Danantara

Danantara Rencanakan Investasi Rp235 Triliun untuk Proyek 2026

Danantara Rencanakan Investasi Rp235 Triliun untuk Proyek 2026
Danantara Rencanakan Investasi Rp235 Triliun untuk Proyek 2026

JAKARTA - Lembaga pengelola kekayaan negara, Daya Anagata Nusantara (Danantara), mengungkapkan rencana besar mereka untuk investasi pada 2026. 

Dalam pengumuman yang disampaikan oleh Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, Dana tersebut akan dialokasikan untuk berbagai proyek strategis yang mencakup sektor energi, pangan, dan hilirisasi. Total dana yang akan digelontorkan mencapai sekitar US$14 miliar atau setara dengan Rp235,48 triliun. 

Pandu menegaskan bahwa pendanaan ini akan diperoleh melalui setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta rencana penerbitan obligasi kedua dalam waktu dekat.

Danantara yang sebelumnya sudah berkomitmen untuk menginvestasikan sekitar US$8 miliar pada tahun sebelumnya, kini memastikan bahwa total dana yang akan digunakan pada 2026 mencapai US$14 miliar. 

Peningkatan ini menjadi bukti komitmen Danantara dalam mendukung pembangunan infrastruktur strategis di Indonesia yang diharapkan dapat mendongkrak perekonomian nasional.

Fokus Investasi pada Proyek Energi dan Pangan

Salah satu sektor yang mendapatkan perhatian utama adalah energi, khususnya dalam pengembangan proyek waste-to-energy (WTE). 

Proyek ini bertujuan untuk mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan yang dapat mendukung kebutuhan energi lokal. Pada 2026, tahap pertama proyek WTE akan dimulai di empat kota, yakni Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta. 

Dengan estimasi dana yang dibutuhkan mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengelolaan sampah sekaligus menciptakan sumber energi baru. 

Proyek ini juga berencana untuk memasuki tahap lelang pemenang pada pertengahan Februari dan dilanjutkan dengan groundbreaking pada bulan Maret 2026.

Selain sektor energi, Danantara juga menyiapkan dana sebesar US$6 miliar atau Rp101 triliun untuk membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil baru. Pembentukan BUMN tekstil ini bertujuan untuk memitigasi dampak tekanan tarif global yang dirasakan oleh industri tekstil Indonesia. 

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia di pasar tekstil internasional dan mendorong pertumbuhan sektor industri tekstil domestik.

Dukungan untuk Sektor Hilirisasi dan Pembangunan Infrastruktur

Dalam sektor hilirisasi, Danantara juga memiliki beberapa proyek strategis yang tengah dipersiapkan. Dengan dana yang dialokasikan sekitar US$6 miliar, proyek-proyek ini mencakup pembangunan smelter aluminium, fasilitas smelter grade alumina, produksi bioavtur, hingga pengolahan kelapa terintegrasi. 

Pembangunan smelter aluminium dan fasilitas terkait akan memperkuat sektor manufaktur Indonesia dan meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang ada di dalam negeri.

Danantara tidak hanya fokus pada sektor energi dan industri. Lembaga ini juga melakukan akuisisi hotel dan lahan di luar negeri. Salah satunya adalah akuisisi Hotel Novotel dan lahan seluas 4,4 hektare di Thakher City, Mekkah, untuk pengembangan kawasan terpadu Kampung Haji. 

Nilai akuisisi lahan tersebut diperkirakan mencapai US$1 miliar, sementara pembelian hotel mencapai US$500 juta. Pembangunan kawasan tersebut direncanakan mendapatkan tambahan dana sebesar US$800 juta atau setara dengan Rp13,4 triliun pada kuartal IV/2026.

Potensi Dampak Terhadap Perekonomian Nasional

Investasi besar yang direncanakan oleh Danantara pada 2026 diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan terhadap perekonomian Indonesia. 

Laporan yang dikeluarkan oleh Stockbit Sekuritas mengungkapkan bahwa dana investasi yang dialokasikan untuk berbagai proyek strategis ini akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam proyeksi terbaru, Bank Dunia meningkatkan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode 2026-2027 sebesar 0,2 poin persentase, menjadi 5% pada 2026 dan 5,2% pada 2027. 

Peningkatan investasi yang didorong oleh pemerintah melalui Danantara diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Salah satu proyek yang diyakini dapat memberikan dampak langsung adalah sektor energi terbarukan melalui pengolahan sampah. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi di Indonesia, pengembangan energi terbarukan seperti WTE dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

 Selain itu, investasi di sektor hilirisasi diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam pasar global, khususnya dalam pengolahan sumber daya alam.

Transformasi BUMN dan Merger Perusahaan Pelat Merah

Salah satu agenda utama yang sedang dijalankan oleh Danantara adalah restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Proses ini bertujuan untuk memangkasi jumlah entitas BUMN yang ada, dari lebih dari 1.000 perusahaan menjadi hanya sekitar 200 perusahaan pelat merah yang lebih efisien dan terkelola dengan baik. Salah satu langkah konkret dalam restrukturisasi ini adalah merger BUMN Karya yang ditargetkan selesai pada kuartal I/2026.

Melalui langkah-langkah tersebut, Danantara berharap dapat menciptakan BUMN yang lebih fokus dan efisien dalam menjalankan proyek-proyek strategis, serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar dan tantangan global yang ada.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index