BI

Suku Bunga Acuan Bisa Turun Lebih Lanjut, Kata BI

Suku Bunga Acuan Bisa Turun Lebih Lanjut, Kata BI
Suku Bunga Acuan Bisa Turun Lebih Lanjut, Kata BI

JAKARTA - Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), mengungkapkan potensi penurunan lebih lanjut suku bunga acuan di tahun ini, mengingat kondisi inflasi yang terus berada di level rendah serta prospek pertumbuhan ekonomi yang cukup optimis. 

Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa BI masih memiliki ruang untuk memperlonggar kebijakan moneter demi mendukung pemulihan ekonomi nasional. 

Bahkan setelah serangkaian pemangkasan suku bunga sepanjang 2025, BI tetap menjaga fleksibilitas untuk menyesuaikan suku bunga sesuai dengan dinamika ekonomi yang ada.

Inflasi Terjaga di Level Rendah

Salah satu alasan yang mendasari potensi penurunan suku bunga lebih lanjut adalah inflasi inti yang tetap rendah. Inflasi inti yang tercatat di angka 2,38% pada Desember 2025 berada di bawah titik tengah sasaran inflasi BI yang berkisar antara 2,5%±1%. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak terlalu besar, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Perry menilai bahwa meskipun inflasi masih dalam kendali, kapasitas ekonomi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan saat ini. 

Ini berarti ada potensi ruang yang belum dimanfaatkan secara optimal dalam perekonomian, dan penurunan suku bunga dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong sektor-sektor yang masih terhambat.

Penurunan Suku Bunga Acuan di 2025

Bank Indonesia sendiri telah melakukan lima kali pemangkasan suku bunga acuan sepanjang tahun 2025. Sejak September 2024, BI telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,75%. 

Langkah ini merupakan upaya BI untuk menanggapi kondisi ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan, sembari menjaga stabilitas harga. 

Menurunnya suku bunga acuan akan memberikan dampak langsung pada sektor-sektor ekonomi yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan dan konsumsi rumah tangga.

Meskipun penurunan suku bunga telah dilakukan, Perry menegaskan bahwa BI tetap melihat peluang untuk melakukan penurunan lebih lanjut. Hal ini didasarkan pada pemantauan ketat terhadap inflasi dan prospek ekonomi yang lebih baik ke depan. 

Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara menjaga stabilitas harga dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kebijakan Moneter dan Ekspansi Likuiditas

Kebijakan moneter Bank Indonesia, menurut Perry, tidak hanya berfokus pada penurunan suku bunga, tetapi juga pada berbagai langkah lainnya yang mendukung likuiditas di pasar. 

BI, misalnya, terus melaksanakan ekspansi likuiditas dan mendalami pasar uang guna memperlancar transmisi kebijakan moneter. Pendalaman pasar uang ini penting agar kebijakan BI dapat langsung dirasakan oleh pelaku ekonomi, khususnya di sektor riil.

Selain itu, BI juga memberikan perhatian pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi pasar sekunder. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik sekaligus memastikan pasar uang berfungsi dengan baik. 

Dengan kebijakan-kebijakan ini, Bank Indonesia berupaya untuk menjaga kestabilan sistem keuangan, memastikan likuiditas terjaga, serta memberikan ruang yang cukup bagi pertumbuhan ekonomi.

Potensi Pertumbuhan Ekonomi di Masa Depan

Perry juga menyampaikan bahwa BI memproyeksikan kapasitas produksi nasional dalam dua tahun ke depan akan berada di kisaran 5,8-6%. Proyeksi ini menunjukkan bahwa ada potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar jika kondisi eksternal dan internal mendukung. 

Meski begitu, BI juga terus memperhatikan berbagai faktor global yang dapat mempengaruhi prospek ekonomi Indonesia, seperti perubahan kebijakan moneter negara-negara maju dan dinamika perdagangan internasional.

Dengan proyeksi pertumbuhan kapasitas produksi yang cukup solid, BI berencana untuk mengatur kebijakan moneter yang dapat mengurangi tekanan inflasi sembari mendukung pemulihan sektor ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan. 

Penurunan suku bunga lebih lanjut diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti perbankan, industri manufaktur, dan sektor konsumsi rumah tangga.

Menghadapi Tantangan Ekonomi Global

Meski situasi ekonomi domestik menunjukkan angka-angka yang menjanjikan, BI tetap memperhatikan tantangan dari luar negeri. Ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama dari negara-negara maju seperti AS, dapat mempengaruhi pasar keuangan Indonesia. 

Namun, Perry menegaskan bahwa BI akan terus mengkaji situasi global dan menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan domestik.

Sebagai contoh, keputusan The Federal Reserve atau bank sentral AS mengenai suku bunga dapat mempengaruhi arus modal internasional dan nilai tukar rupiah.

 Untuk itu, Bank Indonesia tetap mengedepankan kehati-hatian dan kebijakan yang fleksibel agar Indonesia tetap dapat mengatasi guncangan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Komitmen Bank Indonesia untuk Stabilitas Ekonomi

Perry Warjiyo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian.

 Kebijakan moneter yang dijalankan tidak hanya bertujuan untuk menurunkan suku bunga, tetapi juga untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong sektor ekonomi untuk tumbuh lebih tinggi.

Dengan berbagai langkah strategis, termasuk penurunan suku bunga acuan, penguatan likuiditas pasar, dan kebijakan ekspansi yang lebih fleksibel, Bank Indonesia berharap dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tetap berada pada jalur yang stabil dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index