JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, menunjukkan sinyal ketahanan di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.
Di saat pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor eksternal, mulai dari arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat hingga perkembangan geopolitik, mata uang Garuda justru mampu mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar AS.
Pada awal perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di zona hijau. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah tercatat menguat 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke posisi Rp16.862 per dolar AS. Penguatan ini terjadi meskipun pada saat yang sama indeks dolar AS justru mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen ke level 99,11, mencerminkan adanya tarik-menarik sentimen di pasar global.
Kinerja rupiah tersebut melanjutkan tren positif yang sudah terlihat pada penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 14 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 12 poin di level Rp16.865. Pergerakan ini memberi sinyal bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk bertahan, bahkan di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Jika dilihat secara regional, pergerakan mata uang Asia pada awal perdagangan hari ini cenderung bergerak terbatas. Dikutip dari Tradingview, mayoritas mata uang Asia berada dalam fase konsolidasi terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar global masih bersikap wait and see sambil menunggu kepastian dari sejumlah faktor penentu arah pasar keuangan dunia.
Salah satu sentimen utama yang memengaruhi pasar saat ini datang dari Amerika Serikat. Analis Commerzbank Research menilai bahwa pasar global masih dibayangi oleh kecenderungan risk-off. Hal ini terutama dipicu oleh ketidakpastian lanjutan terkait putusan Mahkamah Agung AS mengenai tarif Liberation Day yang kembali mengalami penundaan. Ketidakjelasan tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi, khususnya di aset berisiko dan mata uang negara berkembang.
Meski demikian, tekanan terhadap pasar keuangan tidak sepenuhnya bersifat satu arah. Dari sisi geopolitik, terdapat sinyal positif yang sedikit meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu menyampaikan bahwa Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap demonstran antirezim dan tidak akan mengeksekusi pihak-pihak yang dituduh mencoba menggulingkan pemerintah. Pernyataan ini dinilai memberikan sentimen yang lebih kondusif, meskipun belum cukup kuat untuk sepenuhnya mengubah arah pasar global.
Pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya juga mencerminkan kondisi pasar yang relatif seimbang. Berdasarkan data LSEG, nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang (USD/JPY) tercatat relatif stabil di level 158,48. Stabilitas ini menunjukkan bahwa pelaku pasar belum mengambil posisi agresif terhadap yen, yang kerap dipandang sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Sementara itu, dolar AS tercatat menguat 0,3 persen terhadap won Korea Selatan ke posisi 1.467,40. Penguatan ini mencerminkan adanya tekanan tersendiri pada mata uang Korea Selatan, yang kerap sensitif terhadap pergerakan perdagangan global dan dinamika ekonomi kawasan Asia Timur. Di sisi lain, dolar Australia bergerak mendatar terhadap dolar AS di level 0,6682, menandakan minimnya katalis baru yang mendorong pergerakan signifikan.
Dalam konteks ini, penguatan tipis rupiah dapat dipandang sebagai cerminan dari keseimbangan antara sentimen global dan faktor domestik. Meski tekanan eksternal masih terasa, pasar tampaknya menilai bahwa fundamental domestik Indonesia masih cukup solid untuk menahan gejolak yang lebih besar. Namun, pergerakan yang terbatas juga menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya yakin untuk mendorong rupiah menguat lebih jauh.
Ke depan, arah pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan global. Pemain pasar menanti kejelasan lanjutan terkait kebijakan perdagangan dan fiskal Amerika Serikat, termasuk kepastian hukum mengenai tarif yang saat ini masih tertunda. Selain itu, dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dan wilayah lain juga akan menjadi faktor penting yang menentukan sentimen risiko global.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung bersikap selektif dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Volatilitas yang relatif terjaga menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi, baik untuk rupiah maupun mata uang Asia lainnya. Selama belum ada katalis kuat yang benar-benar dominan, pergerakan nilai tukar diperkirakan akan berlangsung terbatas dengan kecenderungan fluktuatif.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada Kamis pagi ini menjadi sinyal positif, meski masih bersifat terbatas. Pergerakan tersebut menegaskan bahwa rupiah masih mampu bertahan di tengah campuran sentimen global. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan kebijakan dan geopolitik internasional sebagai penentu arah pergerakan mata uang dalam waktu dekat.