Hindari Kesombongan untuk Mendapatkan Ampunan Allah SWT di Bulan Ramadhan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:00:12 WIB
Hindari Kesombongan untuk Mendapatkan Ampunan Allah SWT di Bulan Ramadhan

JAKARTA - Dalam kehidupan manusia, nafsu sering kali menjadi ujian berat yang bisa mengarah pada dosa dan kemaksiatan. 

Namun, di antara banyak bentuk dosa yang dapat terjadi, terdapat dua jenis nafsu yang paling memengaruhi manusia, yakni nafsu syahwat dan kesombongan. 

Sementara nafsu syahwat masih memiliki peluang untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT, kesombongan menjadi salah satu sifat yang sangat sulit dimaafkan. 

Ulama sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, Ma'ruf Amin, dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 menjelaskan pentingnya memahami kedua jenis nafsu ini dalam perspektif agama dan bagaimana kesombongan menjadi penghalang besar bagi seseorang untuk mendapatkan ampunan dari Allah.

Nafsu Syahwat yang Masih Memiliki Harapan Ampunan

Menurut Ma'ruf Amin, nafsu syahwat adalah dorongan dari dalam diri untuk melakukan hal-hal yang dilarang. Meskipun tindakan ini menimbulkan dosa, Allah SWT memberi harapan pengampunan kepada siapa pun yang bertobat dengan tulus. Sebagai contoh, kisah Nabi Adam AS yang terjebak oleh godaan untuk memakan buah yang dilarang dari pohon syahwat, tetapi setelah menyadari kesalahan tersebut, Nabi Adam segera memohon ampun kepada Allah.

 Tobat beliau diterima dengan baik oleh Allah SWT, yang menunjukkan bahwa dosa akibat nafsu syahwat masih bisa diampuni asalkan ada penyesalan dan tobat yang tulus.

Dalam konteks ini, Ma'ruf Amin menekankan bahwa nafsu syahwat, yang sering kali muncul dalam bentuk keinginan untuk melakukan sesuatu yang dilarang, tidak akan langsung menghalangi pengampunan Allah SWT, sepanjang orang tersebut kembali kepada-Nya dan memperbaiki kesalahan. 

Dengan demikian, umat Islam harus memahami bahwa setiap kesalahan yang berasal dari godaan nafsu, jika disertai dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, masih membuka peluang untuk mendapat ampunan.

Kesombongan yang Menjadi Penghalang Pengampunan

Sebaliknya, kesombongan adalah jenis nafsu yang jauh lebih berbahaya dan sulit dimaafkan. Kesombongan bukan hanya berakar dari perasaan lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain, tetapi juga dari ketidakterimaan terhadap kebenaran dan nasihat. Ma'ruf Amin mengutip pandangan ulama besar Sufyan ats-Tsauri mengenai kesombongan yang disebut sebagai nafsu yang bisa menuntun seseorang pada kesesatan.

Salah satu contoh nyata dari kesombongan yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah kisah iblis yang menolak untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat dan iblis untuk sujud sebagai penghormatan kepada Adam, iblis dengan sombongnya menentang perintah Allah dengan alasan dirinya lebih baik daripada Adam. 

"Persoalan sebenarnya bukan tentang tidak sujudnya iblis, tapi karena ia menentang perintah Allah yang dengan kesombongannya menilai dirinya lebih tinggi," ujar Ma'ruf Amin menjelaskan. Akibatnya, iblis dikutuk oleh Allah SWT.

Kesombongan inilah yang juga menyebabkan banyak orang menolak agama dan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka, terutama kaum kafir Quraisy, bukanlah orang-orang yang menolak kebenaran Al-Qur’an karena keraguan, tetapi lebih karena kesombongan mereka yang merasa bahwa wahyu itu seharusnya diberikan kepada orang-orang besar dan terkemuka, bukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mereka anggap sebagai orang biasa tanpa kekayaan dan pengaruh.

Kesombongan Menyebabkan Penolakan terhadap Kebenaran

Kesombongan yang muncul dalam bentuk penolakan terhadap kebenaran adalah salah satu alasan mengapa banyak orang menutup hati mereka untuk menerima wahyu. Orang yang sombong, menurut Ma'ruf Amin, tidak bisa melihat kebenaran yang jelas dan malah menolaknya karena mereka merasa lebih tinggi daripada apa yang disampaikan. 

Kaum kafir Quraisy, misalnya, yang merasa tidak bisa menerima kenyataan bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad, menilai bahwa seharusnya wahyu itu diberikan kepada tokoh yang lebih besar dan lebih kaya.

Sifat sombong ini tidak hanya berlaku pada penolakan terhadap Nabi Muhammad, tetapi juga terhadap segala bentuk ajaran yang datang dari Allah SWT. Orang-orang yang sombong seperti ini, menurut Ma'ruf, tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah, bahkan pintu surga pun akan tertutup bagi mereka. 

"Orang yang sombong tidak akan bisa masuk surga, kecuali jika seekor unta bisa masuk melalui lubang jarum," tambah Ma'ruf Amin. 

Ini menggambarkan betapa beratnya akibat dari sifat kesombongan ini.

Pentingnya Merendahkan Hati dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk menjauhkan diri dari sifat sombong. Ketika seseorang merendahkan hati dan menyadari bahwa semua yang dimiliki adalah pemberian Allah, maka ia akan selalu bisa menjaga kerendahan hati dan tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. 

Menjaga hati tetap rendah, menerima kebenaran meskipun datangnya dari orang biasa, adalah salah satu cara untuk menghindari kesombongan yang dapat menghalangi pengampunan Allah.

Kesombongan tidak hanya menghalangi seseorang untuk menerima petunjuk agama, tetapi juga dapat menjauhkan seseorang dari rahmat dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan merendahkan hati, menerima kebenaran dengan lapang dada, dan menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT, setiap Muslim bisa berharap akan pengampunan-Nya.

Terkini