JAKARTA - Penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah selama bulan Ramadan tetap harus mengutamakan kecukupan gizi untuk anak-anak.
Program ini, yang biasanya diberikan dalam bentuk paket makanan, harus memenuhi standar yang telah ditetapkan untuk menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak.
Ahli Gizi dari Ottimmo International Surabaya, Dr. Heni Adhianata, menekankan bahwa meskipun menu yang diberikan disesuaikan menjadi lebih praktis dan kering, komposisi gizi di dalamnya tidak boleh terabaikan.
Kriteria Gizi yang Harus Dipenuhi dalam Menu MBG
Dalam program MBG, meski menu makanan disesuaikan dengan kondisi Ramadan, standar gizi yang harus dipenuhi tetap sama. Menu tersebut harus mengandung komponen gizi utama, yaitu kalori, protein, lemak, karbohidrat, dan serat. Menurut Dr. Heni, jika seorang anak membutuhkan sekitar 2.000 kalori dalam sehari, maka setiap porsi makanan dalam program MBG harus memberikan sekitar 700 kalori.
"Jadi, setiap menu yang disediakan untuk anak-anak harus mencakup 700 kalori dengan komposisi yang seimbang, termasuk sumber karbohidrat kompleks, seperti roti, protein dari telur rebus, dan tambahan serat dari sayuran olahan kering atau buah utuh," jelas Heni.
Pentingnya komposisi yang seimbang dalam setiap porsi makanan ini agar anak tetap mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang mereka meskipun menu yang disajikan tidak lagi dalam bentuk makanan basah seperti biasa.
Tantangan Menu Kering yang Harus Diperhatikan
Menu kering yang diterapkan selama Ramadan tentu memiliki tantangan tersendiri. Salah satu masalah yang sering muncul adalah daya simpan makanan yang lebih terbatas, terlebih karena makanan tersebut tidak selalu langsung dikonsumsi. Hal ini menjadikan aspek keamanan pangan sangat penting.
"Keamanan pangan menjadi prioritas utama, terutama untuk makanan yang harus bertahan lebih dari satu hari. Oleh karena itu, umur simpan makanan harus diperhatikan dengan seksama, sehingga makanan tersebut tidak mudah basi atau rusak," tambah Heni.
Selain itu, buah potong tidak disarankan sebagai bagian dari menu kering MBG karena mudah rusak dan terkontaminasi. Sebagai alternatif, buah utuh yang tahan lama, seperti pisang, salak, atau jeruk, lebih direkomendasikan karena dapat bertahan antara 1 hingga 3 hari tanpa mengurangi kualitasnya.
Pentingnya Kemasan yang Higienis dan Keamanan Makanan
Kemasan makanan yang higienis menjadi hal yang tak kalah penting. Proses pengemasan yang tidak bersih dapat menyebabkan pencemaran dan berisiko terhadap kesehatan anak. Bahkan, dalam beberapa kasus, roti tawar atau lauk yang diporsikan ulang dari kemasan besar menjadi paket kecil untuk anak-anak juga memerlukan perhatian khusus agar tetap bersih dan aman.
Dr. Heni mengingatkan bahwa kebersihan kemasan sangat penting untuk menjaga makanan tetap aman hingga tiba di tangan penerima. Ini berlaku tidak hanya untuk makanan yang dikemas dalam kemasan kecil, tetapi juga untuk pengemasan yang dilakukan di tingkat sekolah, yang harus memenuhi standar kebersihan yang ketat.
Transparansi dan Kualitas Gizi yang Tidak Boleh Dikompromikan
Dalam pelaksanaan program MBG, Dr. Heni juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam proses pengadaan makanan. Meskipun terdapat berbagai keterbatasan biaya dalam pelaksanaan program ini, kualitas gizi dalam setiap paket makanan tetap harus dijaga agar tidak menimbulkan ketidakpuasan atau keresahan di kalangan masyarakat.
"Biaya yang terbatas tidak boleh mengorbankan kualitas gizi. Proses transparansi dan kebijakan terkait biaya makanan harus ditegakkan dengan jelas, agar tidak muncul perbedaan kualitas makanan antar sekolah atau daerah," ujar Heni.
Pentingnya pengelolaan food cost ini bukan hanya untuk menjamin kualitas gizi yang sesuai dengan standar, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.
Adanya perbedaan kualitas makanan yang diberikan bisa menimbulkan masalah sosial, terutama di kalangan orangtua yang merasa anak mereka mendapatkan makanan dengan kualitas yang kurang baik dibandingkan dengan anak-anak lain.
Keberagaman Menu MBG Tetap Harus Diperhatikan
Meski dalam beberapa wilayah pembagian MBG dilakukan secara dirapel atau sekali bagi dalam sepekan selama Ramadan, keberagaman menu tetap harus dijaga. Dr. Heni menekankan bahwa keseimbangan gizi tidak hanya dilihat dari jumlah kalori yang diberikan, tetapi juga dari variasi jenis makanan yang disajikan.
"Keseimbangan gizi tidak hanya tentang angka kalori, tetapi juga tentang variasi makanan yang diterima anak-anak. Mereka harus mendapatkan berbagai macam nutrisi dari berbagai jenis makanan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal," kata Heni.
Variasi dalam menu, baik itu berupa sumber protein, karbohidrat, maupun sayuran dan buah, penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan semua zat gizi yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, menjaga kualitas dan keberagaman menu juga memberikan pengalaman makan yang lebih menarik dan bervariasi bagi anak-anak.