JAKARTA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak orang tua mulai mempersiapkan berbagai aspek dalam keluarga, termasuk mengenalkan nilai-nilai ibadah kepada anak sejak dini.
Hal ini pula yang dilakukan oleh aktris sekaligus ibu muda Nikita Willy. Alih-alih langsung mengajarkan puasa secara praktik, Nikita memilih pendekatan yang lebih lembut dan penuh kesadaran, disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak.
Bagi Nikita, Ramadhan bukan sekadar soal menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperkenalkan makna spiritual, kebiasaan, serta nilai kehidupan kepada anak melalui contoh nyata dalam keseharian. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip gentle parenting yang selama ini ia terapkan dalam membesarkan Issa Xander Djokosoetono dan Nael Idrissa.
Pendekatan Bertahap Mengenalkan Puasa Pada Anak
Nikita Willy menegaskan bahwa pengenalan puasa kepada anak tidak bisa dilakukan secara instan. Ia memilih untuk memperkenalkan terlebih dahulu konsep Ramadhan sebagai bulan suci dalam Islam, sebelum mengajak anak menjalankan ibadah puasa secara penuh.
“Sekarang ini belum aku ajarin untuk berpuasa. Aku lebih memperkenalkan bahwa ini bulan Ramadhan, bulan suci, dan bagaimana kita sebagai muslim menjalankannya,” ujar Nikita saat menghadiri acara Boostopia by Expert Boost.
Menurut istri Indra Priawan tersebut, pemahaman anak terhadap Ramadhan dibangun melalui kebiasaan keluarga sehari-hari, seperti melihat orang tua berpuasa, sahur bersama, serta suasana ibadah di rumah. Dengan cara ini, anak dapat memahami makna puasa tanpa merasa tertekan atau dipaksa.
Pendekatan bertahap ini diyakini Nikita mampu menumbuhkan kesadaran anak secara alami, sehingga kelak ketika anak sudah siap secara fisik dan emosional, puasa dapat dijalani dengan rasa nyaman dan penuh pengertian.
Peran Pola Asuh Berkesadaran Dalam Keluarga
Pengenalan puasa yang dilakukan Nikita tidak terlepas dari pola asuh berkesadaran yang konsisten ia terapkan. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda dalam memahami nilai ibadah, sehingga orang tua perlu hadir sebagai pendamping, bukan penuntut.
Dengan mengedepankan contoh nyata, Nikita berusaha membangun rutinitas Ramadhan yang ramah anak. Anak diajak mengenal kebiasaan baik, nilai kesabaran, dan empati, tanpa dibebani kewajiban yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
Menurut Nikita, pola asuh seperti ini membantu anak merasa dihargai dan dipahami, sehingga nilai-nilai agama dapat tertanam secara positif. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari proses membentuk karakter anak sejak dini melalui pengalaman sehari-hari.
Kesadaran orang tua dalam mendampingi anak dinilai penting agar ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana pembelajaran emosional dan spiritual dalam keluarga.
Perhatian Pada Nutrisi Anak Menjelang Ramadhan
Selain aspek ibadah, Nikita Willy juga menaruh perhatian besar pada kesehatan dan nutrisi anak. Ia mengaku rutin berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan kebutuhan gizi Issa dan Nael tetap terpenuhi, terutama menjelang perubahan pola aktivitas seperti Ramadhan.
“Dokter anakku menyarankan suplementasi vitamin D karena penting untuk kesehatan mata dan tulang,” ungkap Nikita.
Kesadaran ini semakin kuat setelah Nikita mengetahui bahwa satu dari dua anak di Indonesia masih mengalami kekurangan mikronutrien penting. Fakta tersebut mendorongnya untuk lebih cermat dalam menyusun rutinitas nutrisi anak agar pertumbuhan dan daya tahan tubuh tetap optimal.
“Aku harus memastikan nutrisi anak aku itu cukup,” ujarnya.
Bagi Nikita, kecukupan nutrisi bukan hanya soal kenyang, tetapi juga kualitas asupan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Hal ini menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua dalam menjaga keseimbangan fisik dan emosional anak.
Edukasi Nutrisi Dan Risiko Hidden Hunger Pada Anak
Dalam acara Boostopia by Expert Boost, turut digelar diskusi interaktif mengenai strategi optimalisasi nutrisi anak sebagai bekal ketenangan bagi orang tua. Dokter anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, menjelaskan bahwa mayoritas anak Indonesia masih mengalami kekurangan vitamin D.
“Data di Indonesia menunjukkan satu dari dua anak kekurangan zat gizi penting, dan mayoritas mengalami kekurangan vitamin D yang berhubungan dengan penurunan imunitas dan pertumbuhan yang tidak optimal,” jelas dr. Mesty.
Ia menambahkan bahwa kondisi hidden hunger atau kelaparan tersembunyi sering tidak disadari orang tua karena tidak selalu terlihat secara fisik. Banyak anak dengan berat badan normal tetap mengalami kekurangan mikronutrien penting yang berdampak pada energi, fokus, dan daya tahan tubuh.
Dalam jangka panjang, kekurangan mikronutrien dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Dr. Mesty juga menekankan bahwa dua tahun pertama kehidupan merupakan fase krusial yang sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi dan stimulasi.
Untuk mencegah risiko tersebut, peningkatan literasi nutrisi keluarga menjadi langkah penting yang perlu diperkuat. Orang tua diharapkan memahami bahwa kebutuhan gizi anak tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas nutrisi yang dikonsumsi setiap hari.
“Orang tua perlu dibekali pemahaman yang benar mengenai kebutuhan gizi anak, bukan hanya soal kenyang, tetapi juga kualitas nutrisinya,” tutup dr. Mesty.