Pasuruan Dilanda Kekeringan, 211 KK Krisis Air Bersih

Pasuruan Dilanda Kekeringan, 211 KK Krisis Air Bersih
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. (Foto: NET)

JAKARTA - Beberapa kawasan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kini mulai menghadapi kekeringan serta krisis air bersih yang disebabkan oleh fenomena hari tanpa hujan. Akibat menurunnya debit sumber air, setidaknya ratusan kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut situasi tersebut menjadi salah satu fenomena cuaca yang tengah berlangsung di berbagai daerah. 

"Meskipun banjir saat ini melanda sejumlah wilayah, fenomena hari tanpa hujan yang memicu kekeringan juga dilaporkan melanda beberapa tempat, salah satu yang terbaru teridentifikasi di wilayah Kabupaten Pasuruan," ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan laporan berkala BPBD setempat, krisis air bersih di Pasuruan terjadi sejak Kamis (18/6/2026) pagi. Pusdalops BNPB mengonfirmasi bahwa dampak kekeringan akibat minimnya curah hujan ini terkonsentrasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan. 

Kondisi ini membuat 211 KK terdampak langsung akibat penurunan debit sumber air di wilayah hilir Kabupaten Pasuruan.

Menyikapi keadaan darurat tersebut, tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Pasuruan bersama instansi terkait melakukan penanganan dengan menyalurkan air bersih menggunakan armada truk tangki secara berkala. Pasokan tersebut disalurkan melalui pos-pos penampungan guna memenuhi kebutuhan warga selama masa kekeringan.

BNPB pun mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat di wilayah rawan kekeringan agar mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air dan memperkuat mitigasi. Langkah ini dinilai krusial guna mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan hingga puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus mendatang.

Sementara itu, BPBD Jawa Timur mencatat delapan daerah berstatus siaga darurat kekeringan, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Banyuwangi, Trenggalek, dan Blitar. Kepala BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyatakan bahwa distribusi air untuk daerah terdampak akan dipenuhi oleh pemerintah daerah setempat.

“Kalau sementara ini mereka melakukan distribusi air bersih itu pakai alokasi anggarannya mereka sendiri. Jadi kami belum mengeluarkan, seperti Bondowoso,” kata Gatot, Jumat (19/6/2026).

Jika anggaran daerah tidak mencukupi, Pemprov Jatim melalui BPBD akan memberikan dukungan. Saat ini, beberapa daerah yang telah menerima distribusi air meliputi Kabupaten Bojonegoro, Probolinggo, Pasuruan, dan Bondowoso.

“Selain air, kami menyiapkan andon, terpal, jeriken seperti tahun-tahun lalu hari yang lalu. Tapi sejauh ini dari masing-masing kabupaten kota masih ini sanggup ya untuk air bersih pakai anggaran,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index