Indonesia Fokus Siapkan KTT D-8 2026 untuk Penguatan Ekonomi

Kamis, 05 Februari 2026 | 12:15:48 WIB
Indonesia Fokus Siapkan KTT D-8 2026 untuk Penguatan Ekonomi

JAKARTA - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) yang akan dihelat di Jakarta menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. 

Dalam persiapan menuju pertemuan tersebut, Indonesia berfokus pada perencanaan agenda substantif yang dapat menghasilkan kesepakatan konkret dan mudah diimplementasikan oleh negara-negara anggota. 

Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Sugiono, prioritas utama dalam persiapan KTT D-8 kali ini adalah memastikan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan hasil yang tidak hanya sekadar deklarasi, tetapi juga program-program nyata yang dapat memperkuat kerja sama antarnegara anggota.

Sugiono menjelaskan bahwa dalam tahap persiapan ini, Indonesia tidak hanya memikirkan aspek teknis penyelenggaraan KTT, tetapi juga sedang menyusun substansi materi yang akan dibahas dalam forum tersebut. 

“Kami sedang menyusun substansinya, intinya adalah bagaimana menjadikan KTT kali ini sebagai satu yang sifatnya konkret, kemudian ada hasil-hasil yang nyata,” jelasnya.

Fokus ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk memastikan bahwa KTT D-8 kali ini menjadi momen penting bagi negara-negara berkembang dalam memperkuat kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Menguatkan Kerja Sama Ekonomi Antara Negara Anggota D-8

Dalam pembicaraan terkait hasil konkret yang ingin dicapai, Sugiono menekankan pentingnya penguatan kerja sama ekonomi antarnegara anggota D-8. Ia mengungkapkan bahwa masing-masing negara anggota D-8 memiliki kekuatan ekonomi tersendiri, dan apabila potensi tersebut dapat digabungkan, akan tercipta kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar. 

“Kalau kemarin kita ingin bahwa hasil konkret dan nyata itu terwujud dalam satu kerja sama ekonomi yang lebih kuat. Karena masing-masing negara anggota ini punya kekuatan ekonomi masing-masing. Dan kalau misalnya dipadukan itu justru merupakan satu kekuatan yang besar,” ujarnya.

Dengan potensi yang dimiliki oleh negara-negara D-8 yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Afrika, D-8 bisa menjadi blok ekonomi yang sangat strategis. 

Kerja sama ini tidak hanya akan memperkuat hubungan ekonomi antar negara-negara berkembang, tetapi juga dapat menjadi pendorong penting bagi pengembangan ekonomi Selatan-Selatan. 

Dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) kolektif mencapai sekitar 5,1 triliun dolar AS, dan perdagangan intra-D-8 yang tercatat sekitar 157 miliar dolar AS, potensi kerjasama ekonomi di dalam organisasi ini semakin terbuka lebar.

Penyelenggaraan KTT D-8 di Jakarta yang Strategis

Sugiono menambahkan bahwa selain membahas substansi yang akan menjadi pokok pembahasan dalam KTT, Indonesia juga sedang mempersiapkan aspek teknis penyelenggaraan. 

Lokasi acara, yang direncanakan akan diselenggarakan di Jakarta, sedang dipertimbangkan dengan cermat agar dapat menyediakan fasilitas yang sesuai untuk pertemuan para pemimpin negara anggota D-8. 

Sugiono menegaskan bahwa Jakarta dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki reputasi sebagai kota yang dapat menyelenggarakan pertemuan internasional dengan baik dan efisien. “Venuenya nanti rencananya di Jakarta. Kita cari tempat yang representatif,” kata Sugiono.

Dengan menjadi tuan rumah KTT D-8 ke-12, Indonesia akan memiliki kesempatan untuk memperlihatkan perannya sebagai pemimpin dalam memperkuat kerja sama negara-negara berkembang. Selain itu, pertemuan ini akan menjadi tonggak sejarah dalam rangkaian kepemimpinan Indonesia di organisasi D-8, yang resmi dimulai pada 1 Januari 2026.

Indonesia Sebagai Ketua D-8 Memulai Masa Kepemimpinan Baru

Indonesia resmi menjadi Ketua D-8 (Developing-8 Organization for Economic Cooperation) pada 1 Januari 2026, dengan masa jabatan untuk periode 2026-2027. Kepemimpinan Indonesia ini memberikan peran yang sangat penting dalam mendorong agenda-agenda ekonomi negara-negara berkembang. 

Serah terima keketuaan D-8 secara resmi akan dilakukan pada KTT D-8 yang ke-12, yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada April 2026.

D-8 sendiri merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang terdiri dari negara-negara berkembang, yaitu Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Türkiye. 

Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, negara-negara anggota D-8 memiliki potensi besar untuk berkolaborasi dalam berbagai sektor, seperti perdagangan, investasi, infrastruktur, dan energi. 

Organisasi ini mewakili sekitar 1,3 miliar penduduk dunia, dengan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi global. Melalui kerja sama yang lebih erat, D-8 berpotensi menjadi blok ekonomi yang kuat untuk negara-negara berkembang di seluruh dunia.

Meningkatkan Peran D-8 Sebagai Motor Ekonomi Selatan-Selatan

D-8 memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta ekonomi global, terutama dalam konteks kerja sama Selatan-Selatan. Dengan luasnya jangkauan geografis yang mencakup wilayah Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika, D-8 berpotensi menjadi motor penggerak penting dalam mengatasi tantangan-tantangan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.

 Organisasi ini memainkan peran vital dalam mendorong perdagangan antar negara-negara anggota dan memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

Selain itu, D-8 juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan-kawasan yang sebelumnya kurang diperhatikan oleh blok ekonomi besar dunia. 

Dengan fokus pada kerja sama ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, D-8 berpotensi menjadi solusi bagi banyak negara berkembang yang ingin memperkuat perekonomian mereka melalui kolaborasi dengan negara-negara serupa. Indonesia, sebagai ketua D-8, berkomitmen untuk memimpin organisasi ini menuju hasil yang lebih konkret dalam memajukan ekonomi global yang lebih adil dan seimbang.

Terkini