juga bisa membuat model struktur geologi tiga dimensi, menghasilkan penilaian prediksi sumber daya, dan menyusun laporan evaluasi. Semua output ini menjadi bahan pertimbangan geolog sebelum turun ke lapangan.
Uji Coba di Qinling Barat: 32 Lembar Peta Selesai dalam 5 Hari
Perubahan paling mencolok terlihat pada waktu prediksi dan evaluasi mineral. Data pengujian AI-OreSeeking menunjukkan pekerjaan yang sebelumnya butuh sekitar setengah tahun kini rampung dalam satu minggu.
Dalam salah satu pengujian eksplorasi emas di wilayah Qinling bagian barat, sistem memproses data dari 32 lembar peta berskala 1:50.000 hanya dalam lima hari. Dari analisis itu, sistem mengidentifikasi dua target eksplorasi emas serta empat wilayah yang dinilai berpotensi untuk diteliti lebih lanjut.
Manusia Tetap Pegang Kendali
AI tidak sepenuhnya menggantikan peran geolog. Pengguna dapat memilih tiga mode kerja: dipimpin pakar, otomatis, atau kolaborasi manusia-AI.
Hasil analisis tetap digunakan geolog untuk menentukan lokasi yang perlu diteliti lebih lanjut, termasuk kemungkinan pengeboran. Penentuan lokasi bor dan pembuktian cadangan mineral tetap membutuhkan verifikasi lapangan.
Menurut CGS, teknologi ini tidak terbatas pada emas. Sistem dapat digunakan untuk eksplorasi besi, tembaga, aluminium, litium, kobalt, nikel, timbal, seng, kromium, kalium, dan uranium.
Sudah Diuji di 100 Proyek dan Beberapa Negara
CGS menyebut kedua sistem telah diuji dalam lebih dari 100 proyek di lebih dari 10 wilayah tingkat provinsi di China. AI-GeoMapping juga telah diuji pada hampir 100 lembar peta di sejumlah wilayah China.
Teknologi ini bahkan digunakan di beberapa negara, termasuk Maroko, Arab Saudi, dan Laos. Ekspansi ke luar China menandakan kesiapan sistem untuk diadopsi pada skala internasional.
Pemanfaatan AI di sektor pertambangan menunjukkan pergeseran peran teknologi, bukan sekadar menghasilkan teks atau gambar, tetapi juga membaca pola geologi yang sangat kompleks. Meski begitu, hasil AI tetap menjadi bagian dari proses eksplorasi yang lebih besar.