JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan bahwa ekspansi industri digital, khususnya data center, harus dilakukan dengan mempertimbangkan ketahanan pasokan air.
Menurutnya, air merupakan salah satu komponen vital dalam sistem pendinginan data center, yang semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi.
Dalam pertemuan Water Town Hall Meeting di Jakarta, AHY mengingatkan bahwa meskipun Indonesia berambisi menjadi hub data center di kawasan Asia Tenggara, kebutuhan air yang besar harus diperhitungkan dengan cermat.
Pentingnya Perhatian pada Sumber Daya Air dalam Pengembangan Data Center
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital, kebutuhan akan data center di seluruh Indonesia semakin meningkat. AHY mencatat bahwa selain untuk pengoperasian alat-alat digital, air juga sangat dibutuhkan untuk pendinginan sistem data center, yang sebagian besar menggunakan teknologi evaporative cooling atau cooling tower.
Menurut perhitungan yang ada, untuk setiap 1 megawatt (MW) beban teknologi informasi (IT load), data center bisa membutuhkan antara 1,5 hingga 3 juta liter air per bulan untuk mendinginkan sistem.
“Karena itu, kita perlu menghitung dengan cermat bagaimana pengembangan data center ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air di Indonesia,” kata AHY.
Keterkaitan Antara Pengelolaan Air dan Ekspansi Industri Digital
Air adalah kebutuhan dasar untuk berbagai sektor kehidupan, dan semakin penting dalam era digital. Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air, mengungkapkan bahwa pengelolaan air saat ini tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terpisah.
Ia menekankan bahwa sektor-sektor seperti pertanian, kesehatan, energi, dan industri digital harus saling berkolaborasi untuk memastikan pengelolaan air yang efektif dan berkelanjutan.
Salah satu tantangan besar adalah bagaimana memastikan industri seperti data center tetap berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan pasokan air. Retno menekankan bahwa meskipun sektor industri digital berkontribusi pada perekonomian masa depan Indonesia, keberlanjutan sumber daya air harus tetap menjadi prioritas.
“Industri data center memang menggunakan air dalam jumlah besar, namun kita tidak bisa mengabaikan bahwa sebagian besar penduduk dunia, termasuk Indonesia, masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses air bersih yang memadai,” tambah Retno.
Krisis Air Global dan Pentingnya Pendekatan Kolaboratif
Secara global, krisis air bukan hanya masalah lokal, tetapi tantangan besar yang melibatkan seluruh dunia. Retno Marsudi mencatat, saat ini masih ada 2,2 miliar orang di dunia yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan 3,5 miliar orang lainnya tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.
Angka-angka ini menggambarkan betapa besar tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan air secara global.
Di Indonesia, walaupun ekonomi digital dipandang sebagai kunci untuk masa depan, penggunaan air yang intensif untuk mendukung infrastruktur digital seperti data center perlu dipertimbangkan secara matang. AHY pun menambahkan bahwa pembangunan data center harus berjalan seiring dengan pengelolaan air yang cermat dan berkelanjutan.
Pengembangan data center yang terlalu cepat tanpa memperhitungkan ketersediaan air dapat berisiko menambah tekanan pada pasokan air yang sudah terbatas.
Pentingnya Investasi dan Pendanaan di Sektor Air
Selain masalah pengelolaan yang berkelanjutan, pendanaan untuk sektor air juga menjadi isu yang sangat penting. Dalam kajian Bank Dunia, setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan dalam sektor air diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 6,8 dolar AS dalam bentuk peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, dan stabilitas sosial.
Retno juga mengungkapkan bahwa sektor air membutuhkan pendanaan global sekitar 600 miliar dolar AS per tahun untuk memastikan ketersediaan air bagi seluruh populasi dunia.
Di Indonesia, kesenjangan pendanaan untuk sektor air dan sanitasi masih cukup besar, dengan diperkirakan membutuhkan dana sekitar 131 hingga 140 miliar dolar AS per tahun untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada sektor air dan sanitasi.
Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk memastikan bahwa sektor air dapat berkembang secara berkelanjutan, dan tidak hanya mengandalkan satu sektor saja.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengelolaan Air yang Efektif
Retno Marsudi juga menekankan bahwa air bukan hanya masalah satu sektor, melainkan penghubung antara sektor pertanian, energi, kesehatan, hingga industri digital.
“Sektor pertanian menyerap sekitar 72 persen penggunaan air tawar global, yang berarti pengelolaan air juga memiliki implikasi langsung terhadap ketahanan pangan dan ekonomi,” kata Retno.
Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan pembiayaan yang lintas sektor, dengan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga ketersediaan air secara berkelanjutan.
Kesimpulannya, meskipun ekspansi data center di Indonesia memiliki potensi besar dalam mendukung transformasi digital dan perekonomian digital, tantangan besar tetap ada terkait dengan pemenuhan kebutuhan air yang diperlukan oleh industri tersebut.
Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara hati-hati, dengan melibatkan berbagai sektor dan memastikan keberlanjutan pasokan air untuk masa depan.