FINANSIALTODAY.COM — Penawaran masuk lelang Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) melonjak menjadi US$315 juta pada 17 September 2026, dari hanya US$62 juta dua hari sebelumnya. Lonjakan minat investor ini belum cukup kuat menopang rupiah karena imbal hasil yang ditawarkan masih kalah bersaing dengan deposito dolar AS.
Dari total penawaran itu, nominal yang dimenangkan BI mencapai US$235 juta. Angka ini hampir 11 kali lipat dibanding lelang sebelumnya yang hanya US$22 juta.
Imbal Hasil Naik, Tapi Masih Kalah Kompetitif
Kenaikan permintaan dibarengi dengan naiknya yield rata-rata tertimbang SVBI menjadi 3,74%, dari sebelumnya 3,7%. Investor rupanya masih menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di pasar domestik.
Meski minat investor mulai pulih, posisi outstanding SVBI dan SUVBI hanya bertambah tipis. Data Bloomberg menunjukkan outstanding naik menjadi US$3,82 miliar pada Agustus, dari US$3,76 miliar pada periode sebelumnya.
Peningkatan itu tergolong kecil jika dibandingkan dengan daya tarik instrumen dolar AS di pasar global. Analis valas Bloomberg, termasuk Chunyu Zhang dan Stephen Chiu, menilai kedua instrumen BI itu belum cukup kompetitif.
"Daya tarik kedua instrumen itu masih jauh di bawah level sebelumnya, dan kurang kompetitif dibandingkan suku bunga deposito dalam dolar AS," sebut mereka dalam catatan riset.
Apa Artinya bagi Nasabah dan Pelaku Pasar
Bagi masyarakat yang menyimpan dana dalam dolar AS, imbal hasil deposito valas di bank masih lebih menguntungkan ketimbang menempatkan uang di instrumen BI. Kondisi ini membuat aliran dana asing ke pasar domestik belum deras.
Dampaknya terasa pada pergerakan rupiah. Tanpa pasokan dolar yang cukup dari investor asing, nilai tukar rupiah sulit menguat meski permintaan SVBI naik.
Bagi importir dan pelaku usaha yang membutuhkan dolar AS, pelemahan rupiah berarti biaya bahan baku dan barang impor tetap mahal. Sementara eksportir masih menikmati nilai tukar yang kompetitif.
Tekanan Global Masih Jadi Penentu
Selisih imbal hasil antara instrumen rupiah dan dolar AS menjadi kunci. Selama suku bunga deposito dolar AS tetap tinggi, investor cenderung menahan dana di luar negeri.
Bank Indonesia sendiri terus melelang SVBI dan SUVBI sebagai instrumen untuk menarik dolar masuk ke sistem keuangan domestik. Namun hasil lelang terbaru menunjukkan upaya itu belum sepenuhnya berhasil.
Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan pasar global. Jika imbal hasil dolar AS turun, minat terhadap instrumen BI berpeluang meningkat lagi.
Lonjakan penawaran SVBI pada lelang terbaru memang sinyal positif. Tapi tanpa selisih imbal hasil yang menarik, dana asing tetap enggan masuk dan rupiah belum mendapat topangan berarti.