Nike Alphafly 4 Resmi Meluncur, Fokus Baru pada Stabilitas Pelari Maraton

Nike Alphafly 4 Resmi Meluncur, Fokus Baru pada Stabilitas Pelari Maraton

FINANSIALTODAY.COM — Nike resmi memperkenalkan Alphafly 4, sepatu balap maraton terbaru mereka yang diklaim 5% lebih ringan dan lebih efisien dari generasi sebelumnya. Peluncuran ini menyasar pelari dari semua level, bukan hanya atlet elite, dengan penekanan baru pada stabilitas yang jarang jadi sorotan di kategori super-shoe.

Nike Alphafly 4 hadir sebagai penerus Alphafly 3 yang sebelumnya dipakai memecahkan rekor dunia maraton putra dan putri. Peluncuran kali ini dilakukan di tengah tekanan kompetisi yang makin ketat dari merek lain, terutama Adidas Adizero Adios Pro Evo 3.

Sepatu ini dijual dengan harga USD 275 atau GBP 254. Rilis terbatas dimulai 17 September, sementara ketersediaan lebih luas menyusul pada 29 Oktober.

Tekanan Kompetisi di Segmen Sepatu Balap

Sejak Alphafly 3 meluncur awal 2024, sejumlah super-shoe pesaing bermunculan. Yang paling menonjol adalah Adidas Adizero Adios Pro Evo 3, yang dipakai Sabastian Sawe saat mencatat maraton sub-2 jam pertama di ajang resmi pada London Marathon April lalu.

Pencapaian itu terjadi tujuh tahun setelah Eliud Kipchoge melakukannya di acara khusus dengan prototipe Alphafly generasi pertama. Tekanan pun mengarah ke Alphafly 4 untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik di kelasnya.

Stabilitas Jadi Prioritas yang Tak Terduga

Bret Schoolmeester, Vice President yang membawahi Nike Running Footwear, mengungkap bahwa pengembangan Alphafly 4 menempatkan stabilitas sebagai salah satu fokus utama. Ini tergolong tak biasa untuk sepatu balap yang biasanya menonjolkan bobot ringan dan pengembalian energi.

"Hal yang kami tahu tidak akan pernah berhenti kami kejar adalah pengurangan bobot dan pengembalian energi, lalu satu hal yang kami fokuskan secara unik pada Alphafly 4 adalah stabilitas," kata Schoolmeester.

Menurutnya, biomekanika pelari cenderung menurun di fase akhir lomba. Dukungan yang lebih baik membuat pelari mampu mempertahankan kecepatan kritis hingga garis finis.

"Di akhir lomba, biomekanika Anda rusak. Semakin baik Anda didukung, semakin Anda bisa mempertahankan kecepatan kritis itu sepanjang lomba," ujarnya.

Pembaruan dari Midsole hingga Outsole

Alphafly 4 mengalami pembaruan menyeluruh dari bagian atas hingga sol luar. Hasilnya, sepatu ini diklaim 5% lebih ringan dan lebih bertenaga dibanding Alphafly 3.

Perubahan paling signifikan ada di midsole. Nike memperkenalkan busa ZoomX LT, cara baru mengolah ZoomX yang memangkas bobot hingga 17% sekaligus meningkatkan pengembalian energi sebesar 8%.

  • Busa ZoomX LT baru: 17% lebih ringan, pengembalian energi naik 8%
  • Pod Air Zoom di forefoot didesain ulang dengan pengelasan radiofrekuensi, memangkas bobot 30%
  • Geometri pelat karbon diubah untuk menambah stabilitas sekaligus memaksimalkan defleksi busa dan kantong udara
  • Kombinasi ZoomX LT di bagian atas dan ZoomX standar di bagian bawah midsole

Schoolmeester menjelaskan bahwa penggunaan dua jenis busa berbeda merupakan hasil eksplorasi panjang selama proses pengembangan. ZoomX standar di bagian bawah midsole berperan menstabilkan sistem, sementara bagian atas mengutamakan bobot ringan dan pengembalian energi.

"Yang kami temukan adalah menggunakan ZoomX di bagian bawah midsole, yang masih menawarkan pengembalian energi dan bobot luar biasa, membantu menstabilkan sistem," katanya.

Mengapa Stabilitas Penting di Jarak 42 Kilometer

Schoolmeester menegaskan bahwa pengembalian energi dan bobot ringan sudah jadi keharusan. Namun stabilitas sering diabaikan, padahal perannya krusial di paruh akhir maraton.

"Pengembalian energi: jelas. Bobot ringan: jelas. Tapi stabilitas di sepatu balap, orang tidak menganggapnya sebagai hal yang benar-benar penting," ujarnya.

Nike bahkan sengaja melelahkan atlet dalam pengujian untuk memastikan manfaat sepatu tetap terasa saat kondisi tubuh menurun. Menurut Schoolmeester, merasa nyaman di kilometer pertama hingga kelima bukanlah bagian tersulit.

"Merasa baik di kilometer 30, 35, dan menjaga semuanya tetap terkendali hingga garis finis. Itulah sihir yang sebenarnya," katanya.

Nike juga menegaskan bahwa Alphafly bukan hanya untuk pelari elite. Sepatu ini diklaim sebagai model balap maraton yang paling banyak dipakai, dari barisan terdepan hingga paling belakang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index