KAI Proyeksikan Penumpang KRL Naik Signifikan Hingga 2030

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48:42 WIB
KAI Proyeksikan Penumpang KRL Naik Signifikan Hingga 2030

JAKARTA - Pertumbuhan mobilitas masyarakat perkotaan terus mendorong peran kereta rel listrik sebagai tulang punggung transportasi massal di wilayah Jabodetabek. 

Seiring meningkatnya kebutuhan perjalanan harian, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memandang layanan KRL akan menghadapi lonjakan permintaan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan. 

Proyeksi ini sekaligus menjadi sinyal penting bagi perencanaan sarana dan prasarana agar keselamatan serta kenyamanan penumpang tetap terjaga.

Dalam paparannya di hadapan DPR, manajemen KAI mengungkapkan bahwa volume penumpang KRL diperkirakan terus tumbuh hingga akhir dekade ini. 

Peningkatan tersebut menuntut kesiapan armada, pengelolaan kepadatan, serta strategi pengadaan kereta baru agar layanan transportasi publik tetap andal di tengah pertumbuhan jumlah pengguna.

Proyeksi Kenaikan Penumpang KRL Jabodetabek

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memproyeksikan kenaikan volume penumpang kereta rel listrik dari 339 juta penumpang sepanjang tahun 2025 menjadi 437 juta penumpang pada 2030. 

Proyeksi tersebut disampaikan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.

“Kalau kami lihat, kenaikan volume penumpang KRL, terutama di Jabodetabek ini, akan menjadi 437 juta pada tahun 2030,” ujar Bobby.

Ia menjelaskan bahwa rata-rata kenaikan jumlah penumpang per tahun berada di kisaran 4 persen. Jika ditarik ke belakang, realisasi penumpang pada 2024 tercatat sebesar 328 juta orang. Angka tersebut meningkat menjadi 339 juta penumpang pada 2025 atau tumbuh sekitar 3,35 persen.

Tren kenaikan ini mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap KRL sebagai moda transportasi utama. Selain faktor pertumbuhan penduduk, pergeseran preferensi ke transportasi publik juga turut mendorong peningkatan jumlah penumpang dari tahun ke tahun.

Dampak Lonjakan Terhadap Layanan Harian

Dengan volume penumpang yang diproyeksikan mencapai 437 juta orang pada 2030, Bobby memperkirakan KRL akan melayani sekitar 2 juta orang per hari pada tahun tersebut. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan kondisi saat ini.

“Saat ini, 1,1 juta per hari, dengan di bulan Juni–Juli kemarin itu naik sampai 1,3 juta,” kata Bobby.

Ia menambahkan bahwa pada akhir 2025, jumlah penumpang harian diperkirakan berada di kisaran 1,2 hingga 1,25 juta orang per hari. Peningkatan ini menuntut pengelolaan operasional yang semakin ketat, terutama pada jam sibuk.

Berdasarkan proyeksi volume penumpang, jika diasumsikan tidak ada penambahan sarana hingga 2030, tingkat kepadatan saat jam sibuk atau peak hour diperkirakan mencapai enam kali lipat dari kondisi saat ini. Situasi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai risiko, mulai dari ketidaknyamanan hingga aspek keselamatan penumpang.

“Sehingga, apabila tidak dilakukan penambahan sarana, tidak semua penumpang dapat terangkut dan tentunya berisiko pada aspek keselamatan,” ujar Bobby.

Kondisi Armada Dan Tantangan Usia Kereta

Bobby menjelaskan bahwa saat ini KAI mengoperasikan berbagai jenis KRL dengan usia yang beragam. Armada tersebut terdiri atas 780 unit dari JR EAST dengan usia 34 hingga 41 tahun, 128 unit dari Tokyo Metro dengan usia 34 hingga 41 tahun, 132 unit KRL CRRC CLI 125 dengan usia kurang dari 1 tahun, serta 48 unit KRL INKA CLI 225 yang juga berusia kurang dari 1 tahun.

Dari total tersebut, sebanyak 908 unit telah berusia setidaknya 30 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar armada akan segera memasuki masa konservasi dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Bobby, situasi tersebut menjadi tantangan besar dalam menjaga keandalan layanan KRL di tengah lonjakan penumpang.

Usia kereta yang menua berpotensi meningkatkan risiko gangguan operasional, menurunkan kenyamanan, serta menambah biaya perawatan. Oleh karena itu, KAI menilai penggantian dan penambahan sarana menjadi langkah yang tidak dapat ditunda untuk memastikan layanan tetap aman dan efisien.

Strategi Pengadaan Sarana Baru Hingga 2026

Untuk mengantisipasi peningkatan penumpang KRL pada 2030, KAI menilai pengadaan sarana baru sangat dibutuhkan. Langkah ini bertujuan menjamin keselamatan sekaligus meningkatkan kenyamanan penumpang di tengah kepadatan yang terus meningkat.

KAI menargetkan tambahan 11 rangkaian kereta atau trainset baru dari PT Industri Kereta Api (Persero) mulai beroperasi sebelum Juli 2026. 

Bobby memaparkan bahwa kontrak pengadaan KRL baru sebanyak 192 unit atau 16 rangkaian kereta telah ditandatangani pada 9 Maret 2023, dengan addendum pada 18 Desember 2023, antara PT Kereta Commuter Indonesia dan PT INKA. Nilai kontrak pengadaan tersebut sebesar Rp3,85 triliun.

Dari 16 rangkaian kereta yang dipesan, sebanyak 5 rangkaian telah datang. Rinciannya, 4 rangkaian telah beroperasi pada 2025, sementara 1 rangkaian masih dalam masa uji coba pada Desember 2025.

“Trainset yang saat ini dalam uji dan segera kami operasikan,” kata Bobby.

Dengan demikian, KAI masih menanti kedatangan 11 rangkaian kereta dari PT INKA pada 2026. Kehadiran rangkaian baru tersebut diharapkan dapat mengurangi kepadatan, menggantikan armada tua, serta meningkatkan kualitas layanan KRL secara keseluruhan. 

Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya KAI dalam menyiapkan transportasi massal yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat Jabodetabek di masa depan.

Terkini