Bank Indonesia Rilis Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025

Rabu, 28 Januari 2026 | 15:52:39 WIB
Bank Indonesia Rilis Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) untuk tahun 2025, yang menunjukkan hasil yang menggembirakan di tengah ketidakpastian global. 

Meskipun dunia masih menghadapi gejolak ekonomi dan geopolitik yang besar, perekonomian Indonesia tercatat mampu mempertahankan pertumbuhan yang stabil dan ketahanan yang cukup kuat.

 Gubernur BI Perry Warjiyo dalam laporan tersebut menyampaikan bahwa pencapaian ini menjadi bukti nyata sinergi antara kebijakan Bank Indonesia, pemerintah pusat, dan daerah, serta otoritas terkait.

Perekonomian Indonesia Menunjukkan Kinerja Positif

Bank Indonesia mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia pada tahun 2025 masih menunjukkan kinerja yang positif di tengah tantangan ekonomi global. 

Salah satu indikator utama adalah pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan stabilitas yang terjaga. Inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, sedangkan nilai tukar rupiah juga tetap terjaga dengan baik. 

Selain itu, stabilitas sistem keuangan juga tetap terpelihara, dengan kondisi permodalan perbankan yang kuat dan risiko kredit bermasalah yang rendah.

Perry Warjiyo menekankan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Salah satunya adalah bauran kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia pada tahun 2025, yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi juga menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia.

Langkah Kebijakan Bank Indonesia dalam Mendorong Pertumbuhan

Perry menjelaskan bahwa BI terus mengimplementasikan beberapa kebijakan utama yang menjadi pilar utama dalam mendukung kinerja perekonomian Indonesia. 

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah penurunan suku bunga kebijakan BI-Rate sebanyak lima kali pada 2025. Dengan penurunan total sebesar 125 basis points (bps), suku bunga ini mencapai level terendah sejak 2022, yang diharapkan bisa mendorong sektor-sektor ekonomi untuk berinvestasi lebih banyak.

Selain itu, Bank Indonesia juga mengedepankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang bertujuan untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah gejolak global yang terus berkembang. 

Ekspansi likuiditas moneter dilakukan untuk memperkuat transmisi penurunan suku bunga, meningkatkan likuiditas, dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Kebijakan Moneter yang Terfokus pada Sektor Prioritas

Tahun 2025 juga menandai penguatan kebijakan makroprudensial yang diterapkan oleh Bank Indonesia. 

Salah satu kebijakan utama yang mendapat perhatian adalah pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM) kepada perbankan, yang ditujukan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah. 

Sektor-sektor ini, seperti perumahan rakyat dan koperasi desa Merah Putih, diharapkan dapat memberikan dampak langsung kepada ekonomi kerakyatan yang mendukung pembangunan ekonomi Indonesia secara inklusif.

Dalam laporan tersebut, Bank Indonesia juga menyoroti keberhasilan digitalisasi sistem pembayaran yang semakin pesat. Transformasi digital ini turut berperan penting dalam menciptakan ekosistem ekonomi-keuangan digital yang lebih efisien, produktif, dan inklusif. 

Digitalisasi sistem pembayaran turut mempercepat transaksi dan memberikan kemudahan bagi masyarakat serta sektor bisnis di Indonesia.

Tantangan dan Pelajaran dari Tahun 2025

Meskipun pencapaian Indonesia pada 2025 sangat positif, Gubernur BI juga mengingatkan tentang pentingnya terus beradaptasi dengan tantangan global yang semakin besar. Perry menilai ada tiga pelajaran penting yang dapat dipetik dari kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2025. 

Pertama, kebijakan makroekonomi yang konsisten dan berhati-hati perlu terus dijaga. Bank Indonesia perlu mempertahankan stabilitas dan ketahanan ekonomi agar dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang.

Kedua, sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah pusat dan daerah, serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sangat penting. 

Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap potensi goncangan dari luar negeri, sekaligus meningkatkan efektivitas kebijakan yang diterapkan.

Ketiga, Perry menekankan pentingnya profesionalisme dalam perumusan kebijakan ekonomi. Kombinasi antara kepemimpinan yang kompeten, pengalaman yang kuat, dan nilai moral yang luhur (spiritual smart) menjadi prinsip dasar dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. 

Sejalan dengan itu, optimisme harus tetap dijaga, namun tetap dengan sikap hati-hati mengingat ketidakpastian global yang masih terus berlanjut.

Optimisme dan Kewaspadaan di Masa Depan

Menutup laporan tersebut, Gubernur BI mengungkapkan optimisme yang besar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang semakin baik di masa depan. 

Meskipun tantangan global tetap ada, Indonesia diharapkan mampu terus tumbuh dengan mempertahankan prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan. 

Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Perry, yaitu untuk tetap “Eling lan Waspodo” atau sadar dan berhati-hati di tengah gejolak dunia yang masih akan berlanjut.

Secara keseluruhan, meskipun kondisi ekonomi global penuh tantangan, Indonesia telah menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat pada 2025. 

Laporan Perekonomian Indonesia ini memberikan gambaran positif tentang masa depan ekonomi nasional, dengan sinergi kebijakan yang baik antara Bank Indonesia, pemerintah, dan sektor keuangan. Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap gejolak global tetap menjadi kunci agar Indonesia dapat mempertahankan dan memperbaiki pencapaian-pencapaian yang telah diraih.

Terkini