JAKARTA - PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) menargetkan perluasan jangkauan produk alat diagnostik ke fasilitas kesehatan (faskes) primer pasca-melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perseroan memandang kebutuhan layanan diagnostik masih terbuka sangat lebar sejalan dengan program skrining kesehatan nasional yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah.
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menyatakan perseroan melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum sepenuhnya terjangkau layanan diagnostik.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," kata Cristina dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).
Cristina menjelaskan bahwa prospek industri alat kesehatan masih sangat menjanjikan. Pemerintah diketahui mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada 2026 dan menargetkan program skrining kesehatan nasional menjangkau 140 juta penduduk.
Menurutnya, dengan dukungan lebih dari 10.000 puskesmas di Indonesia serta meningkatnya fokus pemerintah pada deteksi dini penyakit, industri diagnostik in vitro masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar di tahun-tahun mendatang.
Untuk menangkap peluang tersebut, PRDL mengandalkan portofolio lebih dari 1.083 stock keeping unit (SKU) produk aktif yang telah menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota. Produk perseroan kini digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan, yang terdiri atas sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan, serta institusi kesehatan lainnya.
Perseroan juga mengandalkan lini produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70% untuk memperkuat daya saing di tengah kebutuhan alat kesehatan nasional yang tinggi dan dominasi produk impor.
Melalui dana hasil IPO, PRDL berencana memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, dan memperkuat kontribusi terhadap industri alat kesehatan nasional.
Terkait kinerja, PRDL mencatatkan pemulihan signifikan pada 2025 dengan pendapatan sebesar Rp74,4 miliar, naik 27%. Laba bersih tumbuh 70,7% menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA naik 66,9% menjadi Rp29,2 miliar.
PRDL resmi mencatatkan saham perdana di BEI hari ini, Kamis (9/7/2026), dengan melepas 497,9 juta saham baru seharga Rp120 per saham, dan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp59,75 miliar.