Minyak Dunia

Harga Minyak Dunia Bertahan Kuat di Tengah Dinamika Global

Harga Minyak Dunia Bertahan Kuat di Tengah Dinamika Global
Harga Minyak Dunia Bertahan Kuat di Tengah Dinamika Global

JAKARTA - Pasar energi global kembali menunjukkan ketegangan setelah harga minyak mentah bertahan di level tertinggi dalam hampir empat bulan terakhir. 

Kondisi ini mencerminkan kombinasi sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta faktor pasokan yang semakin ketat. 

Pelaku pasar mencermati perkembangan ini dengan waspada karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global dalam jangka pendek.

Pada penutupan perdagangan 28 Januari 2026, harga minyak Brent tercatat menguat 83 sen atau 1,23 persen ke level US$ 68,40 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik 82 sen atau 1,31 persen menjadi US$ 63,21 per barel. Kenaikan tersebut menempatkan harga minyak pada posisi tertinggi sejak beberapa bulan terakhir.

Sentimen Geopolitik Dorong Harga Tetap Tinggi

Ketegangan geopolitik kembali menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak dunia. Pasar bereaksi terhadap meningkatnya tekanan Amerika Serikat kepada Iran terkait program nuklirnya. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras agar Iran bersedia duduk di meja perundingan.

Trump menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat berikutnya akan jauh lebih besar apabila kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, wilayah yang memiliki peran vital dalam pasokan energi global.

Iran pun merespons dengan nada tegas. Pemerintah Iran menyatakan siap melawan dengan kekuatan penuh apabila mendapat serangan. 

Situasi semakin memanas setelah sebuah kapal induk Amerika Serikat beserta armada pendukungnya tiba di kawasan Timur Tengah. Kehadiran armada militer tersebut memperkuat persepsi risiko geopolitik di mata investor energi.

Di tengah ketegangan tersebut, pasar minyak juga mencermati peluang meredanya konflik Rusia dan Ukraina. Negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat dijadwalkan kembali digelar di Abu Dhabi pada 1 Februari mendatang. Meski demikian, ketidakpastian hasil perundingan membuat pasar tetap berhati-hati dalam merespons sentimen positif tersebut.

Kinerja Bulanan Terbaik Sejak Pertengahan Tahun

Secara bulanan, harga minyak Brent dan WTI mencatatkan kinerja terbaik sejak Juli 2023. Brent diperkirakan melonjak sekitar 12 persen sepanjang bulan ini, sementara WTI menguat sekitar 10 persen. Lonjakan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar dari kekhawatiran permintaan menjadi fokus pada risiko pasokan.

Kenaikan signifikan ini tidak hanya dipengaruhi oleh geopolitik, tetapi juga oleh faktor fundamental lainnya. Investor memandang pasokan minyak global semakin ketat seiring dengan berbagai gangguan produksi dan distribusi di sejumlah negara produsen utama.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk meningkatkan posisi beli, terutama di tengah ekspektasi bahwa harga minyak masih berpotensi bertahan di level tinggi dalam waktu dekat. Meski demikian, volatilitas tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi, mengingat dinamika geopolitik yang cepat berubah.

Penurunan Stok Minyak AS Perkuat Reli

Dari sisi fundamental, harga minyak turut ditopang oleh penurunan tak terduga stok minyak mentah Amerika Serikat. Badan Informasi Energi AS atau EIA mencatat persediaan minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari.

Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan sebesar 1,8 juta barel. Penurunan stok ini mencerminkan kuatnya ekspor minyak mentah AS serta berkurangnya volume impor dalam periode tersebut.

Selain itu, badai musim dingin yang melanda sebagian besar wilayah Amerika Serikat turut menekan infrastruktur energi. Produksi minyak domestik sempat turun sekitar 600.000 barel per hari atau sekitar 4 persen dari total produksi nasional. Meski produsen mulai mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak, dampak gangguan cuaca tersebut masih dirasakan pasar.

Pelemahan Dolar dan Gangguan Pasokan Global

Faktor eksternal lain yang menjaga harga minyak tetap tinggi adalah melemahnya dolar Amerika Serikat. Nilai dolar mendekati level terendah dalam empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama. 

Kondisi ini membuat komoditas berbasis dolar, termasuk minyak, menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong permintaan.

Bank Sentral AS atau The Fed sendiri memutuskan untuk menahan suku bunga dengan alasan inflasi masih relatif tinggi meskipun pertumbuhan ekonomi tetap solid. 

Keputusan tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap dolar dan secara tidak langsung mendukung penguatan harga minyak.

Di sisi lain, gangguan produksi di Kazakhstan turut memperkuat reli harga minyak. Negara anggota OPEC+ tersebut berharap produksi di ladang Tengiz dapat pulih secara bertahap dalam sepekan. Namun, sejumlah sumber menyebutkan bahwa proses pemulihan berpotensi memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, pelemahan dolar AS, penurunan stok minyak, serta gangguan pasokan global, harga minyak dunia masih berpeluang bertahan di level tinggi. 

Pelaku pasar kini menanti perkembangan terbaru dari negosiasi geopolitik dan data ekonomi global yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index