Laba BUVA Melonjak 1.073 Persen Pada 2025 Tembus Rp99 Miliar

Rabu, 11 Maret 2026 | 14:23:30 WIB
Laba BUVA Melonjak 1.073 Persen Pada 2025 Tembus Rp99 Miliar

JAKARTA - Kinerja sektor pariwisata yang semakin pulih dalam beberapa tahun terakhir memberikan dampak positif bagi sejumlah perusahaan perhotelan dan properti wisata di Indonesia. Peningkatan jumlah wisatawan serta tingginya tingkat hunian hotel mendorong berbagai emiten di sektor ini mencatatkan pertumbuhan kinerja yang signifikan.

Salah satu perusahaan yang merasakan dampak positif tersebut adalah PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA). Emiten yang dikenal sebagai pengelola resor mewah Alila Villas Uluwatu itu berhasil mencatatkan lonjakan laba yang sangat tajam sepanjang tahun buku 2025.

Perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro ini menunjukkan performa keuangan yang jauh lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba yang mencapai lebih dari sepuluh kali lipat menjadi salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan terbaru perseroan.

Lonjakan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan, tetapi juga oleh penguatan struktur keuangan perusahaan secara keseluruhan. Sejumlah indikator keuangan utama menunjukkan tren perbaikan yang signifikan, mulai dari laba bersih hingga posisi ekuitas.

Kinerja Keuangan BUVA Melonjak Signifikan Sepanjang Tahun 2025

Emiten pengelola resor Alila Villas Uluwatu yang juga terafiliasi dengan Happy Hapsoro, yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan secara signifikan pada 2025.

Berdasarkan laporan keuangan akhir Desember 2025, BUVA yang dimiliki oleh Happy Hapsoro atau suami Ketua DPR Puan Maharani tersebut meraup laba bersih tahun berjalan sebesar Rp99,19 miliar sepanjang tahun lalu.

Perolehan ini meroket 1.073,12% year on year (YoY) atau tumbuh 11,7 kali lipat dibandingkan dengan laba tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp8,45 miliar. Adapun lonjakan laba bersih sejalan dengan kinerja pendapatan BUVA yang tumbuh 5,72% secara tahunan menjadi Rp375,58 miliar dari sebelumnya Rp355,25 miliar.

Secara rinci, pendapatan dari segmen hotel menjadi kontributor terbesar dengan raihan Rp363,69 miliar sepanjang tahun lalu.

Pertumbuhan Pendapatan Dan Laba Kotor Perseroan

Di sisi lain, perseroan mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 7,74% YoY menjadi Rp112,55 miliar.

Meski beban pokok naik lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan, BUVA tetap mengantongi laba kotor senilai Rp263,02 miliar, atau tumbuh 4,88% dibandingkan 2024 sebesar Rp250,78 miliar.

Pencapaian laba bersih yang fantastis ini juga tercermin pada nilai laba per saham atau earnings per share (EPS) perseroan.

Laba per saham BUVA melonjak dari Rp0,41 menjadi Rp4,03 per lembar saham pada akhir Desember 2025.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja perusahaan tidak hanya berdampak pada pendapatan dan laba bersih, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.

Perbaikan Struktur Neraca Dan Penurunan Liabilitas

Sementara itu, struktur neraca perseroan turut menunjukkan perbaikan secara signifikan, terutama pada pos liabilitas. Kewajiban atau utang BUVA terpantau turun sebesar 27,45% secara tahunan menjadi Rp556,12 miliar.

Pada saat bersamaan, ekuitas perseroan melesat 51,91% YoY menjadi Rp2,05 triliun dari sebelumnya Rp1,35 triliun. Secara keseluruhan, total aset BUVA naik 23,19% YoY, menembus angka Rp2,6 triliun pada akhir tahun buku 2025.

Perbaikan pada sejumlah indikator tersebut menunjukkan bahwa kondisi keuangan perseroan semakin kuat dan stabil dalam menjalankan kegiatan operasional bisnisnya.

Posisi Kas Kuat Dan Pergerakan Saham Di Bursa

Posisi kas dan setara kas emiten properti ini juga tetap terjaga kuat di angka Rp285,25 miliar, atau mencatat pertumbuhan sebesar 14,60% secara tahunan. Kondisi kas yang solid ini memberikan ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk menjalankan strategi bisnis, termasuk pengembangan usaha dan penguatan operasional.

Dari lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUVA saat ini berada di level Rp1.075 per saham pada Rabu hingga pukul 10.00 WIB. Harga itu mencerminkan koreksi sebesar 22,66% sepanjang tahun berjalan atau year to date (YtD).

Meski demikian, kinerja fundamental perusahaan yang terus membaik menunjukkan bahwa BUVA tetap memiliki potensi pertumbuhan di masa mendatang seiring dengan pemulihan sektor pariwisata dan meningkatnya permintaan terhadap layanan perhotelan premium di Indonesia.

Performa keuangan yang semakin kuat juga menjadi indikasi bahwa strategi bisnis perseroan mulai menunjukkan hasil positif dalam mendukung ekspansi serta pengembangan bisnis jangka panjang.

Terkini