Investasi Ekraf Naik 30 Persen, Aplikasi Jadi Subsektor Utama

Selasa, 14 Juli 2026 | 19:18:31 WIB
Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif melaporkan realisasi investasi di sektor ekonomi kreatif sepanjang tahun 2025 mengalami pertumbuhan di atas 30 persen. Catatan positif ini memposisikan sektor tersebut sebagai salah satu motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati mengungkapkan bahwa peluang investasi pada subsektor ekonomi kreatif saat ini masih didominasi oleh bidang aplikasi dengan perolehan angka mencapai Rp54,18 triliun. 

Posisi berikutnya ditempati oleh subsektor kriya, fesyen, serta kuliner. Detail komposisi ini memperlihatkan akselerasi yang sangat cepat pada perkembangan ekonomi digital di tanah air.

“Kinerja tersebut tercermin dari perkembangan investasi yang terus menunjukkan tren positif. Ke depan, tantangan utama adalah memperluas investasi tersebut ke berbagai daerah melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perlindungan kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan,” ujar Dessy dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Ia menyampaikan bahwa torehan positif pada investasi ekraf ini turut beriringan dengan semakin tingginya penerimaan produk kreatif asal Indonesia di kancah global. 

Hal tersebut dibuktikan lewat perolehan nilai ekspor ekonomi kreatif nasional yang berbasis barang, di mana sektor fesyen membukukan angka 16,3 juta dolar AS, disusul oleh subsektor kriya sebesar 12 juta dolar AS, serta subsektor kuliner yang juga memperlihatkan tren perkembangan yang sangat menjanjikan.

Dessy memaparkan bahwa pihak kementerian saat ini terus berupaya mengoptimalkan pencatatan nilai ekspor dari sektor jasa kreatif. Sebab, potensi dari bidang konten digital, desain, animasi, musik, film, aplikasi, serta berbagai penyedia jasa kreatif lainnya sejauh ini memang belum terdata secara menyeluruh dan optimal.

Di samping itu, sektor ekonomi kreatif juga berperan penting dalam menyerap tenaga kerja produktif, khususnya dari kalangan generasi muda. Peran aktif tersebut menjadikan sektor ini sangat strategis dalam menyukseskan program penyediaan lapangan pekerjaan di tingkat nasional.

“Pada akhirnya, lapangan kerja tersebut akan bermuara pada peningkatan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Guna memaksimalkan potensi ekonomi kreatif sebagai roda penggerak baru perekonomian nasional, Kemenekraf menerapkan strategi Hexahelix. Strategi ini mengedepankan kolaborasi erat antara unsur pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas masyarakat, institusi keuangan, hingga media massa.

Melalui sinergi tersebut, diharapkan kapasitas para pelaku usaha dapat meningkat, perlindungan hak kekayaan intelektual semakin luas, proses valuasi kian mudah, akses pasar makin terbuka lebar, hingga tersedianya evaluasi menyeluruh terhadap dampak ekonomi yang tercipta.

“Indonesia tidak kekurangan ide, Indonesia tidak kekurangan talenta, Indonesia juga tidak kekurangan kreatifitas, yang masih perlu kami bangun bersama adalah ekosistem yang mampu mengubah kreativitas tersebut menjadi kekuatan ekonomi nasional,” pungkas Dessy.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mematok target perolehan investasi di sektor ekonomi kreatif sebesar Rp133,74 triliun hingga Rp157,65 triliun guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2027 mendatang.

Target investasi tersebut dirancang selaras dengan arahan strategis Presiden yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 untuk menyokong arah Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2027, yaitu melakukan percepatan pertumbuhan yang berkualitas lewat aspek produktivitas, investasi, serta industri.

Melalui dokumen RPJMN, Kemenekraf juga memikul tanggung jawab besar untuk menyokong target RKP tahun 2027. 

Sasaran yang harus dicapai meliputi laju pertumbuhan PDB Ekraf sebesar 5,8 persen, peningkatan nilai ekspor sebesar 5,5 persen dengan proyeksi nilai ekspor mencapai 29,39 miliar dolar AS, penyerapan tenaga kerja hingga 26,58 juta orang, serta laju pertumbuhan investasi di angka 6,2 hingga 7,6 persen.

Terkini