JAKARTA - Perkembangan sistem pembayaran digital nasional terus menunjukkan tren positif, seiring meningkatnya adopsi layanan transfer instan di masyarakat dan dunia usaha.
Salah satu indikatornya terlihat dari kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dalam memanfaatkan infrastruktur BI-FAST. Sepanjang tahun 2025, transaksi yang diproses melalui sistem ini memberikan kontribusi signifikan terhadap aktivitas keuangan digital, sekaligus memperkuat posisi BCA dalam industri perbankan nasional.
Pertumbuhan transaksi BI-FAST tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku nasabah yang semakin mengandalkan kanal digital, tetapi juga menunjukkan kesiapan perbankan dalam mendukung ekosistem pembayaran yang cepat, efisien, dan aman. BCA menjadi salah satu bank dengan volume dan nilai transaksi terbesar dalam implementasi sistem tersebut.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, BCA telah memproses sekitar 2.289 juta transaksi BI-FAST dengan nilai mencapai Rp 6.087 triliun. Nilai tersebut setara dengan lebih dari separuh total transaksi BI-FAST yang terjadi di industri perbankan nasional.
Kontribusi BCA Dalam Ekosistem BI-FAST Nasional
Kinerja BCA dalam layanan BI-FAST sejalan dengan pertumbuhan transaksi ritel nasional yang dicatat Bank Indonesia. Berdasarkan data BI, transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST sepanjang 2025 mencapai Rp 11.995 triliun atau tumbuh 34,58 persen secara tahunan. Dari sisi volume, tercatat 4,77 miliar transaksi atau meningkat 39,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa BI-FAST semakin diterima luas sebagai tulang punggung sistem pembayaran ritel di Indonesia. Peran perbankan besar seperti BCA dinilai krusial dalam memastikan kelancaran dan keandalan sistem, mengingat besarnya jumlah transaksi yang diproses setiap hari.
Hera menilai, tingginya kontribusi BCA dalam transaksi BI-FAST mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap layanan digital perseroan. Selain itu, integrasi BI-FAST di berbagai kanal BCA turut mendorong peningkatan penggunaan, baik oleh nasabah ritel maupun korporasi.
Pengembangan Layanan Tahap Dua BI-FAST
Selain layanan transfer ritel, BI-FAST juga telah memasuki tahap pengembangan lanjutan. Pada layanan tahap dua, total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 9,55 triliun dengan volume hingga 151.000 transaksi.
Layanan ini mencakup transfer kolektif atau bulk credit transfer (BCT), pembayaran atas permintaan atau request for payment (RFP), serta transfer debit langsung atau direct debit transfer (DDT).
Hera menyampaikan bahwa BCA saat ini masih mencermati perkembangan implementasi layanan tahap dua tersebut. Di saat yang sama, perseroan terus memperkuat infrastruktur digital perbankan agar siap mengakomodasi peningkatan kebutuhan transaksi yang semakin kompleks.
Penguatan infrastruktur BI-FAST, termasuk pengembangan fitur BCT dan DDT, dinilai menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan transaksi, khususnya di segmen korporasi. Layanan ini memungkinkan perusahaan melakukan transaksi massal secara lebih efisien, sekaligus meningkatkan transparansi dan kecepatan proses pembayaran.
Hera optimistis, volume transaksi BI-FAST akan terus meningkat seiring semakin luasnya implementasi layanan tahap dua di berbagai kanal BCA.
“Kami berharap volume transaksi menggunakan BI Fast akan terus meningkat sejalan dengan diimplementasikannya sistem tersebut di sejumlah kanal BCA serta meningkatnya kebutuhan digitalisasi sistem pembayaran,” jelas Hera.
Dampak Terhadap Pendapatan Dan Strategi Ke Depan
Peningkatan transaksi BI-FAST tidak hanya berdampak pada volume aktivitas keuangan, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan berbasis komisi dan provisi atau fee-based income BCA. Transaksi digital yang efisien dan berbiaya rendah dinilai mampu mendorong peningkatan pendapatan nonbunga secara berkelanjutan.
Ke depan, BCA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem finansial digital. Upaya tersebut dilakukan melalui penyempurnaan dan modernisasi infrastruktur teknologi informasi, guna menjaga keandalan serta keamanan layanan transaksi digital.
Langkah penguatan infrastruktur ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah, baik individu maupun korporasi. Dengan sistem yang semakin andal, BCA berharap dapat terus mendorong pertumbuhan transaksi digital perbankan sekaligus mendukung agenda digitalisasi sistem pembayaran nasional.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang cepat dan praktis, peran BI-FAST diperkirakan akan semakin strategis. BCA melihat peluang besar untuk terus mengembangkan layanan berbasis sistem tersebut, selaras dengan transformasi digital yang tengah berlangsung di industri perbankan Indonesia.