JAKARTA - Memasuki awal tahun, dinamika pasar modal Indonesia menunjukkan geliat yang masih terjaga meski belum ditandai oleh kehadiran emiten baru di lantai bursa.
Di tengah sentimen global yang masih fluktuatif dan sikap wait and see sebagian pelaku usaha, Bursa Efek Indonesia tetap mencatat adanya minat perusahaan untuk melantai melalui penawaran umum perdana saham.
Bursa Efek Indonesia menyebutkan bahwa hingga pertengahan Januari, terdapat sejumlah perusahaan yang telah masuk dalam antrean IPO.
Mayoritas calon emiten tersebut berasal dari perusahaan dengan aset berskala besar, mencerminkan kesiapan fundamental yang relatif matang meskipun kondisi pasar masih cenderung selektif.
Pipeline IPO Masih Terjaga Awal Tahun
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa saat ini terdapat tujuh perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham BEI. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangannya pada Jumat, 16 Januari 2026.
"Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ujar I Gede Nyoman Yetna.
Keberadaan tujuh perusahaan dalam antrean IPO menunjukkan bahwa minat korporasi untuk mengakses pendanaan pasar modal tetap ada, meskipun realisasi pencatatan saham belum terjadi pada awal tahun ini. BEI mencatat hingga 15 Januari 2026 belum ada satu pun perusahaan yang secara resmi melantai di bursa.
Kondisi ini dinilai wajar mengingat awal tahun kerap menjadi periode konsolidasi bagi emiten maupun investor. Banyak perusahaan memilih untuk mematangkan persiapan serta menunggu momentum pasar yang lebih kondusif sebelum melaksanakan aksi korporasi besar seperti IPO.
Dominasi Perusahaan Aset Besar Dalam Antrean
Dari sisi skala usaha, mayoritas perusahaan dalam pipeline IPO BEI merupakan entitas dengan aset besar. Tercatat sebanyak lima perusahaan memiliki total aset di atas Rp250 miliar, sehingga masuk dalam kategori perusahaan berskala besar.
Sementara itu, hanya satu perusahaan yang memiliki aset di kisaran Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, yang dikategorikan sebagai perusahaan berskala menengah. Selain itu, terdapat satu perusahaan dengan aset di bawah Rp50 miliar atau berskala kecil yang juga tercatat dalam antrean IPO.
Komposisi ini mencerminkan bahwa perusahaan besar masih mendominasi rencana pencatatan saham di pasar modal. Emiten dengan aset besar umumnya memiliki struktur bisnis yang lebih stabil, tata kelola yang lebih siap, serta daya tarik yang relatif kuat bagi investor.
Kehadiran perusahaan menengah dan kecil dalam pipeline juga menunjukkan bahwa pasar modal tetap terbuka bagi berbagai skala usaha, meskipun jumlahnya masih terbatas dibandingkan perusahaan besar.
Ragam Sektor Ramaikan Rencana Pencatatan Saham
Jika dilihat dari sektor usaha, antrean IPO di BEI mencakup berbagai bidang ekonomi. Dari tujuh perusahaan tersebut, terdapat satu perusahaan dari sektor basic materials, dua perusahaan dari sektor finansial, satu perusahaan dari sektor energi, satu perusahaan dari sektor industri, satu perusahaan dari sektor teknologi, serta satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik.
Keberagaman sektor ini mencerminkan luasnya spektrum industri yang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Sektor finansial masih menjadi salah satu yang dominan, seiring kebutuhan penguatan permodalan dan ekspansi usaha.
Sektor energi dan basic materials juga tetap menarik, sejalan dengan kebutuhan pembangunan dan permintaan komoditas. Sementara itu, kehadiran sektor teknologi menunjukkan bahwa minat terhadap perusahaan berbasis inovasi masih terjaga di tengah perubahan lanskap digital.
Dengan komposisi sektor yang beragam, pasar modal diharapkan dapat terus menjadi cerminan struktur ekonomi nasional yang inklusif dan berimbang.
Aksi Korporasi Lain Tetap Bergulir
Selain IPO, BEI juga mencatat adanya aktivitas pasar modal lain yang tetap berlangsung pada awal tahun. Hingga 15 Januari 2026, sebanyak sembilan emisi dari tujuh penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk telah diterbitkan, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp5,85 triliun.
Di sisi lain, masih terdapat sepuluh emisi dari lima penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk yang saat ini berada dalam antrean penerbitan. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen pendanaan melalui surat utang tetap menjadi pilihan strategis bagi korporasi.
Aksi korporasi berupa rights issue juga tercatat berjalan. Hingga pertengahan Januari, tiga perusahaan telah menyelesaikan rights issue dengan total nilai mencapai Rp2,90 triliun. Selain itu, satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih berada dalam antrean untuk melaksanakan rights issue.
Keseluruhan aktivitas ini menggambarkan bahwa meskipun realisasi IPO belum terjadi, pasar modal Indonesia tetap aktif dan berfungsi sebagai sarana penghimpunan dana bagi dunia usaha. BEI pun optimistis pipeline IPO yang ada dapat terealisasi seiring membaiknya sentimen pasar dan kesiapan emiten.