Bioetanol Jadi Solusi Energi Unggulan Papua Masa Depan Nasional

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:56:10 WIB
Bioetanol Jadi Solusi Energi Unggulan Papua Masa Depan Nasional

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan komoditas pertanian di Papua yang memiliki potensi untuk mendukung energi terbarukan. 

Fokus utama adalah menanam tanaman seperti kelapa sawit, singkong, dan tebu, yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini sekaligus membuka peluang baru bagi Papua dalam kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa target produksi bahan baku bioetanol nasional dari berbagai sumber, termasuk Papua, bisa mencapai 300 ribu kiloliter (KL) per tahun. Salah satu sumber yang potensial adalah perkebunan sawit yang direncanakan dibangun di wilayah tersebut.

Pengembangan Bioetanol di Papua Masih Tahap Awal

Eniya menuturkan, meskipun Papua memiliki potensi besar, produksi bahan baku bioetanol di wilayah ini belum berjalan. Saat ini, proses masih difokuskan pada tahap pembibitan dan pengembangan tanaman yang akan digunakan sebagai sumber bioetanol.

"Kalau yang Papua itu, informasi yang disampaikan ke kami, targetnya adalah membuat 300 ribu kiloliter per tahun," ujar Eniya.

Menurutnya, pembibitan yang sedang berlangsung merupakan fondasi awal yang penting, namun masih dibutuhkan waktu untuk menghasilkan produksi yang optimal. 

"Tetapi kan bahan bakunya sekarang baru bibit, baru pembibitan yang diperbanyak, diperluas seperti itu, masih jauh sih. Kalau itu masih jauh," tambahnya.

Optimalisasi Sumber Bahan Baku di Luar Jawa

Selain Papua, pemerintah juga berupaya mengoptimalkan pasokan bahan baku bioetanol dari wilayah lain di luar Jawa. Langkah ini dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan bahan baku yang merata, sekaligus menekan biaya logistik yang tinggi jika produksi hanya terpusat di satu lokasi.

"Sumber di luar Jawa harus diperkuat, pabrik biotanol juga nanti harus banyak di luar Jawa. Karena kita menginginkan, nanti kan distribusi logistik segala macam itu sangat memakan biaya logistik tinggi. Nah pentahapannya itu ada di daerah yang ada sumbernya juga. Yang dimandatorikan itu di daerah yang ada sumbernya," jelas Eniya.

Pendekatan ini menunjukkan strategi pemerintah dalam membangun ekosistem bioetanol yang lebih efisien dan terdesentralisasi, dengan memperhatikan lokasi bahan baku dan kapasitas produksi di masing-masing daerah.

Komoditas Pertanian Sebagai Bahan Bakar Nabati

Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pemanfaatan komoditas pertanian untuk mendukung energi terbarukan, khususnya di Papua. Kelapa sawit menjadi salah satu fokus utama karena dapat diolah menjadi BBM nabati, sedangkan tebu dan singkong memiliki potensi untuk diolah menjadi etanol sebagai bahan bakar alternatif.

"Kita berharap di daerah Papua harus tanam kelapa sawit supaya bisa hasilkan BBM dari kelapa sawit. Dan juga tebu hasilkan etanol, singkong cassava bikin etanol," ungkap Prabowo.

Langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal melalui pengembangan pertanian dan industri bioetanol di Papua.

Mendorong Energi Terbarukan dan Ketahanan Nasional

Pengembangan bioetanol dari Papua dan wilayah lain di Indonesia menjadi bagian dari strategi lebih luas pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. 

Pemanfaatan komoditas lokal sebagai bahan baku bioetanol mendukung transisi energi terbarukan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dengan target 300 ribu KL per tahun dan rencana pembangunan pabrik di daerah penghasil bahan baku, pemerintah menunjukkan komitmen nyata untuk membangun ekosistem energi hijau yang terintegrasi. 

Selain itu, pengembangan bioetanol di luar Jawa diharapkan meminimalkan beban logistik dan membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri pengolahan bioetanol.

Pengembangan bioetanol juga sejalan dengan tren global yang mendorong pemanfaatan energi ramah lingkungan, mengurangi emisi karbon, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. 

Indonesia, dengan kekayaan alam dan lahan pertanian potensialnya, memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam produksi bioetanol regional.

Dengan fokus pada Papua dan wilayah penghasil bahan baku lain, pemerintah berharap produksi bioetanol dapat berjalan optimal dalam beberapa tahun ke depan. Strategi ini bukan hanya soal energi, tetapi juga tentang pemberdayaan wilayah, penciptaan lapangan kerja, dan kontribusi terhadap masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Terkini