AWS Konfirmasi Data Pelanggan Hilang Permanen Usai Serangan Iran

Jumat, 18 September 2026 | 09:49:00 WIB

FINANSIALTODAY.COM — Amazon Web Services (AWS) mengonfirmasi sebagian data pelanggan di pusat data Bahrain dan Uni Emirat Arab hilang permanen akibat serangan drone Iran. Kerusakan meluas ke beberapa zona ketersediaan, melebihi kapasitas pemulihan yang dirancang AWS. Peristiwa ini menjadi ujian terbesar ketahanan infrastruktur cloud global di tengah konflik geopolitik.

Amazon Web Services (AWS) mengakui tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data pelanggan yang dihosting di sejumlah pusat data di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Kerusakan terjadi akibat serangan drone Iran yang berlangsung sejak awal Maret lalu. Pengakuan ini muncul setengah tahun setelah serangan pertama dilancarkan.

Pembaruan dasbor AWS yang diposting pada 15 September menyebut kerusakan infrastruktur meluas ke beberapa zona ketersediaan sekaligus. Skala kerusakan itu melampaui kemampuan yang dirancang untuk ditahan oleh layanan regional dan multi-AZ perusahaan.

Zona Ketersediaan yang Lumpuh

Data pelanggan hilang permanen di salah satu dari tiga zona ketersediaan AWS di Uni Emirat Arab, tepatnya zona mec1-az2. Setiap zona ketersediaan dilayani oleh satu atau lebih pusat data Amazon.

AWS masih berupaya memulihkan sumber daya regional dan mengembalikan sumber daya yang dihosting di dua zona ketersediaan lainnya di Uni Emirat Arab. Perusahaan mengganti infrastruktur yang terdampak dan berjanji memberi tahu pelanggan soal pemulihan layanan dalam beberapa bulan mendatang.

Kerusakan di wilayah Bahrain lebih parah. Amazon menyatakan tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data di ketiga zona ketersediaan di sana.

Kronologi Serangan Sejak Maret

Drone Iran pertama kali menyerang pusat data Amazon di Bahrain dan Uni Emirat Arab pada 1 Maret. Serangan itu terjadi di hari-hari awal perang yang dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

AWS saat itu mendesak pelanggan memindahkan sumber daya ke wilayah cloud lain dan menggunakan cadangan jarak jauh. Perusahaan juga memberikan kredit pelanggan senilai USD 150 juta setelah serangan awal pada bulan Maret.

Serangan lanjutan Iran pada 1 April kembali menargetkan pusat data Amazon di Bahrain. Pembaruan AWS terbaru mengakui gangguan zona ketersediaan kedua di wilayah Bahrain pada April, tetapi menyatakan sebagian besar pelanggan terdampak telah mengikuti rekomendasi perusahaan untuk memindahkan beban kerja komputasi awan mereka.

Pada 24 Juli, Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan rudal yang secara khusus menargetkan struktur pusat data Amazon yang tersisa di Bahrain. Kerusakan tersebut dikonfirmasi secara independen melalui citra satelit.

Dampak ke Pelanggan dan Pemulihan

AWS sebelumnya menangguhkan penagihan pelanggan di wilayah yang terdampak di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Perusahaan menghabiskan enam bulan terakhir untuk mencoba memulihkan operasi normal.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami di Bahrain dalam jangka panjang dan akan memberikan informasi terbaru lebih lanjut pada awal tahun 2027," kata AWS.

Perkembangan ini pertama kali dilaporkan oleh Reuters. Laporan tersebut menunjukkan serangan Iran menimbulkan kerusakan dahsyat pada pusat data yang menjadi tulang punggung layanan cloud di kawasan Timur Tengah.

Konflik Meluas ke Jalur Energi Global

Perang AS-Israel dengan Iran telah berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. Krisis energi global ikut meningkat akibat serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb.

Salah satu dampak positif yang muncul adalah meningkatnya minat global terhadap pembangkit listrik tenaga terbarukan, seperti panel surya di atap rumah. Perang mendorong percepatan transisi energi di sejumlah negara.

Bagi pelaku bisnis digital di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada satu penyedia cloud menyimpan risiko geopolitik. Strategi multi-cloud dan cadangan data lintas wilayah menjadi pertimbangan yang semakin mendesak.

Terkini