JAKARTA - Belakangan ini, banyak pembicaraan terkait hubungan antara penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) dan serangan jantung, setelah kasus selebgram Lula Lahfah yang meninggal dunia akibat dugaan henti jantung, meskipun diketahui memiliki riwayat GERD.
Perbincangan ini mengangkat kekhawatiran mengenai kemiripan gejala antara kedua kondisi tersebut.
Hal ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah GERD dapat menyebabkan serangan jantung atau justru memperburuknya? Sering kali, gejala GERD dianggap sebagai masalah ringan, padahal jika tidak dikenali dengan tepat, hal tersebut bisa berakibat fatal.
Kemiripan Gejala GERD dan Serangan Jantung
Menurut dokter spesialis jantung di Siloam Hospital, Vito Damay, dalam wawancara dengan CNNIndonesia, memang ada kemiripan gejala antara GERD dan serangan jantung.
Beberapa keluhan yang dirasakan oleh penderita GERD, seperti rasa panas atau perih di dada, sering kali mirip dengan gejala yang muncul pada serangan jantung.
Pada GERD, gejalanya umumnya mencakup rasa panas di dada yang bisa menjalar hingga leher atau nyeri di ulu hati, yang sering kali muncul ketika seseorang berbaring atau pada malam hari.
Beberapa penderita GERD juga dapat mengalami rasa asam di mulut, mual, bahkan muntah. Pada kasus yang lebih berat, ada juga keluhan seperti sesak napas mendadak.
Sementara itu, gejala serangan jantung meliputi rasa nyeri dada yang terasa berat, seperti tertekan, atau seperti ditindih benda berat, yang bisa menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung. Serangan jantung sering kali disertai dengan keringat dingin, mual hebat, dan sesak napas.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Pada beberapa kasus, terutama pada perempuan, orang lanjut usia, dan penderita diabetes, serangan jantung tidak selalu menampilkan nyeri dada yang khas.
Gejalanya bisa lebih mirip dengan gangguan pencernaan seperti maag atau GERD. Hal inilah yang membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami serangan jantung.
Pentingnya Membedakan GERD dan Serangan Jantung
Sering kali, ketika seseorang merasakan gejala seperti nyeri ulu hati, mereka langsung menganggapnya sebagai GERD atau maag.
Namun, jika gejala tersebut terjadi bersamaan dengan tanda-tanda lain seperti keringat dingin, mual hebat, dan sesak napas, itu bisa menjadi indikasi bahwa masalah yang dihadapi lebih serius daripada hanya gangguan pencernaan.
Menurut Vito, salah satu kesalahpahaman umum yang ada di masyarakat adalah anggapan bahwa nyeri ulu hati yang terasa saat ditekan selalu menunjukkan GERD dan bukan serangan jantung.
Meskipun benar bahwa nyeri akibat GERD biasanya terasa lebih intens jika ditekan di bagian atas perut, hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan mutlak. Penegakan diagnosis yang tepat tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti EKG dan pemeriksaan klinis lainnya.
Bahkan ada kondisi di mana GERD dan serangan jantung dapat terjadi bersamaan. Seseorang yang memiliki riwayat maag atau GERD kronis bisa saja mengalami masalah lain pada jantung, seperti sumbatan pembuluh darah.
Hal ini membuat pengenalan gejala secara cepat dan akurat menjadi sangat penting untuk mencegah keadaan yang lebih parah, seperti henti jantung.
Perbedaan Penting: GERD Tidak Sebabkan Henti Jantung
Meskipun gejalanya bisa mirip, ada satu hal yang sangat penting untuk dicatat: GERD tidak menyebabkan henti jantung. Vito dengan tegas menjelaskan bahwa GERD dan penyakit jantung adalah dua kondisi yang berbeda.
GERD tidak berhubungan langsung dengan sumbatan pada pembuluh darah jantung, dan sebaliknya, sumbatan jantung tidak menyebabkan GERD.
Henti jantung, atau cardiac arrest, adalah kondisi yang terjadi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba, sering kali disebabkan oleh gangguan pada irama jantung yang disebut aritmia.
Jika tidak segera ditangani, henti jantung bisa berujung pada kematian mendadak. Berbeda dengan GERD, yang berhubungan dengan gangguan pencernaan, henti jantung merupakan masalah serius yang memerlukan penanganan medis segera.
Kapan Harus Waspada dan Segera Memeriksakan Diri?
Gejala yang muncul pada penderita GERD atau serangan jantung harus segera diwaspadai, terutama jika disertai dengan tanda-tanda lain yang mengarah pada kondisi yang lebih serius.
Beberapa gejala yang patut dicurigai sebagai kondisi serius antara lain keringat dingin, mual hebat, muntah, atau sesak napas yang muncul bersamaan dengan nyeri ulu hati.
Risiko semakin tinggi jika seseorang memiliki faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok.
Masyarakat diminta untuk tidak menunggu lama dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala-gejala tersebut. Semakin cepat penanganan diberikan, semakin besar peluang untuk bertahan hidup.
Edukasi Kesehatan yang Harus Ditingkatkan
Kasus Lula Lahfah ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat bahwa literasi kesehatan perlu ditingkatkan, terutama terkait dengan penyakit-penyakit yang memiliki gejala serupa.
Sering kali, keluhan yang dirasakan dianggap remeh atau sepele, padahal bisa jadi itu adalah tanda dari kondisi yang lebih serius.
Penting untuk selalu mendiskusikan keluhan kesehatan dengan dokter dan tidak menganggap remeh gejala yang muncul, terutama jika ada riwayat penyakit lain seperti GERD.
Dalam banyak kasus, lebih baik dibilang "cuma GERD" setelah pemeriksaan dokter daripada menyesal karena terlambat menangani serangan jantung yang bisa berakibat fatal.