IHSG Menguat ke Level 5.924 Dipicu Sinyal Damai AS-Iran & Proyeksi IMF

IHSG Menguat ke Level 5.924 Dipicu Sinyal Damai AS-Iran & Proyeksi IMF
Ilustrasi - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: NET)

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini, Jumat (10/7/2026), di zona hijau. Laju penguatan IHSG kali ini disokong oleh pergerakan positif saham-saham seperti BBRI, BMRI, dan BRPT.

Berdasarkan data dari RTI Infokom pada pukul 16.00 WIB, indeks mencatatkan kenaikan sebesar 0,20% hingga mendarat di level 5.924,36. Volume perdagangan mencapai 18,3 miliar lembar saham dengan nilai transaksi menyentuh Rp8,37 triliun. 

Dalam dinamika pasar hari ini, ada 364 saham yang menguat, 241 saham melemah, dan 185 saham stagnan, sementara kapitalisasi pasar melonjak ke angka Rp10.363 triliun. 

Secara rinci, saham BBRI merangkak naik 0,36% ke posisi Rp2.790, saham BMRI terapresiasi 0,99% ke level Rp4.080, serta saham BRPT melesat 1,25% ke level Rp1.620 per saham.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menuturkan IHSG dan Bursa regional Asia bergerak menguat menyusul laporan Amerika Serikat (AS) dan Iran akan melanjutkan negosiasi perdamaian. 

Hal ini menjadi sebuah sinyal harapan negosiasi diplomasi lanjutan setelah AS dan Iran melakukan serangan militer di Teluk awal pekan ini.

Sinyal positif ini mengemuka setelah Presiden AS Donald Trump memberikan indikasi untuk tetap berjalan bersama proses perundingan dengan Iran. 

Di sisi lain, Iran dikabarkan tengah berupaya membuka ruang diskusi guna meredam kecemasan pasar global terkait ancaman mandeknya pasokan komoditas yang berkepanjangan serta potensi tekanan inflasi.

Dari dalam negeri, sentimen positif turut datang melalui laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026 rilisan Dana Moneter Internasional (IMF). 

Lembaga tersebut memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kokoh di level 5,0% pada tahun 2026 dan naik ke angka 5,1% pada tahun 2027. Angka proyeksi ini terpantau stagnan jika dikomparasikan dengan laporan yang dirilis pada April 2026 lalu. 

Fondasi ekonomi Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang baik di tengah pusaran perlambatan ekonomi global serta fluktuasi negara-negara tetangga. 

Estimasi ini dinilai merefleksikan pertumbuhan yang masuk akal di kala tren penurunan ekonomi tengah melanda sebagian wilayah Asia dan negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar di dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index