JAKARTA - Protein kerap dinilai sebagai elemen utama dalam menerapkan gaya hidup sehat, terutama untuk mendukung pembentukan otot sekaligus menjaga performa metabolisme tubuh.
Walakin, pakar kesehatan di bidang penuaan sehat memberikan peringatan bahwa mengonsumsi protein dalam porsi berlebih, khususnya yang bersumber dari protein hewani, berisiko membawa dampak buruk terhadap kesehatan jangka panjang.
Berdasarkan laporan dari Real Simple, asupan protein yang melewati batas normal mampu memicu kenaikan hormon Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1), sejenis hormon yang mengontrol pertumbuhan serta multiplikasi sel tubuh.
Walaupun zat ini krusial bagi sistem tubuh, tingkat hormon IGF-1 yang konstan meninggi pada fase dewasa dilaporkan mempunyai kaitan erat dengan laju penuaan yang berjalan lebih cepat serta lonjakan risiko terserang penyakit kronis.
Terkait alasan mengapa penumpukan protein menjadi sebuah persoalan, Dr. Joseph Antoun selaku CEO Prolon sekaligus ahli healthy aging menguraikan bahwa protein yang diperoleh dari komoditas daging, telur, serta produk susu dapat menstimulasi peningkatan kadar hormon IGF-1 dalam tubuh.
"IGF-1 adalah hormon yang berperan penting dalam pertumbuhan dan proliferasi sel," kata Antoun. Menurut dia, masalah muncul ketika kadar hormon tersebut tetap tinggi dalam jangka panjang saat seseorang memasuki usia dewasa.
Lebih lanjut, Antoun memaparkan bahwa tumpukan hormon IGF-1 yang melampaui ambang batas normal dapat memacu pertumbuhan sel secara masif ketimbang mendukung proses pemulihan sel itu sendiri.
Fenomena tersebut juga bisa menekan aktivitas autophagy, yakni sebuah mekanisme alamiah yang dimiliki tubuh guna membersihkan serta mendaur ulang elemen seluler yang telah rusak.
"IGF-1 yang berlebihan berbahaya bagi umur panjang yang sehat karena meningkatkan pertumbuhan sel dibandingkan perbaikannya, menurunkan autophagy, dan meningkatkan risiko penyakit kronis," ujarnya.
Mengenai konsekuensi terhadap mekanisme penuaan, Antoun berpendapat bahwa hormon IGF-1 sejatinya amat krusial pada masa pertumbuhan anak-anak serta saat tubuh tengah meregenerasi jaringan otot. Namun, apabila kadarnya terus-menerus tinggi ketika seseorang sudah menginjak usia dewasa, akibat yang ditimbulkan akan menjadi bertolak belakang.
Dia menyatakan bahwa situasi semacam itu berhubungan langsung dengan akselerasi penuaan biologis sekaligus peningkatan potensi terjangkit bermacam gangguan kesehatan yang umumnya datang seiring bertambahnya usia.
Antoun bahkan mengistilahkan kondisi ini sebagai "diabetes protein", yaitu sebuah keadaan di mana kadar IGF-1 yang melonjak membuat tubuh menua dengan ritme yang jauh lebih kilat daripada laju ideal yang diperlukan untuk mempertahankan massa otot.
Oleh sebab itu, ia memandang bahwa berfokus pada pemenuhan protein dalam takaran besar tanpa mengindahkan asas keseimbangan gizi bukanlah sebuah langkah yang tepat demi kesehatan masa depan.
Kendati demikian, Antoun tidak menganjurkan masyarakat untuk mengeliminasi seluruh asupan protein hewani dari menu makanan harian.
Sebagai alternatif, dirinya memberikan masukan untuk beralih ke pola diet yang lebih mengedepankan sumber protein nabati serta ikan, layaknya prinsip yang diadopsi dalam pola makan Mediterania, pescatarian, maupun flexitarian.
"Pola makan yang berfokus pada tanaman, kaya karbohidrat kompleks, protein nabati atau ikan, serta lemak sehat dari kacang-kacangan dan biji-bijian menawarkan pendekatan yang lebih didukung bukti ilmiah untuk kesehatan metabolik, pencegahan penyakit, dan umur sehat," jelas Antoun.
Ia pun mengimbuhkan bahwa studi ilmiah yang menyasar kelompok centenarian atau individu yang sanggup bertahan hidup hingga melewati usia 100 tahun memperlihatkan mayoritas dari mereka menerapkan diet berbasis nabati dengan batasan yang ketat terhadap konsumsi protein hewani.
Sebagai langkah awal, Antoun menyarankan agar transisi menu ini diimplementasikan secara bertahap tanpa harus menyetop konsumsi daging secara ekstrem. Metode praktis yang bisa dicoba adalah mulai menyubstitusi sebagian porsi protein hewani dengan alternatif nabati, seperti mengonsumsi tahu atau aneka kacang-kacangan.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang terbiasa menyantap ayam panggang dapat memasukkan porsi sayur yang lebih melimpah beserta variasi protein nabati ke dalam piring makannya supaya komposisi nutrisi harian menjadi lebih variatif.
Menurut dia, poin fundamental dari persoalan ini bukanlah memusuhi protein secara total, melainkan menjaga ritme keseimbangan dan tidak mengonsumsinya secara berlebihan.
"Like many other things, consuming animal protein in moderate amounts can be a small change that makes a big impact on long-term health," kata Antoun.