JAKARTA - Penguatan karakter di lingkungan pendidikan kembali menjadi sorotan, terutama dalam upaya menciptakan sekolah yang aman dan bebas dari praktik perundungan.
Di Jawa Timur, langkah konkret dilakukan melalui pelantikan ratusan kepala sekolah yang diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam membangun budaya integritas sekaligus menjaga kesehatan psikologis siswa.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya peran kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Tidak hanya fokus pada capaian akademik, para pemimpin sekolah juga dituntut untuk aktif mengawasi dinamika sosial siswa agar potensi konflik dapat dicegah sejak dini.
Peran Kepala Sekolah Dalam Membangun Lingkungan Aman
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta 128 kepala Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Sekolah Luar Biasa (SLB) memperkuat integritas serta mengantisipasi perundungan di lingkungan pendidikan.
“Penguatan karakter harus menjadi perhatian utama. Kepala sekolah harus lebih sering berinteraksi dengan siswa dan memastikan kondisi psikologis mereka terjaga, sehingga tidak terjadi bullying di lingkungan sekolah,” ujar Khofifah saat melantik 128 kepala sekolah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu.
Ia menegaskan kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan dan penguatan karakter peserta didik sejak dini.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti perundungan, konflik antarsiswa, hingga potensi kekerasan harus dicegah sejak dini melalui pembangunan harmoni di lingkungan pendidikan, karena kasus di perguruan tinggi dapat berawal dari jenjang sebelumnya.
Sinergi Program Di Tengah Keterbatasan Anggaran
Selain itu, Khofifah juga meminta kepala sekolah membangun sinergi di tengah keterbatasan anggaran, mengingat alokasi pendidikan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tidak lebih dari 20 persen sehingga program tetap berjalan efektif dan berdampak.
“Capaian tidak boleh berkurang, tetapi program harus lebih maksimal melalui sinergi yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyebut kualitas pendidikan Jawa Timur berada di atas rata-rata provinsi lain sehingga kepala sekolah diminta menjaga dan meningkatkan prestasi akademik maupun nonakademik yang telah diraih.
Pesan ini menekankan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghambat dalam menghadirkan inovasi dan kualitas pendidikan yang lebih baik.
Komposisi Kepala Sekolah Dan Mekanisme Penilaian
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan semestinya terdapat 130 kepala sekolah yang dilantik, namun dua orang ditunda karena masih dalam proses verifikasi kondisi sekolah.
Dari 128 kepala sekolah tersebut, sebanyak 56 orang merupakan promosi dari guru, terdiri atas 23 guru lulusan bakal calon kepala sekolah serta 33 kepala sekolah dari jalur nonreguler melalui program guru penggerak, sedangkan sisanya merupakan hasil mutasi.
Masa jabatan kepala sekolah berlangsung selama empat tahun, dengan jalur reguler dapat menjabat hingga dua periode, sedangkan jalur nonreguler hanya satu periode.
Aries menambahkan, evaluasi dilakukan melalui mekanisme penghargaan dan sanksi, dengan indikator penilaian meliputi integritas, inovasi, dan kebersihan lingkungan sekolah.
“Integritas, inovasi, dan kebersihan lingkungan sekolah menjadi indikator penting dalam penilaian kinerja kepala sekolah,” ujarnya.
Sistem evaluasi ini diharapkan mampu mendorong kinerja kepala sekolah agar terus meningkat dan berdampak nyata terhadap kualitas pendidikan.
Komitmen Integritas Dan Penguatan Tata Kelola Sekolah
Dalam kesempatan itu dilakukan pencanangan zona integritas melalui penandatanganan pakta integritas bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme guna memastikan tata kelola sekolah transparan dan akuntabel.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur masih melanjutkan pengisian jabatan kepala sekolah berikutnya karena sekitar 65 posisi saat ini masih kosong dan dijabat pelaksana tugas.
Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola pendidikan yang bersih dan profesional. Dengan kepemimpinan yang berintegritas, diharapkan sekolah mampu menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.
Secara keseluruhan, pelantikan kepala sekolah ini bukan sekadar pengisian jabatan administratif, tetapi bagian dari strategi besar dalam membangun sistem pendidikan yang lebih kuat.
Fokus pada integritas dan pencegahan perundungan menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh.
Ke depan, peran kepala sekolah akan semakin penting dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan. Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat, upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan berkualitas diharapkan dapat terwujud secara berkelanjutan.