Harga Komoditas Turun Ekspor Indonesia Tetap Tumbuh Positif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:44:40 WIB
Harga Komoditas Turun Ekspor Indonesia Tetap Tumbuh Positif

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas global sepanjang 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia, terutama karena sejumlah komoditas andalan mengalami penurunan signifikan. 

Situasi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga pada komoditas ekspor utama yang selama ini menopang penerimaan negara. Meski demikian, kinerja perdagangan nasional tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasar internasional.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi pada beberapa komoditas strategis, termasuk minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan batu bara. 

Kedua komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia sehingga perubahan harga global sangat berpengaruh terhadap kinerja perdagangan.

"CPO tahun 2025 itu harganya turun 16,2 persen. Kemudian batu bara, ini sumber dari Bloomberg ya, batu bara turun 19,7 persen," ujarnya.

Tekanan Harga Komoditas Energi dan Tambang

Selain CPO dan batu bara, penurunan harga juga terjadi pada komoditas energi lainnya. Brent crude oil tercatat mengalami penurunan sebesar 16,8 persen, sementara WTI crude oil turun 18 persen sepanjang 2025. Kondisi ini mencerminkan dinamika permintaan dan pasokan energi global yang belum sepenuhnya stabil.

Di sektor pertambangan, harga nikel juga mengalami koreksi dengan penurunan mencapai 9,4 persen selama periode yang sama. Berbeda dengan komoditas lain, emas justru menunjukkan tren kenaikan tajam.

Budi menyampaikan bahwa harga emas melonjak signifikan hingga 61,6 persen sepanjang 2025. Kenaikan ini menunjukkan pergeseran preferensi pasar global ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dampak Terhadap Kinerja Ekspor Nasional

Penurunan harga berbagai komoditas utama tersebut turut memengaruhi performa ekspor Indonesia. Hal ini disebabkan besarnya porsi komoditas energi dan sumber daya alam dalam struktur ekspor nasional.

"Ini tentu akan memengaruhi kinerja ekspor utama untuk komoditas ini karena komunitas ini ekspornya cukup tinggi," urainya.

Walau menghadapi tekanan harga global, kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai 282,91 miliar dolar Amerika Serikat.

Capaian tersebut meningkat 6,15 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang sebesar 266,53 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini dinilai menunjukkan ketahanan sektor perdagangan nasional di tengah tantangan ekonomi global.

"Dengan tantangan global yang ada dengan harga komoditas yang seperti saya sampaikan tadi, kita tetap tumbuh 6,15 persen dan kalau kita lihat ekspor non-migas kita mencapai 7,66 persen," sambungnya.

Surplus Neraca Perdagangan Tetap Terjaga

Selain pertumbuhan ekspor, indikator positif lainnya terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus. Sepanjang 2025, neraca perdagangan tercatat surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS.

Surplus tersebut meningkat 31,03 persen dan telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut. Kondisi ini mencerminkan daya tahan sektor perdagangan Indonesia dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas global.

"Mudah-mudahan dalam kondisi apapun di pasar global kita tetap terus meningkatkan ekspor kita," pungkas Mendag.

Ketahanan Perdagangan di Tengah Dinamika Global

Perkembangan harga komoditas sepanjang 2025 memperlihatkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas tertentu masih menjadi faktor penting dalam perekonomian Indonesia. 

Penurunan harga CPO, batu bara, serta energi fosil lainnya menunjukkan perlunya diversifikasi ekspor dan penguatan nilai tambah industri dalam negeri.

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor yang tetap positif serta surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan menjadi sinyal bahwa fondasi perdagangan nasional masih cukup kuat. 

Ke depan, strategi hilirisasi, perluasan pasar ekspor, serta penguatan sektor non-migas diperkirakan akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah perubahan lanskap perdagangan global.

Terkini