JAKARTA - Penelitian anyar yang dimuat dalam Current Developments in Nutrition mengindikasikan bahwa rutinitas memakan alpukat tiap hari berhubungan dengan manajemen kadar gula darah yang lebih optimal.
Berdasarkan laporan Eating Well pada Selasa (30/6), riset baru itu memperlihatkan individu dewasa yang memakan satu buah alpukat ukuran besar tiap hari selama jangka waktu enam bulan mendapati reduksi beban glikemik diet sebesar hampir 14 poin bila dikomparasikan dengan mereka yang absen mengonsumsi alpukat.
Merujuk pada analisis sekunder dari Habitual Diet and Avocado Trial, penelitian yang melibatkan 1.008 individu dewasa dengan ukuran lingkar pinggang lebih lebar mendapati, kelompok yang mengonsumsi satu alpukat besar (168 gram) per hari dalam periode tersebut tanpa mengutak-atik pola makan serta intensitas aktivitas mempunyai beban glikemik diet rata-rata 13,7 poin lebih rendah ketimbang kelompok kontrol.
Kelompok kontrol tersebut berisi orang-orang yang menjalankan pola makan normal seperti biasa dengan pembatasan konsumsi alpukat paling banyak dua buah dalam sebulan.
Beban glikemik sendiri ialah sebuah tolok ukur yang mengalkulasi kualitas beserta kuantitas karbohidrat di dalam asupan makanan.
Pada prinsipnya, beban glikemik menggambarkan seberapa signifikan porsi makanan tertentu mampu menaikkan kadar gula di dalam darah.
Menu makanan dengan karakteristik beban glikemik yang rendah kerap diasosiasikan dengan kontrol gula darah yang lebih bagus serta reduksi risiko gangguan penyakit kronis.
Sajian data dari riset yang baru ini pun memperlihatkan bahwa para relawan yang memakan alpukat saban hari memiliki kecenderungan mengonsumsi serat serta lemak tak jenuh dalam jumlah lebih banyak, sekaligus lebih minim protein hewani dan karbohidrat.
Buah alpukat pun melimpah akan serat, yang mampu memperlambat proses pencernaan serta absorpsi karbohidrat, sekaligus dapat menyokong moderasi respons gula darah sehabis makan.
Riset yang baru ini mempunyai sejumlah keterbatasan. Oleh karena statusnya yang merupakan analisis sekunder dari sebuah uji coba yang cakupannya lebih masif, kesimpulan di dalam riset ini wajib dipandang sebagai temuan awal hingga ada konfirmasi dari riset-riset berikutnya.
Selain itu, seluruh relawan riset mengidap obesitas sentral ketika penelitian dimulai, sehingga dampaknya boleh jadi tidak relevan untuk mereka yang mempunyai struktur komposisi tubuh atau profil metabolisme yang berlainan.
Kendala lainnya, proyek studi ini disokong secara finansial oleh institusi industri alpukat Avocado Nutrition Center, sehingga berpotensi memicu bias.
Meski begitu, hasil temuan dalam riset teranyar ini tetap dapat dimanfaatkan selaku bahan masukan ekstra dalam merancang pola makan.
Hasil studi ini mengindikasikan bahwa alpukat yang menyimpan perpaduan serat, lemak sehat, serta senyawa bioaktif merupakan opsi pelengkap yang amat bagus untuk pola diet yang seimbang.
Untuk penerapan sehari-hari, buah alpukat dapat disajikan sebagai bahan pelengkap hidangan roti dan salad ataupun diolah menjadi jus.
Mengingat mengonsumsi satu buah alpukat per hari dapat memasok kisaran 320 kalori, langkah yang bijak adalah memposisikan alpukat sebagai subtitusi lemak lain di dalam diet, alih-alih menjadikannya sebagai pasokan lemak ekstra.