FINANSIALTODAY.COM — Semakin banyak pekerja muda di China menolak kenaikan jabatan ke posisi manajerial. Unggahan soal keputusan ini ramai di media sosial, dengan total tontonan menembus 40 juta kali. Alasannya bukan malas, melainkan hitungan untung-rugi yang tak lagi masuk.
Fenomena ini bertentangan dengan anggapan lama bahwa naik jabatan adalah ukuran utama kesuksesan karier. Para karyawan membagikan tangkapan layar percakapan mereka di internet, memperlihatkan cara mereka menolak promosi dengan sopan.
Dalam tulisan-tulisan itu, mereka mengucapkan terima kasih, mengaku belum siap, lalu meminta kompensasi lebih baik atau pengakuan atas nilai mereka di posisi sekarang. Pola serupa muncul berulang, bukan sekadar satu-dua kasus.
Kisah June: Tiga Kali Menolak Promosi dalam Satu Dekade
Seorang pengguna bernama June sudah menolak promosi tiga kali sepanjang kariernya yang berjalan sepuluh tahun. Penolakan pertama terjadi saat ia masih berstatus peserta pelatihan manajemen di sebuah perusahaan internet. Ia memilih pergi traveling ketimbang menerima jabatan baru.
Setelah sempat dipromosikan memimpin pusat pelatihan di perusahaan pendidikan, June kembali ke posisi semula hanya dalam dua minggu. Tekanan kerja dinilainya terlalu berat. Pada April, ia menolak tawaran ketiga begitu menyadari promosi itu tak disertai kenaikan gaji yang berarti.
Kepada platform media online 36Kr, June menyebut peran manajerial kerap membawa tanggung jawab besar yang tidak sebanding dengan imbalan finansialnya.
Gelar "Senior" yang Terasa Jadi Beban
Pengalaman serupa dialami Zheng, manajer produk di perusahaan internet lain. Baginya, gelar "senior" lebih terasa sebagai beban ketimbang penghargaan. Setelah naik jabatan, ia harus mengerjakan banyak tanggung jawab sendirian.
Atasannya justru menyebut tekanan itu sebagai kesempatan untuk "mengembangkan kemampuan bekerja secara mandiri."
"Ketika melihat ke sekeliling dan tidak menemukan seorangpun di perusahaan tersebut yang bisa dijadikan panutan, artinya lingkungan tersebut tidak lagi mendukung pertumbuhan kita," ujar Zheng.
Tambahan Rp 264 Ribu, Tanggung Jawab Melonjak
Bagi banyak pekerja muda di China, menolak promosi bukan tanda kehilangan ambisi. Ini cara menghindari tekanan berat yang melekat pada posisi manajemen tingkat menengah, yang terjepit antara eksekutif senior dan karyawan garda depan.
"Setelah menjadi pemimpin tim sementara, saya hanya mendapatkan tambahan 100 yuan (Rp 264 ribu) per bulan. Namun, setiap ada sesuatu yang salah, saya yang diminta pertanggungjawaban," tulis seorang pengguna.
Tren Global Bernama "Conscious Unbossing"
Perubahan sikap ini tidak hanya terjadi di China. Perusahaan perekrutan asal Inggris, Robert Walters, mengidentifikasi tren global ini sebagai "conscious unbossing" atau keputusan sadar untuk tidak menjadi atasan.
Survei perusahaan itu pada 2024 menemukan lebih dari separuh responden Gen Z tidak punya ambisi menjadi manajer tingkat menengah. Sebanyak 72 persen lebih memilih mengembangkan diri ketimbang mengurus orang lain.
Lucy Bisset, Direktur di Robert Walters North, mengingatkan berkurangnya daya tarik posisi manajemen bisa jadi tantangan tersendiri bagi pemberi kerja. Ia mendesak perusahaan menata ulang posisi tersebut dengan memberi otonomi lebih besar dan jalur pengembangan keterampilan yang lebih jelas.
Dilema yang Sulit Dicari Batasnya
Sebuah komentar yang banyak dibagikan di China merangkum dilema pekerja muda: "Jika terlalu mudah untuk diandalkan, akan kewalahan dengan beban kerja. Tapi jika terlalu sulit diajak bekerja sama, berisiko tersingkirkan. Tantangannya ada pada penentuan di mana batasnya."
June sendiri menegaskan penolakan promosi tak berarti menyerah pada perkembangan. Baginya, kemajuan tidak selalu soal memanjat lebih tinggi, tapi bisa juga berupa pengembangan diri.
"Saya ingin memiliki pekerjaan yang stabil dan terkelola dengan baik, yang bisa memberi saya lebih banyak waktu untuk minat dan keluarga saya," katanya.