Kemenhub Siapkan Strategi Lancar Arus Balik Ketapang-Gilimanuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 14:07:58 WIB
Kemenhub Siapkan Strategi Lancar Arus Balik Ketapang-Gilimanuk

JAKARTA - Memasuki puncak arus balik gelombang kedua pada 28–29 Maret 2026, Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan arus kendaraan dari Ketapang menuju Gilimanuk berjalan lancar. 

Fokus utama adalah mengantisipasi kepadatan kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, serta menjaga kelancaran penyeberangan demi keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menjelaskan bahwa koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menghadapi gelombang arus balik kedua. 

Menurutnya, evaluasi arus mudik sebelumnya memberikan pelajaran penting terkait pengaturan kendaraan, optimalisasi buffer zone, dan penggunaan delaying system untuk mengurangi antrean panjang.

“Kita harus memprioritaskan layanan penyeberangan dari Ketapang menuju Gilimanuk pada arus balik ini, mekanisme tiba bongkar berangkat (TBB), keputusan harus diambil secara cepat dan jangan terlambat sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Aan dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.

Strategi Pengaturan Buffer Zone dan Delaying System

Buffer zone atau area penyangga menjadi salah satu strategi utama untuk mengurai kepadatan kendaraan yang menuju pelabuhan. Aan menegaskan, keberadaan buffer zone yang optimal bisa meminimalkan antrean panjang dan menjaga kelancaran arus lalu lintas.

“Kesiapan buffer zone menjadi kunci dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Begitu pun dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif,” tambahnya.

Kementerian Perhubungan telah menetapkan lokasi buffer zone untuk berbagai jenis kendaraan. Untuk kendaraan roda empat dan bus, dialokasikan di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. 

Sementara kendaraan barang diarahkan ke buffer zone Sri Tanjung serta Kantong Parkir PT Pusri dan Pelindo. Dengan pembagian ini, diharapkan pergerakan kendaraan lebih tertata dan arus balik bisa berlangsung aman.

Delaying system juga diterapkan untuk mengatur kendaraan agar tidak langsung masuk pelabuhan saat antrean terlalu panjang. Sistem ini memungkinkan kendaraan menunggu di lokasi strategis sementara, sehingga penyeberangan tetap efisien tanpa menimbulkan kemacetan parah.

Pengoperasian Kapal Disesuaikan Dengan Kondisi Lalu Lintas

Selain pengaturan di darat, pengoperasian kapal menjadi komponen penting dalam strategi arus balik. Saat kondisi normal, 28 kapal beroperasi untuk melayani penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Namun, pada kondisi padat jumlah kapal bisa ditambah menjadi 30 unit, dan saat sangat padat akan ada 32 kapal. Jika diperlukan, jumlah kapal dapat ditambah hingga 35–40 unit, termasuk dua kapal tambahan dengan kapasitas 60–80 kendaraan.

Dengan skema ini, Kemenhub berupaya mengantisipasi lonjakan kendaraan yang diprediksi mencapai puncaknya pada H+6 Lebaran atau 28 Maret 2026. Data dari PT ASDP Indonesia Ferry menunjukkan bahwa pada H+1 hingga H+3 Lebaran, sebanyak 41.526 unit kendaraan telah menyeberang ke Bali, terdiri dari:

Roda dua: 24.093 unit (25 persen)
Roda empat: 14.179 unit (34 persen)
Bus: 927 unit (20 persen)
Truk: 2.327 unit (17 persen)

Sementara itu, masih terdapat 114.255 kendaraan (73 persen) yang belum menyeberang, sehingga prediksi arus balik tertinggi jatuh pada tanggal 28 Maret 2026. Dengan tambahan kapal dan mekanisme penyeberangan yang fleksibel, diharapkan seluruh kendaraan bisa menyeberang tanpa hambatan signifikan.

Kolaborasi Pemangku Kepentingan Jadi Kunci Keselamatan

Aan menekankan bahwa kelancaran arus balik tidak bisa dicapai sendiri oleh Kemenhub. Diperlukan sinergi dengan operator pelabuhan, TNI/Polri, Dinas Perhubungan, serta pihak terkait lainnya. Koordinasi yang baik akan memastikan keputusan cepat dapat diambil saat kondisi di lapangan berubah.

“Kita perlu komunikasi dan sinergi yang baik di antara operator pelabuhan, TNI/Polri, Dinas Perhubungan serta pemangku kepentingan terkait lainnya,” jelasnya.

Selain itu, evaluasi dari arus mudik sebelumnya menunjukkan pentingnya fleksibilitas dalam pengaturan kendaraan. Dengan adanya buffer zone, delaying system, serta pengoperasian kapal yang adaptif, kepadatan di Pelabuhan Ketapang dapat diminimalisir. 

Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mengurangi antrean panjang, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat saat melakukan perjalanan pulang dari liburan.

Kemenhub juga menekankan perlunya sosialisasi kepada masyarakat agar mematuhi aturan dan memanfaatkan fasilitas buffer zone secara optimal. Hal ini akan membantu memperlancar arus lalu lintas dan meminimalkan risiko kemacetan parah.

Dengan strategi komprehensif yang memadukan pengaturan di darat, penyeberangan kapal, dan sinergi antarinstansi, Kementerian Perhubungan menargetkan arus balik Ketapang-Gilimanuk gelombang kedua dapat berjalan aman, lancar, dan efisien, sekaligus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi seluruh pengguna jasa.

Terkini