JAKARTA – Mengakhiri jalinan asmara kerap menjadi momen yang sangat menyakitkan. Situasi ini acap kali terasa lebih berat ketika perpisahan dipicu oleh memudarnya perasaan, tanpa melibatkan kesalahan besar apa pun.
Anda mungkin telah berupaya menyampaikan keputusan tersebut dengan cara terbaik agar mantan pasangan tidak tersakiti. Namun, ikhtiar tersebut sering kali gagal dan justru menimbulkan rasa bersalah yang mendalam bagi pihak yang mengambil keputusan untuk berpisah.
"Kami mungkin mendapati diri kami terus-menerus memikirkan perpisahan dan peran yang kami mainkan di dalamnya, serta merasa seolah kami adalah orang 'jahat' karena mengakhiri hubungan tersebut," ujar Elena Touroni, seorang psikolog konsultan sekaligus salah satu pendiri The Chelsea Psychology Clinic di London, Kamis (18/6/2026).
Rasa bersalah pascaputus merupakan emosi yang umum terjadi. Kekecewaan atas kegagalan hubungan sering memicu perasaan bersalah karena telah melukai orang lain, meskipun intensitasnya bergantung pada kerentanan emosional individu serta situasi perpisahan itu sendiri.
Seseorang bisa saja merasa tak berdaya oleh penyesalan, meski ia menyadari sepenuhnya bahwa perpisahan adalah keputusan yang paling tepat.
Logika mungkin sudah menuntun pada alasan untuk menyudahi hubungan, namun kesadaran telah melukai orang lain tetap menghadirkan rasa bersalah.
"Ketika tidak ada alasan yang jelas untuk mengakhiri hubungan, terkadang hal itu bisa menjadi lebih sulit," tutur Touroni.
Menyalahkan pihak lain atas pertengkaran memang mempermudah seseorang untuk menghindari tanggung jawab atas kandasnya hubungan.
Akibatnya, saat dihantui rasa bersalah, pihak yang memutus pasangan rentan mengalami rasa malu, meragukan keputusannya sendiri, hingga cenderung mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
Meski demikian, penyesalan tidak selamanya negatif. Seperti emosi pada umumnya, rasa bersalah memiliki fungsi dan tidak selalu hadir untuk menyiksa batin.
Apabila penyesalan muncul akibat perilaku negatif saat putus—seperti berselingkuh atau mengeluarkan ucapan yang menyakitkan—hal ini menjadi sinyal untuk memperbaiki diri di masa depan.
Jika Anda tidak melakukan tindakan jahat, Anda hanya perlu mengendalikan emosi tersebut dengan meyakinkan diri bahwa keputusan yang diambil sudah tepat, betapapun sulit situasinya.
Langkah awal berdamai dengan keputusan ini adalah mengakuinya sebagai emosi sesaat. Touroni menyarankan agar Anda senantiasa mengingatkan diri sendiri dengan afirmasi bahwa Anda mungkin merasa bersalah, tetapi tetaplah pribadi yang baik.
Hal ini bisa dilakukan di dalam hati, di depan cermin, atau melalui tulisan. Anda juga perlu bersikap baik pada diri sendiri dengan beristirahat cukup dan membiarkan tubuh merasakan emosi tersebut tanpa penolakan. Mencatat isi pikiran di buku harian juga sangat membantu dalam memproses fase perpisahan.
Jangan memendam rasa bersalah karena dampaknya dapat memicu kecemasan hingga depresi. Ingatlah bahwa emosi ini bersifat sementara dan akan mereda. Menghakimi diri sendiri justru hanya akan memperlama durasi rasa bersalah tersebut.
"Emosi itu ibarat ombak. Mereka akan naik, mencapai puncaknya, dan akhirnya berlalu pada waktunya sendiri," tegas Touroni.
Pada akhirnya, menjaga perasaan orang lain bukanlah tanggung jawab Anda jika harus mengorbankan kebahagiaan pribadi. Berpisah karena hilangnya kecocokan adalah tindakan jujur dan berani demi kebaikan kedua belah pihak.