JAKARTA - Ketidakpastian global yang terus meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi arus investasi internasional. Di tengah konflik geopolitik dan eskalasi ketegangan antarnegara, banyak pelaku usaha bersikap lebih berhati-hati dalam menanamkan modalnya.
Kondisi ini turut dirasakan oleh berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, yang selama ini aktif menarik investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyadari bahwa dinamika global tersebut tidak dapat dihindari. Namun, di tengah situasi yang berada di luar kendali pemerintah, fokus utama diarahkan pada penguatan faktor-faktor domestik yang dapat dikendalikan, terutama dalam menciptakan iklim investasi yang lebih ramah dan pasti bagi para investor.
Geopolitik Global Beri Tekanan pada Minat Investasi
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengakui bahwa konflik dan ketegangan geopolitik global turut memengaruhi minat investasi, termasuk ke Indonesia. Menurutnya, sebagian besar faktor eksternal tersebut berada di luar kontrol pemerintah, sehingga dampaknya tidak dapat dihindari sepenuhnya.
Rosan mencontohkan eskalasi konflik antarnegara, seperti keterlibatan Amerika Serikat dengan Venezuela, sebagai dinamika global yang tidak bisa dikendalikan Indonesia.
Situasi semacam ini berpotensi memengaruhi iklim investasi karena negara-negara yang tengah menghadapi persoalan internal cenderung menurunkan fokus terhadap ekspansi investasi ke luar negeri.
“Kalau ditanya apakah ada dampaknya ya pastinya ada lah ke investasi. Misalnya, US menyerang Venezuela, kan di luar kontrol kita. Tapi yang di dalam kontrol kita itu yang coba kita selalu perbaiki. Terutama dari segi regulasi dan juga kebijakan (dalam negeri) supaya menjadi environment friendly untuk investasi,” ujarnya.
Fokus Pemerintah Perbaiki Regulasi dan Kebijakan
Di tengah tekanan global tersebut, pemerintah bersama BPI Danantara memilih untuk memusatkan perhatian pada aspek-aspek domestik yang berada dalam kendali. Menurut Rosan, perbaikan regulasi dan kebijakan menjadi langkah krusial untuk menciptakan lingkungan investasi yang lebih kondusif dan kompetitif.
Ia menegaskan bahwa upaya tersebut bertujuan untuk menekan tingkat ketidakpastian yang kerap menjadi kekhawatiran utama investor. Dalam dunia investasi, risiko merupakan hal yang tidak terpisahkan, namun ketidakpastian yang tinggi dinilai jauh lebih meresahkan karena sulit diukur dan dimitigasi.
“Pada saat mereka investasi mereka tau kok resiko-resikonya apa saja yang harus diperlukan. Tapi yang mereka tidak suka apabila ketidakpastiannya itu tinggi. Itu susah diukur oleh mereka dari segi mitigasi resikonya,” sambungnya.
Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya memberikan kepastian hukum dan kebijakan agar investor memiliki gambaran yang jelas dalam mengambil keputusan. Kepastian ini diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor meski kondisi global tengah bergejolak.
Komunikasi Intensif Jaga Kepercayaan Investor
Rosan menilai bahwa di tengah tantangan global, penyebaran investasi di Indonesia sejauh ini masih berjalan cukup baik. Negara-negara mitra dinilai tetap menunjukkan komitmen untuk berinvestasi, meskipun dengan pendekatan yang lebih selektif.
Untuk menjaga kepercayaan tersebut, komunikasi intensif terus dilakukan dengan para investor. Upaya ini dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pertemuan langsung, pertemuan daring, kunjungan delegasi ke Indonesia, hingga kunjungan pemerintah ke luar negeri.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendengar secara langsung kebutuhan investor, sekaligus memahami hal-hal yang perlu ditingkatkan agar iklim investasi semakin menarik. Menurut Rosan, pendekatan yang aktif dan terbuka menjadi kunci dalam menjaga hubungan jangka panjang dengan para investor.
“Memang harus kerja keras ya. Ini tim saya, pak Wamen, Pak Ses, Deputi saya, ini kerjanya harus lebih keras lagi,” lanjutnya.
Persaingan Regional dan Optimisme Investasi Indonesia
Selain tantangan global, Rosan juga menyoroti ketatnya persaingan antarnegara dalam menarik investasi. Indonesia saat ini bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, termasuk dalam upaya menarik investasi di sektor strategis seperti pusat data atau data center.
Meski persaingan semakin ketat, Rosan menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi daya tarik bagi investor. Beberapa di antaranya adalah harga listrik yang relatif lebih kompetitif, bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, serta stabilitas nasional yang tetap terjaga.
Namun demikian, Rosan menekankan bahwa penguatan kualitas talenta dalam negeri menjadi pekerjaan rumah penting. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, berbagai keunggulan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung masuknya investasi.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Rosan menyampaikan optimisme bahwa investasi ke Indonesia akan terus berjalan dan meningkat sesuai target, meskipun dibayangi ketegangan politik global. Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintah harus terus bekerja keras untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan iklim investasi tetap stabil serta menarik.
“Stabilitas di negara kita juga sangat-sangat bagus, sangat-sangat terjaga. Jadi ya itu semua yang kita tidak boleh terlena tapi terus kita tingkatkan,” pungkasnya.