BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen, Tertinggi 31 Tahun Sejak 1995

Jumat, 18 September 2026 | 15:55:00 WIB

FINANSIALTODAY.COM — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 1,25 persen, level tertinggi dalam 31 tahun atau sejak 1995. Keputusan ini memperlebar jarak dari era suku bunga ultra-rendah yang dipertahankan Jepang lebih dari tiga dekade, dan memicu kekhawatiran arus modal di negara berkembang termasuk Indonesia.

Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen. Keputusan itu diambil lewat pemungutan suara 7-2 dalam rapat kebijakan moneter, dengan dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menolak kenaikan tersebut.

Langkah BOJ menandai kenaikan keenam dalam 2,5 tahun terakhir. Bank sentral Jepang mulai meninggalkan kebijakan suku bunga negatif pada 2024, dan kini level bunga acuannya menjadi yang tertinggi sejak 1995.

Alasan di Balik Kenaikan

Keputusan BOJ sejalan dengan langkah bank sentral utama dunia yang kompak mengetatkan kebijakan. Pemicunya lonjakan harga energi akibat Perang Iran.

The Fed akhirnya menaikkan suku bunga untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun pada Rabu (16/9). Bank Sentral Eropa juga menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Menariknya, kenaikan BOJ terjadi meski inflasi inti Jepang sedikit melandai. Data terbaru menunjukkan inflasi inti berada di 1,7 persen secara tahunan pada Agustus 2026, turun dari 1,8 persen pada Juli, dan masih di bawah target BOJ sebesar 2 persen.

Risiko Unwind Yen Carry Trade

BRI Danareksa Sekuritas menilai kenaikan suku bunga BOJ berpotensi mempersempit selisih suku bunga antara aset berdenominasi yen dan aset di negara lain. Kondisi itu meningkatkan risiko unwind yen carry trade.

Yen carry trade adalah strategi investor meminjam dana dalam yen dengan biaya rendah, lalu menempatkannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi. Ketika selisih bunga menyempit, investor mulai mengurangi atau menutup posisi tersebut.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, penutupan posisi itu dapat menekan arus modal asing ke pasar saham dan surat berharga negara (SBN). Investor berpotensi menarik dana yang sebelumnya ditempatkan pada aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampak ke Rupiah dan Pasar RI

Tekanan tersebut bisa merambat ke nilai tukar rupiah. Permintaan terhadap aset rupiah berkurang seiring investor membutuhkan dana untuk dikembalikan ke Jepang.

Tekanan diperberat oleh tingginya harga minyak dan ketidakpastian global. Kombinasi ini membuat posisi rupiah dan pasar SBN Indonesia rentan terhadap gejolak jangka pendek.

Bagi investor ritel di pasar saham, risiko utama adalah koreksi akibat aliran dana asing keluar. Sementara bagi emiten yang bergantung pendanaan luar negeri, biaya pinjaman berpotensi naik jika yield SBN ikut terdorong.

Kenaikan suku bunga BOJ ke 1,25 persen menjadi sinyal bahwa era uang murah global benar-benar berakhir. Bagi Indonesia, yang penting bukan besar kecilnya kenaikan, melainkan seberapa cepat investor yen carry trade menutup posisi dan memindahkan dananya keluar dari aset negara berkembang.

Terkini