Percepat Imunisasi untuk Cegah Campak, DPR Minta Tindakan Cepat

Senin, 02 Maret 2026 | 13:57:37 WIB
Percepat Imunisasi untuk Cegah Campak, DPR Minta Tindakan Cepat

JAKARTA - Lonjakan kasus campak yang terjadi di Indonesia sejak awal tahun 2026 telah memicu keprihatinan di berbagai kalangan, termasuk anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz. 

Melihat tren meningkatnya jumlah kasus, ia mengimbau Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mempercepat proses imunisasi guna mencegah penyebaran penyakit ini lebih lanjut. Di tengah meningkatnya jumlah kasus suspek yang tercatat, langkah cepat untuk memperluas cakupan imunisasi menjadi hal yang sangat krusial.

Pentingnya Imunisasi dalam Mencegah Penyakit Mematikan

Dalam pernyataannya, Neng Eem menegaskan bahwa imunisasi adalah langkah penting untuk melindungi anak-anak dari ancaman penyakit berbahaya seperti campak. 

"Kami mendesak Kemenkes segera memperluas cakupan imunisasi. Jangan sampai ada celah imunitas (immunity gap) yang membuat anak-anak kita rentan," ujar Neng Eem dengan tegas. 

Tanpa perlindungan vaksin, ia memperingatkan bahwa risiko penyebaran virus akan terus meluas dengan sangat cepat dan dapat menimbulkan dampak yang lebih parah.

Campak merupakan penyakit yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi serius bagi penderitanya. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi salah satu cara terbaik untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yang dapat melindungi masyarakat dari penyebaran lebih lanjut. 

Meski demikian, Neng Eem juga mengingatkan bahwa proses vaksinasi harus berjalan lancar dan mencakup seluruh kalangan masyarakat, terutama anak-anak yang menjadi kelompok rentan.

Lonjakan Kasus Campak di Indonesia

Berdasarkan laporan epidemiologi dari Kemenkes, pada dua bulan pertama tahun 2026, Indonesia telah mencatatkan 8.224 kasus suspek campak. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak juga telah dilaporkan di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi. 

"Situasi ini sangat mengkhawatirkan, terutama dengan tingkat penularan campak yang sangat tinggi. Dalam dua bulan pertama saja, sudah ada 21 KLB yang tercatat," ujar Neng Eem.

Kasus campak ini tidak hanya menambah beban pada sistem kesehatan, tetapi juga mempengaruhi banyak keluarga, terutama yang memiliki anak dengan kondisi gizi buruk atau daya tahan tubuh yang lemah. 

Penyakit ini dapat berakibat fatal, mengingat komplikasi yang ditimbulkan seperti pneumonia, diare berat, dan bahkan radang otak (ensefalitis) yang berisiko mengancam nyawa.

Tantangan di Lapangan dan Misinformasi Vaksin

Meskipun imunisasi sangat penting untuk menanggulangi masalah ini, Neng Eem mengungkapkan bahwa ada tantangan besar dalam melaksanakan vaksinasi di lapangan. 

Salah satunya adalah tingginya angka penolakan vaksin, yang seringkali disebabkan oleh misinformasi atau berita yang tidak akurat seputar vaksin. Masyarakat yang terpapar informasi salah tentang vaksin seringkali merasa takut atau ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak mereka.

Menanggapi hal ini, Neng Eem menekankan pentingnya strategi komunikasi risiko yang lebih efektif. "Kita perlu segera memperbaiki komunikasi risiko, melibatkan tokoh medis yang kredibel serta tokoh agama dan masyarakat di tingkat lokal untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya vaksinasi," tambahnya. 

Misinformasi tentang vaksin dapat dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat, sehingga perlu ada upaya bersama antara pemerintah dan tokoh masyarakat untuk memberikan klarifikasi yang benar dan mendorong kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.

Pentingnya Kolaborasi Pemerintah dan Tokoh Masyarakat

Perluasan cakupan imunisasi bukanlah tugas yang bisa dikerjakan oleh pemerintah saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara berbagai pihak. Neng Eem menekankan bahwa kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah, serta melibatkan tokoh masyarakat seperti tokoh agama, sangat diperlukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di daerah-daerah yang memiliki angka imunisasi rendah.

Kemenkes sendiri sudah merencanakan untuk menggandeng pemerintah daerah dan berbagai organisasi profesional, termasuk tokoh agama, untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam program imunisasi. 

Hal ini diharapkan bisa mempercepat upaya untuk membentuk kekebalan kelompok yang cukup di seluruh wilayah Indonesia, guna melindungi anak-anak dan mencegah penyebaran campak.

Neng Eem menambahkan bahwa penerapan vaksinasi dengan cakupan minimal 95 persen sangat penting untuk menghentikan penyebaran virus. Tanpa pencapaian cakupan ini, potensi penularan akan terus berlanjut dan bahkan membahayakan banyak nyawa. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar tidak ada lagi celah imunitas yang membuat anak-anak kita rentan terhadap penyakit berbahaya.

Langkah Ke Depan untuk Menanggulangi Campak

Untuk mengatasi permasalahan ini, Neng Eem meminta Kemenkes agar mempercepat distribusi vaksin di seluruh Indonesia, terutama ke daerah-daerah yang rawan dengan rendahnya angka imunisasi. 

Kolaborasi yang efektif antara pemerintah, tenaga medis, dan tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi serta untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul di lapangan.

Selain itu, pemerintah juga diminta untuk memastikan ketersediaan vaksin yang cukup agar setiap anak dapat segera mendapatkan perlindungan yang dibutuhkan. Jangan sampai karena keterbatasan distribusi vaksin, anak-anak di daerah-daerah tertentu tidak mendapatkan imunisasi yang seharusnya mereka terima.

Dengan upaya yang lebih cepat dan tepat, Indonesia diharapkan dapat mengurangi bahkan menghilangkan potensi terjadinya wabah campak yang semakin meluas. Imunisasi adalah langkah pertama yang sangat penting untuk memastikan kesehatan generasi penerus bangsa tetap terjaga. Melalui kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal, diharapkan masalah campak ini bisa segera tertangani.

Terkini