BPS: Tekankan Stabilitas Harga Pangan Kunci Pengendalian Inflasi Nasional

Senin, 09 Maret 2026 | 16:34:18 WIB
BPS: Tekankan Stabilitas Harga Pangan Kunci Pengendalian Inflasi Nasional

JAKARTA - Pengendalian inflasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari stabilitas harga bahan pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Ketika harga komoditas pangan mengalami lonjakan, dampaknya akan langsung terasa pada tingkat inflasi nasional. 

Oleh karena itu, pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu memastikan harga komoditas utama tetap terkendali agar daya beli masyarakat tidak terganggu.

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai bahwa beberapa komoditas pangan memiliki peran sangat besar dalam menentukan pergerakan inflasi karena bobot konsumsinya tinggi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Jika harga komoditas tersebut meningkat secara signifikan, maka tekanan inflasi juga akan ikut meningkat.

Pentingnya Stabilitas Harga Komoditas Utama

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga sejumlah bahan pangan utama karena memiliki bobot konsumsi terbesar dalam masyarakat dan berpotensi mendorong inflasi.

Dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin, Amalia menyebut bahwa berdasarkan keranjang konsumsi nasional, komoditas dengan bobot terbesar adalah beras, diikuti daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, serta daging sapi.

Menurutnya, komoditas dengan bobot konsumsi tinggi akan memberikan pengaruh besar terhadap inflasi apabila terjadi kenaikan harga.

"Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya tinggi, ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya," katanya.

Pengaruh Harga Pangan Terhadap Inflasi

Ia menjelaskan, tekanan inflasi akan lebih mudah terjadi jika harga komoditas utama tersebut tidak terkendali. Kenaikan harga yang terjadi pada komoditas dengan tingkat konsumsi tinggi akan memberikan dampak luas karena hampir seluruh masyarakat mengonsumsi bahan pangan tersebut.

Dalam situasi seperti itu, stabilitas harga menjadi faktor yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi. Ketika harga komoditas utama mengalami kenaikan secara signifikan, maka inflasi juga cenderung meningkat karena biaya pengeluaran masyarakat bertambah.

Sebaliknya, kenaikan harga pada komoditas dengan bobot kecil dalam konsumsi masyarakat tidak akan terlalu berdampak besar terhadap inflasi.

Hal ini karena kontribusi komoditas tersebut dalam keranjang konsumsi masyarakat relatif kecil sehingga perubahan harga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan.

Perbedaan Pola Konsumsi di Berbagai Daerah

Lebih lanjut, Amalia menyebut, pola konsumsi masyarakat di setiap daerah berbeda-beda. Kondisi ini membuat kontribusi setiap komoditas terhadap inflasi juga dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Secara nasional, komoditas dengan bobot terbesar dimulai dari beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan daging sapi.

Namun, di beberapa wilayah urutannya bisa saja berbeda. Ia mencontohkan, di Kepulauan Riau komoditas dengan bobot konsumsi terbesar setelah beras adalah daging ayam ras, kemudian cabai merah, dan telur ayam ras.

Perbedaan pola konsumsi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik kebutuhan masyarakat di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang dipengaruhi oleh faktor budaya, ketersediaan komoditas, serta kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.

Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengendalian Inflasi

Melihat perbedaan pola konsumsi tersebut, Amalia menilai penting bagi pemerintah daerah untuk memahami struktur konsumsi masyarakat di wilayahnya masing-masing. 

Dengan memahami komoditas apa yang memiliki bobot terbesar, pemerintah daerah dapat lebih fokus dalam menjaga stabilitas harga komoditas tersebut.

Langkah tersebut menjadi penting karena kebijakan pengendalian inflasi tidak selalu bisa disamaratakan di seluruh daerah. Setiap wilayah memiliki komoditas yang lebih dominan dalam konsumsi masyarakat sehingga pendekatan pengendalian harga juga perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.

"Jadi memang ini karakteristik dari konsumsi masyarakat, pola konsumsi masyarakat ini berbeda-beda. Oleh sebab itu, mungkin satu hal yang bisa kita sikapi adalah masing-masing kepala daerah nanti bisa melihat mana bobot terbesar dari konsumsi masyarakat," katanya.

Dengan pendekatan yang lebih spesifik terhadap kondisi daerah, pengendalian inflasi diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif. 

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memantau pergerakan harga sekaligus menjaga ketersediaan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Upaya menjaga stabilitas harga pangan juga menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ketika harga bahan pangan utama dapat dikendalikan dengan baik, tekanan inflasi dapat diminimalkan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Terkini